Jauh sebelum tren gaya hidup mewah melanda dunia modern, seorang pria di Aberdeen, Skotlandia, sudah memamerkan kekayaannya melalui senyuman. Para arkeolog baru-baru ini mengungkap penemuan jembatan gigi tertua di Skotlandia yang terbuat dari paduan emas 20 karat.
Jembatan gigi adalah gigi tiruan permanen yang digunakan untuk menggantikan satu atau lebih gigi yang hilang, dengan memanfaatkan gigi asli di sisi kanan-kiri celah sebagai penopang.
Artefak ini ditemukan di area East Kirk of St. Nicholas. Penemuan ini bukan sekadar bukti kemajuan ilmu kedokteran gigi kuno, tetapi juga simbol status sosial yang mencolok pada masanya.
**Prosedur Medis Era Abad Pertengahan**
Meskipun teknik penyambungan gigi menggunakan kawat perak atau emas sudah ada sejak zaman Mesir Kuno (sekitar 2.500 SM), prosedur ini baru menyebar luas di Eropa pada Abad Pertengahan.
Yang menarik, pada masa itu perawatan gigi bukanlah tugas dokter atau ahli bedah. Tim arkeolog dari University of Aberdeen menjelaskan dalam studi yang diterbitkan di British Dental Journal bahwa profesi tukang cukurlah yang memegang peran tersebut.
“Selama Abad Pertengahan, gigi sering kali dirawat oleh tukang cukur rambut, atau dentatores, yang merupakan seorang spesialis di bidang gigi,” tulis para peneliti dikutip Popsci.
**Profil Pemilik Kemewahan di Mulut**
Melalui analisis spektroskopi sinar-X, mikroskop elektron, dan penanggalan radiokarbon, tim peneliti berhasil menyusun profil pemilik gigi emas ini. Jenazah tersebut diyakini sebagai seorang pria paruh baya yang wafat di Aberdeen antara tahun 1460 hingga 1670.
Bukti medis menunjukkan bahwa jembatan gigi tersebut telah terpasang lama sebelum kematiannya. Penggunaan emas 20 karat mengindikasikan bahwa pria ini tidak hanya kaya raya, tetapi juga memiliki koneksi luas dalam komunitasnya.
Di masa itu, terdapat sekitar 22 perajin emas di area Aberdeen. Para perajin inilah yang diduga memiliki keterampilan teknis untuk membuat dan mengikat kawat emas tersebut dengan sangat presisi di dalam mulut pasien.
**Kecantikan sebagai Refleksi Moral**
Alasan pria ini memasang jembatan gigi emas bukan sekadar untuk fungsi mengunyah, melainkan terkait erat dengan standar kecantikan dan moralitas pada Abad Pertengahan akhir.
“Penampilan seseorang dan kesehatan yang dirasakan dikaitkan dengan dosa seseorang,” jelas tim peneliti. “Oleh karena itu, pentingnya senyum secara sosial mendorong mereka yang mampu untuk mencari perawatan tersebut.”
Dengan kata lain, gigi yang ompong atau rusak sering kali dianggap sebagai cerminan karakter yang buruk atau adanya dosa. Hal ini memotivasi kaum elit untuk memperbaiki penampilan mereka guna mempertahankan martabat di mata publik.
Penemuan ini menjadi bukti sejarah pertama di Skotlandia mengenai bagaimana manusia sejak ratusan tahun lalu telah menyeimbangkan hubungan rumit antara kekayaan, standar kecantikan, dan kesehatan pribadi.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: