Provinsi Jawa Barat tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tertinggi di Indonesia pada tahun 2023. Menanggapi kondisi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitian khusus untuk memetakan bagaimana penyakit pernapasan ini menyebar berdasarkan ruang dan waktu.
Melalui Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN, penelitian ini memanfaatkan pendekatan analitik yang disebut “spasio-temporal”. Metode ini mampu melihat variasi wilayah (spasial) sekaligus perubahan waktu (temporal) secara bersamaan untuk melacak pergerakan penyakit dengan lebih presisi.
“Pendekatan spasio-temporal memungkinkan identifikasi pola musiman dan wilayah dengan risiko tinggi secara lebih akurat, sehingga mendukung pengambilan kebijakan kesehatan yang lebih responsif,” jelas Irfan Asfy Fakhry, Peneliti PRSDI BRIN, dalam forum diskusi Pekanan Internal PRSDI, Rabu (20/5/2026).
**Daftar Wilayah dan Bulan dengan Risiko Tertinggi**
Berdasarkan pemetaan risiko yang dilakukan tim peneliti, ancaman ISPA di Jawa Barat tidak terjadi secara merata, melainkan memuncak di wilayah tertentu pada bulan-bulan spesifik.
Berikut wilayah di Jawa Barat dengan tingkat risiko relatif tertinggi pada periode 2023:
Juni: Kabupaten Ciamis mulai menunjukkan kenaikan risiko signifikan.
Juli: Kabupaten Sumedang mencatat tingkat risiko relatif tertinggi.
Agustus: Kabupaten Bandung menjadi wilayah paling rawan.
September: Kabupaten Subang mencatat nilai Standardized Incidence Ratio (SIR) tertinggi dibanding wilayah lain.
**Polusi Udara Jadi Pemicu Utama**
Hasil penelitian menegaskan bahwa faktor lingkungan memegang peranan sangat besar terhadap kesehatan paru-paru masyarakat. Faktor-faktor seperti suhu, kelembapan, curah hujan, radiasi matahari, serta kadar polutan di udara terbukti memengaruhi kecepatan penyebaran penyakit ISPA.
Secara khusus, tim riset menemukan bahwa polutan kimia berupa belerang dioksida (SO2) dan ozon permukaan (O3) memiliki pengaruh positif yang signifikan. Artinya, semakin tinggi kandungan kedua zat polutan tersebut di udara, semakin melonjak pula jumlah kasus ISPA di tengah masyarakat.
Sebaliknya, faktor suhu menunjukkan pengaruh negatif, di mana penurunan suhu udara atau kondisi yang lebih dingin cenderung berkaitan dengan peningkatan kasus penyakit pernapasan ini.
“Temuan ini menegaskan kualitas udara dan kondisi iklim berperan penting dalam peningkatan risiko ISPA di Jawa Barat,” tegas Irfan.
**Racikan Teknologi: BPJS, Satelit NASA, hingga Pemodelan Matematika**
Untuk mendapatkan hasil akurat, riset ini mengintegrasikan berbagai sumber data besar (big data). Tim peneliti mengolah data kasus ISPA tahun 2023 dari BPJS Kesehatan yang disaring berdasarkan kode penyakit internasional (ICD-10) untuk kategori ISPA (J00–J06).
Data kesehatan tersebut kemudian dikombinasikan dengan data kondisi lingkungan serta kualitas udara yang dipantau langsung dari ruang angkasa menggunakan satelit NASA GES DISC.
Semua data dianalisis menggunakan pemodelan statistik Bayesian berbasis distribusi Negative Binomial dengan pendekatan Integrated Nested Laplace Approximation (INLA). Tim menguji empat konfigurasi rumus matematika berbeda (BYM1–RW1, BYM1–RW2, BYM2–RW1, dan BYM2–RW2) untuk mencari model paling akurat dalam memetakan risiko di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.
Dari uji coba tersebut, konfigurasi model bernama BYM2–RW2 keluar sebagai model terbaik karena terbukti paling optimal dan memiliki tingkat ketepatan prediksi paling tinggi.
Penelitian ini merupakan kolaborasi antara peneliti senior BRIN dengan talenta muda Indonesia. Riset dikerjakan bersama mahasiswa S1 Universitas Pertahanan RI yang tergabung dalam program Magang Riset BRIN pada 2025.
Karya ilmiah mereka telah resmi dipublikasikan dan dipresentasikan dalam ajang International Conference on Computer, Control, Informatics and its Applications yang berlangsung di Jakarta pada 2025.
Berkat model ini, pemerintah daerah diharapkan dapat mengambil kebijakan pencegahan kesehatan yang lebih cepat sebelum bulan-bulan rawan ISPA tiba.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Kanker: Biografi Suatu Penyakit (The Emperor of All Maladies)