Berdasarkan hasil pencarian, artikel ini sepertinya merujuk pada kejadian yang masih akan datang (2026). Namun saya akan menulis ulang artikel sesuai permintaan dengan menjaga fakta medis tentang hantavirus:
**UGM Bahas Risiko Hantavirus Strain Andes yang Mampu Menular Antarmanusia**
Kasus hantavirus kembali mencuri perhatian dunia menyusul laporan wabah di sebuah kapal pesiar yang berlayar dari Argentina menuju Eropa. Meskipun hantavirus bukan ancaman baru, munculnya strain Andes yang memiliki kemampuan penularan antarmanusia memicu diskusi mendalam di kalangan pakar kesehatan.
Menanggapi fenomena ini, Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar diskusi pakar untuk membedah karakteristik virus, risiko pandemi, hingga manifestasi klinis yang perlu diwaspadai masyarakat.
**Strain Andes: Unik karena Menular Antarmanusia**
Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, dr. Riris Andono Ahmad MPH, PhD, menjelaskan bahwa strain Andes yang dominan di Amerika Selatan berbeda dengan hantavirus pada umumnya. Virus ini menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang berpotensi fatal.
“Penyebab dari hantavirus ini adalah strain Andes. Dia mampu menyebabkan sindrom paru-paru sehingga dapat menular antarmanusia melalui droplet,” kata Riris.
Meski demikian, Riris menekankan bahwa mekanismenya tidak semudah Covid-19. Penularan antarmanusia pada strain Andes memerlukan kontak erat dalam waktu yang lama. Inilah alasan mengapa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai risiko pandemi global dari wabah kapal pesiar ini masih tergolong rendah.
**Perbedaan HPS (Amerika) dan HFRS (Asia)**
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUP Sardjito, dr. Alindina Anjani, Sp.PD, memaparkan bahwa hantavirus terbagi dalam dua sindrom utama yang berbeda secara geografis dan gejala:
**Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)**: Dominan di Amerika Utara dan Selatan. Menyerang paru-paru dan sistem kardiovaskular, memicu sesak napas berat, hingga gagal napas. Angka kematiannya cukup tinggi, yakni 30-40 persen.
**Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)**: Lebih banyak ditemukan di Asia dan Eropa. Target utamanya adalah organ ginjal, dengan gejala berupa demam tinggi, gangguan fungsi ginjal, hingga perdarahan.
“Yang terjadi di kapal pesiar itu adalah HPS, sementara yang populer di Asia adalah HFRS. Karena keduanya berbeda, maka reservoir atau jenis tikusnya pun berbeda, meski cara penularan primernya hampir sama,” jelas Alindina.
**Waspada Gejala Menyerupai Infeksi Tropis Lain**
Salah satu tantangan dalam menghadapi hantavirus, terutama jenis HFRS di Asia, adalah gejalanya yang sering menyerupai penyakit infeksi tropis lainnya. Alindina mengingatkan tenaga kesehatan untuk cermat melakukan diagnosis banding.
Manifestasi klinis hantavirus sering mirip dengan demam berdarah dengue (DBD), leptospirosis, malaria, hingga sepsis. Kewaspadaan harus ditingkatkan terutama jika pasien memiliki riwayat interaksi dengan tikus atau berada di lingkungan dengan sanitasi buruk.
**Pencegahan dan Kelompok Berisiko**
Sebagai penyakit zoonosis, faktor keberadaan tikus menjadi kunci utama. Kelompok yang paling berisiko adalah pekerja gudang, petani, pekerja kehutanan, hingga mereka yang gemar berkemah.
Langkah pencegahan yang disarankan meliputi:
– Menjaga kebersihan tangan dan lingkungan dari infestasi tikus
– Menggunakan alat pelindung diri (APD) bagi mereka yang bekerja di area berisiko
– Menjaga jarak dan isolasi bagi individu yang terinfeksi guna memutus rantai penularan sekunder
Melalui edukasi ini, FK-KMK UGM berharap masyarakat tidak panik namun tetap waspada terhadap ancaman penyakit zoonosis yang sewaktu-waktu dapat muncul kembali.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: