Bukan Sekadar Mistis, Pakar UGM Ungkap Anatomi Besi dan Baja pada Bilah Keris

Penetapan Hari Keris Nasional setiap tanggal 19 April bertujuan untuk memperkuat kedudukan keris sebagai salah satu dari 16 warisan budaya tak benda Indonesia. Langkah strategis ini juga menjadi upaya pemerintah untuk mendefinisikan ulang posisi keris di tengah masyarakat modern agar tidak lagi terjebak dalam narasi yang keliru atau eksklusif.

**Menghilangkan Stigma Negatif**

Kolektor keris sekaligus Akademisi FIB UGM, Abdul Jawat Nur, menekankan pentingnya literasi keris bagi semua kalangan. Ia menepis anggapan bahwa keris adalah benda yang menakutkan atau terbatas bagi kelompok tertentu saja.

“Keris bisa untuk semua orang. Bahkan, perempuan dahulu juga memiliki keris. Jangan sampai ada masyarakat yang dengan awam mengatakan bahwa keris itu haram. Keris merupakan budaya adiluhung, terdapat nilai seni, historis dan ekonomi. Kita harus lestarikan,” ungkap Jawat, dikutip dari laman UGM.

**Kecanggihan Teknologi Metalurgi Kuno**

Dari sudut pandang material, keris merupakan bukti kemajuan teknologi metalurgi nenek moyang Indonesia. Jawat menjelaskan bahwa identifikasi keris dapat ditinjau dari material penyusunnya yang biasanya terdiri atas perpaduan besi, baja, dan pamor.

**Komposisi Material yang Unik**

“Secara kasat mata kita bisa melihat. Jika warnanya agak abu-abu itu baja, sedangkan yang hitam pekat itu besi. Sementara itu, bahan pamornya dari meteorit,” jelas Jawat.

**Nilai Estetika dan Teknis**

Pamor atau pola dekoratif pada bilah keris yang berasal dari batuan meteorit ini memberikan nilai estetika sekaligus bukti kekuatan struktur bilah yang ditempa sedemikian rupa.

**Evolusi Fungsi dari Senjata ke Ageman**

Memasuki era modern, fungsi keris telah bertransformasi total. Jika dahulu keris diproduksi sebagai senjata perang jarak dekat—bahkan pernah dibuat sepanjang 1 meter untuk melawan pedang Belanda—kini keris lebih berfungsi sebagai ageman atau benda yang memberikan sugesti positif bagi pemakainya.

**Penyesuaian dengan Profesi**

Sebagai ageman, jenis keris disesuaikan dengan profesi pemiliknya. Jawat mencontohkan penggunaan keris Pandawa Cinarito oleh para dalang.

“Para dalang menggunakan keris Pandawa Cinarito, karena dipercaya mempunyai fungsi untuk melancarkan seseorang berbicara,” tegasnya.

**Panduan Mencegah Penipuan**

Terkait maraknya klaim mistis berlebihan dan kasus penipuan, Jawat memberikan panduan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih berhati-hati. Memahami pakem, seperti jumlah luk (lekukan) yang maksimal berjumlah 13 untuk standar lama, adalah langkah awal yang penting.

**Waspada Cerita Berlebihan**

Ia berpesan agar publik tidak mudah terkecoh oleh cerita-cerita yang tidak masuk akal, terutama yang bertujuan menaikkan harga jual secara tidak wajar.

**Sumber Pembelian Terpercaya**

“Jangan begitu saja percaya dengan cerita-cerita yang aneh. Terlebih harganya yang dijual murah. Tidak mungkin sebuah keris, yang terdapat emas dan berlian, dijual seharga Rp 500.000. Baiknya beli ke kolektor keris saja, atau memesan langsung ke empu,” pungkas Jawat.

**Pentingnya Edukasi Berkelanjutan**

Dengan peringatan Hari Keris Nasional ini, diharapkan literasi mengenai senjata tradisional ini semakin kuat, menjaga autentisitasnya dari praktik replikasi yang tidak bertanggung jawab, sekaligus merawat warisan dunia ini agar tetap relevan bagi masa depan.

**Generasi Muda dan Pelestarian**

Peran generasi muda dalam memahami dan melestarikan keris menjadi kunci keberlanjutan warisan budaya ini. Edukasi yang tepat dapat mencegah kesalahpahaman dan menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

**Industri Kreatif dan Keris**

Keris juga berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari industri kreatif Indonesia, mulai dari seni rupa, fashion, hingga pariwisata budaya yang dapat memberikan dampak ekonomi positif.

**Tantangan Era Digital**

Di era digital, penyebaran informasi yang akurat tentang keris menjadi tantangan tersendiri. Media sosial dapat menjadi sarana edukasi sekaligus ancaman penyebaran hoaks tentang keris.

**Kolaborasi Lintas Institusi**

Pelestarian keris membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, kolektor, empu, dan masyarakat untuk memastikan warisan budaya ini terus hidup dan berkembang sesuai zamannya.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Budaya Massa, Agama, dan Wanita

Cegah Stunting Sebelum Genting

Masyarakat Adat dan Kedaulatan Pangan