Tim peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengungkap bukti fisik aktivitas tektonik dan vulkanik zaman Kuarter di kawasan Lingkar Timur Kuningan, Jawa Barat. Penemuan ini memberikan perspektif baru mengenai sejarah gempa bumi dan erupsi Gunung Ciremai di masa lampau.
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan analisis geokronologi serta pemetaan LiDAR (Light Detection and Ranging) presisi tinggi untuk melihat fitur permukaan bumi tanpa terhalang vegetasi.
**Menguak Misteri dari Endapan Vulkanik**
Ketua tim penelitian sekaligus Peneliti Ahli Muda PRKG BRIN, Sonny Aribowo, mengatakan riset ini dilatarbelakangi minimnya data pentarikhan umur untuk endapan gunung api di Pulau Jawa. Padahal, informasi tersebut sangat vital untuk memetakan risiko bencana.
“Endapan gunungapi yang terganggu oleh patahan, dapat bercerita tentang sejarah masa lalu dan perulangan gempabumi,” ujar Sonny dalam keterangannya, Selasa (28/4/2026).
Melalui metode carbon dating pada jalur Lingkar Timur Kuningan, tim menemukan anomali geologi yang menarik. Ditemukan lapisan tanah berusia 22.000 tahun yang berada di atas lapisan berusia 20.000 tahun. Secara geologis, ini merupakan indikasi kuat adanya aktivitas sesar naik (thrusting) yang terjadi setelah periode 20.000 tahun lalu.
**Bukti Gempa Besar Era Prasejarah**
Selain sesar naik, tim peneliti juga menemukan bukti sesar normal pada endapan yang berusia sekitar 16.000 tahun. Sonny menyebutkan bahwa hal ini mengindikasikan adanya fase penyeimbangan sedimen atau kemungkinan jejak kejadian gempa bumi besar pada periode tersebut.
Penggunaan data LiDAR memperkuat temuan ini dengan menunjukkan adanya kemiringan lapisan (tilting) dan patahan (faulting) yang sangat jelas pada morfologi lahan di kaki Gunung Ciremai.
“Data radiokarbon dan LiDAR ini memberikan pembaruan penting terhadap kronologi erupsi Gunung Ciremai. Temuan ini menunjukkan bahwa fase deformasi tektonik di wilayah Kuningan berlangsung beriringan dengan sejarah vulkanisme gunung tersebut,” kata Sonny.
**Karakteristik Material Erupsi Berbeda**
Riset ini juga berhasil mengidentifikasi karakteristik material erupsi. Endapan distal (jauh) Gunung Ciremai tergolong sebagai sedimen vulkanik basaltik dengan kandungan besi tinggi. Sementara itu, area proksimal (dekat puncak) didominasi oleh batuan andesit basaltik.
Data geokimia ini membantu para peneliti menelusuri asal-usul material serta arah aliran erupsi purba. Salah satunya, ditemukan bukti adanya letusan besar pada periode sekitar 15.000 tahun yang lalu.
Integrasi antara data erupsi eksplosif dan data sesar aktif ini diharapkan dapat menjadi fondasi dalam penyusunan tata ruang permukiman yang lebih aman di Kuningan.
“Harapannya, semakin banyak data umur batuan yang terganggu oleh aktivitas tektonik, maka periode perulangan dan sejarah kegempaan dapat diketahui dengan lebih baik. Dengan demikian, potensi bahaya gempa dan vulkanik dapat dievaluasi secara lebih baik untuk mendukung pembangunan di masa depan,” tutup Sonny.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Perencanaan Pembangunan, Keuangan, dan Transisi Energi Daerah