Permukaan berkerut seperti wafer, terasa hangat dan sedikit membal saat diinjak untuk pertama kalinya. Itulah karet crepe, salah satu material sol sepatu paling tua sekaligus relevan hingga hari ini.
Jauh sebelum bahan sintetis mendominasi rak toko sepatu, pohon-pohon karet di Asia Tenggara sudah menyumbangkan getahnya untuk menjadi alas kaki yang nyaman. Semuanya bermula dari pohon Hevea brasiliensis, spesies karet Brasil yang kini tumbuh meluas di perkebunan Malaysia, Indonesia, dan Thailand.
**Proses Penyadapan hingga Jadi Sol**
Pohon ini menghasilkan lateks — cairan putih pekat yang mengalir keluar begitu kulitnya disayat. Proses penyadapan karet biasanya dilakukan dini hari, saat tekanan turgor pohon sedang tinggi, mengumpulkan tetes demi tetes lateks ke dalam mangkuk kecil.
Tantangannya: lateks segar sangat mudah rusak. Dalam 6 hingga 12 jam, mikroorganisme alami akan mengubahnya menjadi gumpalan yang tidak berguna. Karena itu, bahan pengawet seperti amonia segera ditambahkan sebelum lateks diangkut ke pabrik.
Inovasi yang lebih baru menggunakan amonia kadar rendah (LATZ — Low Ammonia Treated Latex), yang tidak hanya lebih ramah bagi pekerja pabrik, tetapi juga mengurangi beban pengolahan limbah.
Di pabrik, lateks disaring dari kotoran, distandarkan kadar karet keringnya, lalu dicampur dengan asam format atau asam asetat. Reaksi kimia sederhana ini memicu lateks menggumpal menjadi blok padat yang disebut koagulum.
Koagulum kemudian dimasukkan ke dalam serangkaian mesin penggilas yang disebut creping battery. Mesin-mesin ini menekan, memeras, dan menggulung karet berulang kali sambil dialiri air bersih untuk mencuci sisa protein dan zat non-karet.
Hasilnya adalah lembaran tipis dengan tekstur keriput khas — itulah sebabnya material ini disebut “crepe”, dari kata Prancis untuk sesuatu yang berkerut atau bergelombang.
**Keunggulan dan Kelemahan Sol Crepe**
Material ini bukan sekadar karet biasa yang dicetak. Proses penggilingan berulang menciptakan struktur mikro berpori yang memberinya karakter unik — terasa seperti ada bantalan udara di dalam sol itu sendiri.
Saat dipakai berjalan, sol crepe bereaksi seperti pegas kecil: menyerap benturan dengan lembut, lalu memantulkan kaki ke langkah berikutnya. Bobotnya pun mengejutkan — meski tebal, sol crepe jauh lebih ringan dari sol karet solid.
Dari sisi lingkungan, crepe mendapat nilai plus karena berasal dari sumber terbarukan dan bersifat biodegradable. Namun, permukaannya yang berpori mudah menyerap debu dan pigmen jalan, membuat sol yang awalnya krem terang berubah warna menjadi abu-abu kecoklatan.
**Jejak Militer hingga Budaya Hip-Hop**
Ada ironi menarik dalam sejarah crepe: material yang identik dengan estetika kasual ini pertama kali populer di medan perang. Tentara Inggris di Afrika Utara selama Perang Dunia II membutuhkan alas kaki yang ringan namun bisa mencengkeram pasir dan kerikil gurun dengan baik.
Tidak ada cerita tentang sol crepe yang lengkap tanpa menyebut Clarks Wallabee. Sepatu ini lahir sekitar 1967-1968, terinspirasi dari alas kaki Jerman bernama Grasshopper.
Ketika pertama kali diluncurkan, masyarakat Inggris tidak tertarik. Clarks akhirnya mengalihkan fokus ke Amerika Utara, di mana Wallabee langsung dianggap cocok dengan gelombang counterculture tahun 1960-an.
Popularitas terbesarnya justru datang dari Jamaika, di mana Wallabee menjadi favorit komunitas Rude Boy karena sol crepe-nya yang tidak berbunyi saat melangkah. Dari Jamaika, pengaruhnya menyebar ke New York, dan pada 1990-an sepatu ini sudah tertanam dalam budaya hip-hop Amerika.
**Masih Relevan di Era Modern**
Hari ini Wallabee masih ada, masih relevan, dan masih menggunakan sol crepe. Sepatu ini sudah melampaui kategori “sepatu” dan masuk ke wilayah artefak budaya.
Amanda Vanya, Brand Merchandising Manager Clarks Indonesia, menyebutkan bahwa Wallabee telah menjadi bagian dari berbagai komunitas di dunia. Material yang berasal dari pohon, diolah dengan tangan, dan membaik seiring pemakaian ini terasa hidup ketika dibawa masuk ke dalam cerita penggunanya.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Seri Nat Geo: Mengapa Tidak? 1.111 Jawaban Beraneka Pertanyaan