Perubahan iklim yang dipicu fenomena El Nino kini menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekosistem di Indonesia. Selain memicu krisis air bagi manusia, kemarau berkepanjangan ini mulai mengganggu habitat satwa liar secara ekstrem. Para ahli memperingatkan bahwa kondisi lingkungan yang semakin kering memaksa berbagai spesies keluar dari hutan, sehingga meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa.
**Kekeringan Pukul Kebutuhan Dasar Satwa**
Penurunan curah hujan yang signifikan akibat El Nino telah memicu kemarau panjang di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini menciptakan efek domino yang merusak tatanan kehidupan di dalam hutan.
Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Dr Abdul Haris Mustari, menjelaskan bahwa kenaikan suhu dan kekeringan secara langsung memukul ketersediaan kebutuhan dasar satwa.
“Secara langsung, peningkatan suhu lingkungan dan kekeringan menyebabkan berkurangnya ketersediaan pakan dan air bagi satwa liar,” ujarnya dikutip dari laman IPB University.
**Migrasi Paksa dan Konflik Terbuka**
Keringnya sumber air dan turunnya produktivitas tumbuhan pakan—seperti buah-buahan dan dedaunan—membuat satwa liar tidak memiliki pilihan lain selain bermigrasi. Wilayah jelajah yang biasanya terbatas di dalam hutan, kini meluas hingga ke area perkebunan dan permukiman warga.
“Satwa dapat keluar dari habitat hutan menuju area perkebunan bahkan permukiman manusia untuk mencari makan dan air. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar,” terang Dr Mustari.
**Rantai Makanan Terguncang**
Ancaman kebakaran hutan yang sering menyertai kemarau panjang memperburuk situasi. Api bukan hanya menghancurkan tempat tinggal satwa, tetapi juga memutus rantai makanan dan menghentikan proses regenerasi hutan alami, seperti penyebaran biji oleh hewan.
“Ketika rantai makanan terganggu dan regenerasi hutan terhambat, maka keseimbangan ekosistem akan ikut terguncang,” jelasnya. Ia menekankan bahwa gangguan ini bisa berdampak jangka panjang terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati Indonesia.
**Langkah Mitigasi Tanpa Kekerasan**
Menghadapi meningkatnya interaksi satwa dengan manusia, masyarakat diimbau untuk tetap tenang. Dr Mustari menyarankan agar warga segera melapor kepada pihak berwenang, seperti aparat setempat atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), daripada mengambil tindakan sendiri yang berisiko.
Dalam situasi darurat, satwa dapat diusir secara aman menggunakan alat sederhana tanpa harus melukai apalagi membunuhnya.
Sebagai solusi jangka panjang, kolaborasi antara pemerintah dan tokoh lokal menjadi kunci untuk mencegah kerusakan hutan lebih lanjut. Menurut Dr Mustari, menjaga hutan berarti menjaga kehidupan secara keseluruhan.
Ia mengingatkan bahwa manusia dan satwa berada dalam satu jaring kehidupan yang saling terikat. Kepunahan satu spesies akibat rusaknya habitat dapat memicu hilangnya keseimbangan yang pada akhirnya juga akan merugikan manusia.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: