Burung kareo padi (Amaurornis phoenicurus) atau yang lebih populer dikenal sebagai burung ruak-ruak, ternyata menyimpan potensi besar sebagai bahan pangan fungsional. Daging burung ini telah lama menjadi kuliner legendaris, terutama di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara.
Riset terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini berhasil mengungkap alasan ilmiah di balik cita rasa gurih yang membuat kuliner ini begitu diburu oleh wisatawan maupun masyarakat lokal.
**Kandungan Asam Glutamat Tinggi**
Peneliti dari Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Widya Pintaka Bayu Putra, mengungkapkan bahwa daging burung kareo padi memiliki profil nutrisi yang sangat menarik. Salah satu temuan utamanya adalah tingginya kandungan asam glutamat.
Asam glutamat adalah asam amino yang bertanggung jawab menciptakan rasa gurih (umami) alami pada makanan tanpa perlu banyak tambahan penyedap rasa.
“Tingginya kandungan asam glutamat dan asam lemak tertentu ini memberikan gambaran mengapa daging burung kareo padi memiliki cita rasa khas dan diminati secara luas,” ujar Bayu dalam pemaparan ilmiah di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Kamis (7/5/2026).
**Komposisi Asam Lemak Lebih Superior**
Dalam penelitiannya, Bayu membandingkan kualitas daging kareo padi dengan spesies unggas lain seperti ayam, burung puyuh, pheasant (ayam pegar), hingga partridge. Hasilnya, daging ruak-ruak memiliki keunggulan pada komposisi asam lemak tertentu.
Berdasarkan uji sampel, terdeteksi 33 jenis asam lemak pada daging ini. Komposisi asam lemak palmitic dan Saturated Fatty Acid (SFA) pada kareo padi tercatat sebagai yang paling tinggi dibandingkan spesies avifauna lainnya.
“Komposisi asam lemak antara lain palmitic, stearic, elaidic, dan linoleic menunjukkan angka yang sangat tinggi,” terang doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.
**Prospek Pengembangan Industri Pangan**
Selain asam lemak, kandungan glutamat pada daging burung kareo padi tercatat sebesar 0,48 persen. Temuan ini memperkuat posisi burung ruak-ruak bukan sekadar sebagai burung liar, melainkan aset sumber daya genetik yang potensial untuk dikembangkan dalam industri peternakan dan kuliner tradisional.
Dengan profil nutrisi yang superior, burung kareo padi berpeluang besar untuk dijadikan bahan pangan fungsional yang memberikan manfaat kesehatan sekaligus memanjakan lidah para pecinta kuliner nusantara.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: