Pegunungan Himalaya memiliki peran jauh lebih besar daripada sekadar menjadi puncak tertinggi dunia. Kawasan tangkapan es ini bertindak sebagai waduk raksasa yang menyimpan dan menyalurkan air ke beberapa sungai paling penting di benua Asia, menjadi sumber kehidupan bagi hampir 2 miliar orang.
Namun, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 14 Mei 2026 membawa kabar mengkhawatirkan. Sistem penyimpanan air beku raksasa tersebut kini dilaporkan semakin tidak stabil seiring memanasnya iklim bumi.
Dengan menganalisis citra satelit dan pengamatan langsung dari tahun 1980 hingga 2020, para peneliti menemukan sungai-sungai di Himalaya bergeser dan mengubah jalurnya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Kondisi ini terjadi akibat melelehnya gletser dan mencairnya tanah yang selama ini membeku.
Perubahan drastis ini membuat aliran sungai menjadi sangat sulit diprediksi, sekaligus melipatgandakan risiko banjir bandang, erosi, hingga kerusakan fatal pada jalan, jembatan, lahan pertanian, dan pemukiman warga di tepi sungai.
**Suhu Naik Dua Kali Lipat Lebih Cepat**
Sejak tahun 1980-an, suhu di kawasan Himalaya tercatat mendaki hampir dua kali lipat lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata kenaikan suhu global. Pemanasan ekstrem ini mengubah total cara air dan sedimen bergerak melintasi pegunungan.
Volume air lelehan gletser yang melimpah memberikan energi hantaman jauh lebih besar pada arus sungai. Di saat yang sama, suhu panas melunakkan tanah beku di sepanjang tebing sungai, melemahkan struktur alaminya, dan membuatnya sangat mudah runtuh sehingga tidak mampu lagi menjaga aliran sungai tetap pada jalurnya.
Untuk mengukur seberapa parah kerusakan ini, Profesor Chengshan Wang dan Dr. Zhongpeng Han dari China University of Geosciences, Beijing, bekerja sama dengan Dr. Lin Zhipeng dari Sichuan University. Mereka melacak perubahan pada tiga daerah aliran sungai utama di Himalaya selama kurun waktu 40 tahun.
“Kawasan tinggi Himalaya menonjol sebagai wilayah di mana pemanasan iklim dan migrasi jalur sungai berinteraksi dengan sangat kuat,” jelas Dr. Han mengenai alasan pemilihan lokasi studi tersebut.
**Catatan Perubahan Selama Empat Dekade**
Tim peneliti mengamati sebanyak 1.079 kelokan sungai di sepanjang 1.582 kilometer jalur sungai yang mengalir melewati area tanah beku. Kelokan-kelokan ini sebagian besar dapat bergerak bebas tanpa terhalang oleh bentang alam batuan keras di sekitarnya.
Para peneliti mengukur seberapa jauh kelokan sungai tersebut berpindah tempat, serta mencatat fenomena alam lainnya seperti:
– Cutoffs: Kondisi ketika sungai mengikis jalur baru yang lebih pendek dan meninggalkan kelokan lama hingga membentuk danau tapal kuda.
– Avulsions: Aliran sungai yang secara mendadak berpindah total ke jalur yang benar-benar baru.
– Perubahan pola jaringan sungai: Berubahnya bentuk sungai tunggal menjadi jaringan sungai yang saling bercabang dan terhubung dengan rumit.
Hasil analisis menunjukkan angka mengejutkan. Selama periode studi 40 tahun, kecepatan pergeseran sungai secara keseluruhan melonjak hingga 33 persen. Bahkan, jumlah kelokan sungai yang bergerak bebas tanpa kendali meningkat drastis hingga hampir 97 persen.
Peristiwa pemutusan jalur dan perpindahan aliran tiba-tiba juga menjadi pemandangan yang semakin umum terjadi.
**Lebih Rentan Dibanding Wilayah Kutub**
Ada satu temuan unik yang membedakan dampak pemanasan global di Himalaya dengan wilayah Arktik. Di daerah Arktik, meskipun tanah beku melunak, keberadaan vegetasi yang cukup lebat di sekitarnya sangat membantu mengikat tanah tebing sungai sehingga pergeseran jalur bisa dihambat.
Sebaliknya, kondisi vegetasi di dataran tinggi Himalaya sangat jarang. Akibatnya, ketika tanah beku penyusun tebing sungai mulai mencair, tanah tersebut langsung telanjang tanpa pelindung, membuatnya sangat rentan mengalami pengikisan, longsor, dan runtuh seketika saat dihantam arus air.
Para peneliti memperingatkan bahwa percepatan pergerakan sungai ini bukan sekadar masalah geografi, melainkan ancaman nyata bagi ketahanan air dan keselamatan miliaran jiwa.
“Bagi miliaran orang yang menggantungkan hidupnya pada sumber air Himalaya, percepatan dinamika sungai yang didokumentasikan dalam studi kami membawa implikasi serius terhadap keamanan air, bahaya terkait sedimen, dan stabilitas infrastruktur di sepanjang tepi sungai,” tegas Prof. Chengshan Wang.
Melalui temuan penting ini, para ilmuwan mendesak pemerintah dan pemangku kebijakan di Asia untuk segera memasukkan faktor pergeseran sungai akibat perubahan iklim ke dalam perencanaan tata ruang jangka panjang, khususnya dalam manajemen air, pembangunan infrastruktur publik, dan sistem kendali banjir di masa depan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Kembali ke Kampung Adat: Meniti Jalan Perubahan di Tanah Papua