Mengapa Kepiting Berjalan Menyamping? Ilmuwan Ungkap Evolusi 200 Juta Tahun Lalu

Mayoritas hewan di Bumi bergerak ke arah depan, namun kepiting memilih cara yang berbeda dengan berjalan menyamping atau miring dengan presisi yang khas. Selama ini, alasan di balik gerakan tersebut menjadi misteri besar.

Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal eLife berhasil mengungkap bahwa kemampuan berjalan miring ini bukan sekadar kebetulan, melainkan inovasi evolusi tunggal yang muncul sekitar 200 juta tahun lalu dan menjadi kunci kesuksesan ekologis mereka hingga kini.

**Inovasi Pasca-Kepunahan Massal**

Riset terbaru menunjukkan bahwa perilaku ini bermula dari nenek moyang kepiting sejati (true crabs) yang dulunya berjalan maju, sesaat setelah kepunahan massal periode Trias-Jura.

Tim peneliti melakukan observasi terhadap 50 spesies kepiting di lingkungan yang menyerupai habitat aslinya. Hasilnya, 35 spesies diklasifikasikan sebagai kepiting pejalan miring, sementara 15 lainnya ternyata masih mempertahankan kemampuan berjalan maju.

**Kontribusi Signifikan terhadap Kesuksesan Ekologis**

Salah satu penulis senior studi ini, Yuuki Kawabata, menjelaskan dampak besar dari perubahan gerakan ini terhadap populasi kepiting dunia.

“Lokomosi samping (berjalan miring) mungkin telah berkontribusi secara signifikan terhadap keberhasilan ekologis kepiting sejati,” ujar Kawabata dalam keterangan resminya, dikutip Discover Magazine.

**Strategi Bertahan Hidup dari Predator**

Meskipun terlihat membatasi, berjalan miring memberikan keunggulan taktis yang luar biasa. Cara ini memungkinkan kepiting bergerak cepat ke arah mana pun secara instan tanpa harus mengubah posisi tubuh.

Bagi hewan yang sering menjadi mangsa, kemampuan untuk berpindah arah tanpa ancang-ancang adalah kunci bertahan hidup yang krusial.

**Diversitas Spesies yang Mengagumkan**

Fleksibilitas inilah yang kemungkinan besar membuat kepiting sangat sukses. Saat ini, terdapat hampir 8.000 spesies kepiting yang hidup di berbagai lingkungan, mulai dari laut dalam, air tawar, hingga daratan.

**Berbeda dengan Fenomena Karsinisasi**

Namun, Kawabata mencatat bahwa evolusi ini berbeda dengan fenomena “karsinisasi” (carcinization), yakni kecenderungan banyak spesies krustasea untuk berevolusi memiliki bentuk tubuh mirip kepiting secara berulang kali.

“Peristiwa tunggal (evolusi jalan miring) ini sangat kontras dengan karsinisasi, yang terjadi berulang kali pada berbagai spesies dekapoda,” jelas Kawabata.

**Hambatan dalam Aktivitas Sehari-hari**

Meski sukses, jalan miring bukan tanpa hambatan. Gerakan ini dapat menyulitkan aktivitas seperti menggali lubang, mencari makan, hingga proses perkawinan. Inilah alasan mengapa cara berjalan seperti ini sangat jarang ditemukan pada kelompok hewan lain.

**Timing Evolusi yang Strategis**

Waktu kemunculan inovasi ini juga memegang peranan penting. Munculnya kemampuan jalan miring bertepatan dengan masa ketika benua-benua mulai terpisah dan laut dangkal semakin meluas.

Di lanskap yang terus berubah tersebut, keuntungan kecil dalam pergerakan bisa menjadi penentu antara kepunahan atau keberhasilan.

**Penelitian Lanjutan Diperlukan**

Meski demikian, para ilmuwan masih terus melakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan sejauh mana faktor lingkungan memengaruhi diversifikasi ini.

“Untuk mengurai peran relatif inovasi dan perubahan lingkungan, kami memerlukan analisis lebih lanjut mengenai diversifikasi yang bergantung pada sifat, garis waktu dari fosil, serta uji kinerja yang menghubungkan gerakan miring kepiting sejati dengan keuntungan adaptif,” pungkas Kawabata.

**Bukti Kekuatan Adaptasi Evolusioner**

Penemuan ini menjadi bukti kuat bagaimana satu perubahan kecil pada cara bergerak sebuah spesies dapat bertahan selama ratusan juta tahun dan mendefinisikan identitas seluruh kelompok hewan tersebut di alam liar.

**Implikasi untuk Studi Biomimetiika**

Temuan ini juga berpotensi menginspirasi pengembangan robot dengan kemampuan manuver yang lebih baik, terutama untuk aplikasi di lingkungan yang membutuhkan pergerakan cepat multiarah.

**Kontribusi terhadap Pemahaman Evolusi**

Studi ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana inovasi evolusioner tunggal dapat menghasilkan keberhasilan ekologis jangka panjang yang luar biasa.

**Metodologi Penelitian Komprehensif**

Pendekatan observasi langsung terhadap 50 spesies dalam lingkungan semi-alami menunjukkan pentingnya studi perilaku dalam memahami adaptasi evolusioner.

**Relevansi dengan Perubahan Iklim**

Kemampuan adaptasi kepiting ini menjadi pembelajaran berharga tentang bagaimana spesies dapat bertahan menghadapi perubahan lingkungan drastis sepanjang sejarah geologi Bumi.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri Sastra Dunia: Daerah Salju

Seri Sastra Dunia: Rumah Perawan

50/50 Belajar Inovasi untuk Menang