Selama bertahun-tahun, angka dua jam dalam maraton dianggap seperti tembok yang tak kasat mata. Para ilmuwan olahraga menyebutnya batas fisiologis manusia. Seorang peneliti dari Monash University, Simon Angus, bahkan memprediksi bahwa tembok itu baru akan runtuh sekitar tahun 2032.
Namun pada 26 April 2026 pagi di London, seorang pelari Kenya bernama Sabastian Kimaru Sawe berlari melewatinya — enam tahun lebih awal dari prediksi. Waktu resmi yang ia catatkan adalah 1:59:30. Rekor dunia baru. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang atletik manusia, sub-dua jam maraton tercatat dalam kompetisi terbuka yang sah.
**Dari Desa Tanah Liat ke Panggung Dunia**
Sabastian Sawe lahir pada 16 Maret 1995 di Barsombe, sebuah desa kecil di Uasin Gishu County, Kenya — kawasan Rift Valley yang seolah memang diciptakan untuk melahirkan pelari kelas dunia. Ayahnya seorang petani jagung. Ia lebih banyak dibesarkan oleh neneknya, di rumah berdinding tanah liat tanpa listrik.
Di St. Patrick’s High School di Iten — kota kecil yang kerap disebut “ibu kota pelari dunia” — Sawe mulai mengasah bakatnya. Ia awalnya berfokus pada lari jarak menengah, bukan maraton. Namun cedera ruptur tendon sekitar 2020, ditambah pandemi COVID-19, sempat membuat kariernya hampir kandas.
Yang menyelamatkannya adalah jaringan keluarga. Pamannya, Abraham Chepkirwok — mantan pemegang rekor nasional Uganda untuk 800 meter — menghubungkannya dengan pelatih Italia bernama Claudio Berardelli, yang mengelola kelompok latihan 2Running Club.
Terobosan pertamanya datang pada 2022, ketika ia diundang sebagai pacemaker di half marathon Seville — di mana ia justru menang dengan course record 59:02. Dari sana, kariernya menanjak cepat: debut maraton di Valencia pada Desember 2024 dengan catatan 2:02:05, juara London Marathon 2025, juara Berlin Marathon 2025, sebelum akhirnya mengukir namanya dalam sejarah di London 2026.
**Program Latihan Ekstrem**
Ketika orang bertanya bagaimana seseorang bisa berlari 42 kilometer dalam waktu kurang dari dua jam, jawaban Sawe bukan soal bakat semata. Jawabannya ada pada program latihan yang terdengar seperti sesuatu yang bisa menghancurkan tubuh orang biasa.
Dalam enam minggu terakhir menjelang London 2026, Sawe rata-rata berlari lebih dari 200 kilometer per minggu. Di puncaknya, ia mencapai 241 kilometer dalam tujuh hari.
Berardelli merancang siklus latihan 10 hari yang terstruktur ketat: dimulai dengan long run progresif antara 25 hingga 40 kilometer, dilanjutkan dengan hari-hari double session, sesi fartlek dan interval, latihan tanjakan sebanyak 12 hingga 25 repetisi, dan diselingi oleh lari pemulihan. Tidak ada hari “santai” yang benar-benar santai.
**Nutrisi yang Diperhitungkan Sampai Gram**
Lari maraton di bawah dua jam bukan hanya soal kaki dan paru-paru. Ini juga soal bagaimana tubuh mengelola bahan bakarnya selama hampir dua jam tanpa henti.
Tim ilmu olahraga di balik Sawe menetapkan target asupan karbohidrat sebesar 115 gram per jam selama perlombaan — angka yang sangat tinggi bahkan untuk standar atlet elite. Total targetnya: 230 gram karbohidrat sepanjang race.
Untuk mencapai itu tanpa gangguan pencernaan, Sawe menjalani program “gut training” — melatih usus untuk menyerap karbohidrat dalam jumlah besar tanpa protes. Produk yang ia gunakan adalah gel dan minuman dari Maurten dengan teknologi Hydrogel.
**Sepatu Seringan Sabun**
Ada satu elemen lagi yang tidak bisa diabaikan: sepatu yang dikenakan Sawe. Adidas Adizero Adios Pro Evo 3 beratnya hanya 97 gram — lebih ringan dari sebatang sabun mandi.
Sepatu ini adalah super shoe pertama dalam sejarah yang menembus batas di bawah 100 gram, 30 persen lebih ringan dari generasi pendahulunya. Di dalam sol tipisnya tersimpan dua teknologi utama: pelat karbon yang kaku, dan busa foam berperforma tinggi yang sangat responsif.
Pelat karbon bekerja seperti pegas — menyerap energi saat kaki mendarat dan mengembalikannya sebagai dorongan ke depan. Kombinasi ini diklaim meningkatkan efisiensi berlari sebesar 1,6 persen.
**Persaingan Teknologi Super Shoe**
Revolusi super shoe dimulai dari Nike sekitar 2016–2017 dengan Vaporfly 4%. Pada 2019, Eliud Kipchoge membuat sejarah dengan berlari 1:59:40 di Vienna dalam event khusus INEOS 1:59 Challenge, menggunakan prototipe Nike Alphafly.
Namun World Athletics tidak mengakuinya sebagai rekor dunia resmi — sebab event tersebut bukan kompetisi terbuka. Kipchoge berlari dengan panduan 41 pacer yang mendampingi bergantian, bantuan hidrasi dari sepeda, serta laser pacing di jalur.
London 2026 adalah momen di mana Adidas membuktikan bahwa inovasi mereka bukan sekadar klaim. Ketika Sawe melewati garis finis dengan catatan waktu 1:59:30 — rekor dunia pertama sub-dua jam yang sah dalam kompetisi resmi — itu bukan hanya kemenangan seorang pelari, tetapi juga kemenangan teknologi Adidas.
**Bukti Keberihan dari Doping**
Di balik semua angka, ada satu hal yang sulit dimasukkan dalam catatan ilmiah: karakter Sawe sendiri. Dalam dua bulan menjelang London 2026, ia secara sukarela menjalani 25 kali tes doping di luar kompetisi. Ini bukan kewajiban, melainkan pilihan — cara seorang atlet berkata kepada dunia bahwa prestasinya tidak perlu diragukan.
**Era Baru Dimulai**
Di London 2026, selain Sawe, Yomif Kejelcha finis dalam 1:59:41 dan Jacob Kiplimo dalam 2:00:28. Tiga pelari dalam satu lomba yang sama melampaui rekor dunia lama milik Kelvin Kiptum (2:00:35 dari Chicago 2023).
Pelatihnya, Berardelli, percaya bahwa Sawe bahkan belum mencapai puncak kemampuannya. Ia meyakini bahwa di lintasan yang lebih datar dan lebih cepat seperti Berlin atau Chicago, Sawe bisa berlari lebih cepat dari 1:59.
Sabastian Sawe bukan hanya memecahkan re
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: