Harga daging wagyu asli Jepang bisa mencapai minimal 200 dolar AS per kilogram. Angka fantastis ini bukan tanpa alasan; proses pemeliharaan yang ketat, genetik murni, hingga sistem grading resmi A5 menjadi alasan mengapa daging ini hampir mustahil ditiru oleh negara lain.
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara wagyu asli Jepang dengan wagyu yang diproduksi di negara lain, meskipun keduanya menggunakan nama yang sama.
**Wagyu “Lokal” di Luar Jepang**
Banyak restoran di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Indonesia, menyajikan menu wagyu. Namun, Prof Ronny menjelaskan bahwa sebagian besar daging tersebut bukanlah hasil impor langsung dari Jepang, melainkan hasil pemeliharaan lokal.
Di luar Jepang, daging wagyu umumnya berasal dari sapi hasil persilangan, biasanya antara sapi wagyu (50 persen) dan sapi angus (50 persen). Selain faktor genetik yang tidak murni, proses pemeliharaannya pun tidak seketat standar di Jepang.
“Di Amerika, sistem penilaian daging berbeda dari Jepang, menggunakan standar USDA Prime/Choice tanpa spesifikasi wagyu. Sapi wagyu di Amerika lebih ‘berdaging’ dibandingkan di Jepang,” jelas Prof Ronny, dikutip laman IPB University.
**Marbling, Keunggulan Utama**
Keunggulan utama wagyu asli Jepang terletak pada marbling atau kandungan lemak intramuskular yang sangat tinggi. Lemak ini akan meleleh saat dipanggang sebentar, memberikan sensasi aroma dan rasa yang tidak bisa ditemukan pada daging biasa.
Untuk menjaga kualitas ini, Jepang menerapkan sistem penilaian yang sangat ketat:
– **Yield Grade**: Skala A–C
– **Quality Grade**: Skala 1–5
– **Beef Marbling Standard (BMS)**: Skala 1–12
Daging dengan grade A5 dan skor BMS 10–12 merupakan kasta tertinggi dalam dunia wagyu.
“Daging wagyu Jepang asli harganya sangat mahal, minimal 200 dolar AS (sekitar Rp 3,2 juta) per kg untuk steak,” tambah Prof Ronny.
**Produsen Wagyu Global**
Saat ini, Australia menjadi produsen wagyu terbesar di luar Jepang dengan kontribusi sekitar 18 persen dari total global. Posisi ini diikuti oleh Amerika Serikat dan Selandia Baru. Negara lain seperti Kanada, Inggris, hingga Singapura juga mulai memproduksi wagyu melalui metode persilangan.
**Cara Identifikasi Wagyu Asli**
Agar konsumen tidak membayar harga mahal untuk produk yang tidak sesuai klaim, Prof Ronny membagikan tips untuk mengidentifikasi wagyu Jepang yang otentik. Cara utamanya adalah dengan memeriksa sertifikat resmi dari Japan Meat Grading Association (JMGA).
Sertifikat resmi tersebut harus mencantumkan:
– Nomor identifikasi sapi (10 digit yang dapat melacak hingga ke peternakan asal)
– Asal prefektur (seperti Hyogo, Miyazaki, atau Kagoshima)
– Grade daging (A3–A5) dan skor BMS
**Waspada Label Menyesatkan**
Prof Ronny juga mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap istilah pemasaran yang mengecoh.
“Label ‘A5’ hanya sah jika daging benar-benar dinilai di Jepang. Jadi, istilah ‘A5 style’ atau ‘Kobe style’ di luar Jepang hanya untuk marketing sekaligus menandakan bahwa itu tidak berasal dari Jepang,” tegasnya.
Ia berharap konsumen lebih teliti dan tidak mudah tergiur klaim “palsu” yang menggunakan kata-kata seperti style atau inspired. Pastikan membeli dari distributor resmi dan selalu periksa keaslian sertifikatnya.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: