Dalam kehidupan modern, siklus tujuh hari dalam seminggu seolah menjadi hukum alam yang tak terbantahkan. Namun, tahukah Anda bahwa angka tujuh sebenarnya bukanlah pilihan yang jelas secara matematis maupun astronomis?
Berbeda dengan “tahun” yang mengikuti siklus musim atau “bulan” yang mengikuti fase bulan purnama, durasi satu minggu merupakan murni hasil konstruksi budaya dan sejarah manusia yang cukup rumit.
**Jejak dari Peradaban Babilonia**
Dikutip IFLScience, akar dari tujuh hari dalam seminggu dapat ditarik kembali ke peradaban Babilonia kuno. Meskipun sulit membagi 30 hari dalam satu bulan menjadi tujuh hari yang pas, orang Babilonia tetap merayakan hari ketujuh yang disebut sapattu. Istilah ini memiliki kemiripan linguistik dengan “Sabat” dalam tradisi Yahudi.
Bukti paling kokoh mengenai standarisasi ini tertuang dalam kisah penciptaan di Kitab Kejadian, di mana dunia diciptakan dalam enam hari dan Tuhan beristirahat pada hari ketujuh (shabbat). Melalui penyebaran agama Kristen dan Kekaisaran Romawi ke Barat, serta pengaruh Islam ke Timur, konsep tujuh hari ini akhirnya diadopsi secara luas oleh dunia modern.
**Beragam Sistem “Minggu” di Masa Lalu**
Sebelum sistem tujuh hari mendominasi, berbagai peradaban besar memiliki hitungan “minggu” yang sangat beragam:
– **Tiongkok Kuno**: Pernah menggunakan sistem 10 hari dalam seminggu. Dalam sejarahnya, astronom Tiongkok bahkan mencatat lebih dari 100 jenis kalender yang berbeda.
– **Suku Maya dan Aztek**: Mengenal siklus 13 hari yang disebut trecenas.
– **Jawa**: Memiliki siklus lima hari (Pasaran).
– **Romawi Kuno**: Sebelum memeluk Kristen, mereka menggunakan siklus delapan hari yang disebut nundinum.
– **Mesir Kuno dan Stonehenge**: Menggunakan pembagian 10 hari (sistem desimal) untuk membagi satu bulan.
Bahkan, kalender Bali dikenal memiliki keunikan luar biasa karena menjalankan 10 jenis mingguan dengan panjang hari yang berbeda secara bersamaan.
**Eksperimen Revolusi Perancis yang Gagal**
Upaya untuk mengubah siklus tujuh hari pernah terjadi secara radikal saat Revolusi Perancis pada tahun 1790-an. Pemerintah Perancis saat itu mencoba memperkenalkan “Kalender Republik Prancis” yang berbasis desimal.
Dalam sistem tersebut, satu bulan dibagi menjadi tiga minggu, yang masing-masing terdiri dari 10 hari. Mereka bahkan mencoba mendesimalisasi jam: satu hari dibagi menjadi 10 jam, satu jam menjadi 100 menit, dan satu menit menjadi 100 detik.
Namun, sistem ini terbukti sangat tidak populer dan membingungkan karena tidak selaras dengan kalender dunia lainnya. Akhirnya, eksperimen ini ditinggalkan setelah berjalan kurang dari tujuh bulan, dan dunia kembali ke sistem tujuh hari.
**Mengapa Tujuh Hari Bertahan?**
Meskipun angka tujuh adalah bilangan prima yang sulit membagi 30 (hari dalam bulan) atau 365 (hari dalam tahun) secara rapi, angka ini tetap bertahan karena faktor tradisi dan agama yang sangat kuat.
Siklus ini telah mendarah daging dalam sistem kerja, ekonomi, dan ibadah global. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda dunia akan beralih ke sistem lain, setidaknya sampai manusia mungkin mulai beralih ke penanggalan bintang di masa depan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Seri Nat Geo: Mengapa Tidak? 1.111 Jawaban Beraneka Pertanyaan