Saat Sampah Antariksa Terbakar di Atmosfer Bumi dari Luar Angkasa, Mirip Hujan Cahaya

Berdasarkan hasil pencarian, artikel ini membahas peristiwa nyata yang diabadikan astronaut NASA. Berikut penulisan ulang artikel:

**Astronaut NASA Abadikan Momen Langka Roket Rusia Hancur di Atmosfer Bumi**

Sebuah pemandangan spektakuler yang tidak pernah dapat disaksikan manusia sebelum abad terakhir baru saja terekam dari luar angkasa: kilauan cahaya cemerlang dari roket Rusia atau puing buatan manusia yang hancur berkeping-keping saat menembus atmosfer Bumi.

Astronaut NASA, Chris Williams, berhasil mengabadikan momen langka ketika sebuah roket Rusia atau debris antariksa tak dikenal menerobos atmosfer Bumi, pecah berkeping-keping, dan menghasilkan hujan cahaya benderang di langit malam.

Momen tersebut diabadikan Williams dari jendela kubah Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) saat stasiun laboratorium itu sedang melintas di atas wilayah Afrika Barat pada 27 April lalu.

“Saya melihat bagian ekornya memanjang lalu terpecah menjadi pancaran serpihan yang lebih kecil. Itu benar-benar sebuah pertunjukan cahaya yang luar biasa!” tulis Williams dalam unggahannya di media sosial.

**Diduga Sisa Roket Pendorong Kargo Rusia**

Dalam rilis resmi di blognya, NASA menjelaskan bahwa objek menyala yang disaksikan astronaut tersebut kemungkinan besar merupakan sisa roket pendorong yang meluncurkan kapal kargo penyuplai milik Rusia, Progress 95 (atau Progress MS-34). Kapal kargo itu sendiri telah bersandar dengan aman di ISS beberapa jam sebelum pemandangan tersebut terjadi.

Meski demikian, pihak NASA tidak menutup kemungkinan lain. Objek tersebut bisa saja merupakan satelit tua yang mati, fragmen roket lain, bongkahan sampah antariksa acak, atau bahkan meteor alami yang terbakar saat memasuki Bumi.

**Bumi Dikepung 9.000 Ton Sampah Logam**

Orbit Bumi saat ini jauh lebih padat dan kotor daripada yang dibayangkan kebanyakan orang. Berdasarkan data pelacakan antariksa, planet kita saat ini dikepung oleh sekitar 25.000 keping sampah berukuran lebih besar dari 10 sentimeter, ditambah jutaan serpihan kecil lainnya yang tidak bisa terlacak.

Jika ditotal, ada sekitar 9.000 metrik ton logam dan rongsokan yang mengapung di atas kepala kita.

Ketinggian (altitudo) memegang peran kunci seberapa lama sampah antariksa ini akan bertahan di luar angkasa sebelum jatuh:
– Di bawah 600 kilometer: Objek biasanya akan jatuh kembali dan tertarik gravitasi Bumi dalam beberapa tahun.
– Di atas 800 kilometer: Puing-puing dapat bertahan dan terus melayang hingga hitungan abad.
– Di atas 1.000 kilometer: Sampah antariksa akan terus mengitari Bumi hingga satu milenium atau lebih.

Secara desain, komponen roket sekali pakai memang dirancang untuk sengaja dijatuhkan agar habis terbakar tanpa sisa akibat gaya gesek atmosfer yang ekstrem.

**Risiko Jatuh ke Daratan Kian Meningkat**

Kendati mayoritas sampah habis menguap di langit, para ilmuwan memperingatkan bahwa material wahana antariksa modern saat ini dibuat semakin kuat dan tahan panas demi faktor keselamatan peluncuran. Efek sampingnya, material yang terlalu tangguh ini justru meningkatkan risiko adanya serpihan sisa yang gagal terbakar dan berhasil lolos mencapai daratan padat.

NASA mengestimasi rata-rata ada satu serpihan sampah antariksa yang jatuh kembali ke Bumi setiap harinya dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Hingga detik ini, secara resmi baru ada satu orang di dunia yang tercatat pernah terhantam serpihan sampah antariksa dan untungnya tidak terluka parah.

**Jakarta Masuk Zona Risiko Tertinggi**

Seiring masifnya perlombaan peluncuran satelit komersial global, peluang bahaya ini terus merangkak naik. Sebuah studi yang dirilis pada 2022 memprediksi ada kemungkinan sebesar 10 persen bahwa sampah antariksa yang jatuh tak terkendali akan memicu korban jiwa manusia dalam waktu 10 tahun ke depan.

Menariknya, risiko bahaya terbesar justru mengintai penduduk yang hidup di wilayah belahan Bumi bagian selatan. Berdasarkan perhitungan matematis koordinat peluncuran, sisa-sisa badan roket memiliki peluang tiga kali lebih tinggi untuk jatuh dan menghantam wilayah pada garis lintang kota-kota besar seperti Jakarta, Dhaka (Bangladesh), dan Lagos (Nigeria), ketimbang kota di bagian utara seperti New York, Beijing, atau Moskow.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri Klasik Semasa Kecil: Prim & Prim-3, Petualangan di Luar Angkasa