Dominasi ikan sapu-sapu di Jakarta menjadi pengingat keras akan bahaya spesies asing invasif. Namun, pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menekankan bahwa perhatian pemerintah tidak boleh berhenti pada pembersihan kanal-kanal Ibu Kota semata. Peneliti PRLSDA BRIN, Triyanto, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu hanyalah satu dari sekian banyak “penjajah” di ekosistem perairan darat Indonesia. Melalui Kelompok Riset Produktivitas Ekosistem Perairan Darat, BRIN telah memetakan keberadaan spesies-spesies tersebut.
**Ikan Sapu-sapu Hanya Satu dari Banyak Ancaman**
“Supaya masyarakat, pemerintah, dan para pemerhati lingkungan tidak hanya fokus di ikan sapu-sapu ya. Karena ikan sapu-sapu ini hanya salah satu contoh dari sekian ikan invasif yang sebenarnya sudah ada di Indonesia,” ujar Triyanto saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
**Temuan Mengejutkan dari Riset BRIN**
Berdasarkan publikasi ilmiah yang disusun oleh tim peneliti BRIN, tercatat ada total 50 jenis spesies asing yang masuk ke perairan Indonesia. Dari jumlah tersebut, 18 jenis di antaranya telah teridentifikasi memiliki sifat invasif—artinya mereka tidak hanya menetap, tetapi juga mendominasi dan merusak keseimbangan ekosistem lokal.
**Red Devil: Ancaman Serius di Danau Strategis**
Salah satu yang kini menjadi ancaman serius selain ikan sapu-sapu adalah ikan Red Devil. Spesies ini dilaporkan telah merusak populasi ikan lokal di lokasi-lokasi strategis.
“Kalau ikan lainnya mungkin sudah pernah mendengar istilah ikan Red Devil yang marak di Danau Toba, Waduk Jatiluhur, dan Waduk Cirata. Atau mungkin di perairan Indonesia yang lain seperti Danau Batur. Populasinya sudah juga meningkat di lokasi-lokasi tersebut,” jelas Triyanto.
**Masalah Nasional yang Membutuhkan Strategi Terpadu**
Triyanto menekankan bahwa keberadaan jenis asing invasif ini merupakan kasus yang sudah tersebar luas dan membutuhkan kebijakan pengendalian yang terintegrasi, bukan sekadar aksi seremonial di satu wilayah.
**Urgensi Pengendalian Populasi**
“Keberadaan ikan alien yang sifatnya invasif ini menurut kami harus segera diantisipasi atau dikendalikanlah populasinya. Jadi ikan sapu-sapu yang marak di Jakarta ini hanya salah satu bagian dari sudah adanya kasus terhadap penyebaran ikan invasif ini,” tambahnya.
**Momentum untuk Strategi Nasional**
Fenomena di Jakarta harus dijadikan momentum bagi pemerintah untuk menyusun strategi nasional pengendalian ikan invasif. Tanpa langkah antisipasi yang terukur, ikan-ikan lokal yang menjadi sumber ekonomi dan kearifan lokal masyarakat di berbagai danau serta waduk di Indonesia terancam punah akibat kalah bersaing dengan para pendatang asing ini.
**Dampak Ekonomi dan Sosial**
Kehadiran spesies invasif tidak hanya mengancam biodiversitas, tetapi juga mata pencaharian nelayan tradisional dan industri perikanan yang bergantung pada spesies lokal.
**Penyebaran Lintas Wilayah**
Data BRIN menunjukkan bahwa sebaran ikan invasif tidak terbatas pada satu pulau, melainkan telah menyebar ke berbagai wilayah strategis di Indonesia, termasuk destinasi wisata dan sumber air utama.
**Tantangan Identifikasi dan Monitoring**
Salah satu kendala utama dalam pengendalian adalah kurangnya sistem identifikasi dini dan monitoring berkelanjutan terhadap masuknya spesies baru ke perairan Indonesia.
**Kolaborasi Penelitian dan Kebijakan**
Diperlukan sinergi antara lembaga penelitian, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk membangun sistem peringatan dini dan respons cepat terhadap invasi spesies asing.
**Pembelajaran dari Kasus Global**
Pengalaman negara-negara lain menunjukkan bahwa pencegahan jauh lebih efektif dan ekonomis dibandingkan dengan upaya pengendalian setelah spesies invasif mengalami ledakan populasi.
**Edukasi dan Kesadaran Publik**
Peningkatan kesadaran masyarakat tentang bahaya spesies invasif menjadi kunci penting dalam mencegah penyebaran lebih luas melalui aktivitas perdagangan ikan hias dan transportasi.
**Rencana Aksi Jangka Panjang**
Pemerintah perlu segera menyusun rencana aksi nasional yang mencakup pencegahan, deteksi dini, respons cepat, dan pengelolaan jangka panjang spesies asing invasif di seluruh perairan Indonesia.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: