Bumi menyimpan jurang-jurang tersembunyi yang jauh lebih dalam dari yang bisa kita bayangkan. Bukan di dasar laut, bukan di kawah gunung berapi—melainkan di dalam perut batu kapur, jauh di bawah pegunungan terpencil di kawasan Kaukasus. Di situlah dua gua terdalam di dunia berada. Dan keduanya, secara mengejutkan, terletak di pegunungan yang sama.
**Dua Gua, Satu Perebutan Gelar**
Veryovkina dan Krubera-Voronya—dua nama yang mungkin belum pernah Anda dengar—adalah gua-gua batu kapur yang terletak di Abkhazia, sebuah republik otonom di wilayah Georgia. Keduanya menembus lebih dari 2.000 meter ke dalam perut bumi, dan keduanya berdiri di pegunungan yang sama: Gagra Range, tepatnya di kawasan yang dikenal sebagai Arabika Massif.
Saat ini, Veryovkina unggul tipis dengan kedalaman 2.212 meter (sekitar 1,37 mil), sementara Krubera-Voronya berada di posisi kedua dengan kedalaman 2.199 meter. Namun gelar “terdalam” ini tidak permanen.
Menurut Paul Burger, ahli geologi dan hidrolog regional dari National Park Service Alaska yang juga memelihara daftar resmi gua-gua terdalam dunia, pengukuran kedua gua ini terus diperbarui oleh para penjelajah.
“Kedua gua ini sering dilaporkan dengan kesalahan vertikal plus/minus puluhan kaki, sehingga posisi pertama dan kedua bisa bervariasi tergantung bagaimana data tersebut diinterpretasikan,” kata Burger.
**Kenapa Begitu Dalam?**
Jawabannya ada pada geologi kawasan ini yang sangat unik. Arabika Massif adalah lanskap karst—jenis bentang alam yang terbentuk dari batuan yang mudah larut seperti batu kapur. Batu kapur di kawasan ini terbentuk pada periode Jura Akhir hingga Kapur Awal, atau sekitar 163 hingga 100 juta tahun lalu.
Seiring waktu, lapisan-lapisan batu kapur ini tertekan oleh gaya tektonik hingga berdiri hampir vertikal.
Hazel Barton, ahli mikrobiologi dan geologi dari University of Alabama, menjelaskan proses ini dengan analogi sederhana. “Bayangkan semua lapisan itu seperti sandwich BLT,” katanya. “Ketika sandwich itu dibalikkan secara vertikal, air yang masuk akan selalu mencari jalan termudah ke bawah.”
Air merembes melalui retakan-retakan batu, turun terus hingga mencapai muka air tanah. “Di bawah sana pada dasarnya ada bak mandi raksasa,” kata Barton.
Kemiringan batu kapur yang hampir vertikal itulah yang membuat air bisa terus menggali jalur yang sangat dalam. “Lapisan batu kapur telah miring hampir vertikal, sehingga jalur termudah bagi air adalah langsung ke bawah. Anda juga memiliki dataran tinggi yang luas yang bisa mengumpulkan air, yang membantu mendorongnya ke satu arah atau lainnya,” jelas Barton.
**Makhluk Hidup di Kegelapan Abadi**
Di kedalaman yang dingin, gelap, dan lembap ini—dengan suhu rata-rata hanya 2 hingga 3 derajat Celsius sepanjang tahun—kehidupan tetap ada. Tetapi untuk bertahan, makhluk-makhluk ini harus berevolusi secara radikal.
Ana Sofia Reboleira, ahli ekologi bawah tanah dari University of Lisbon, Portugal, menjelaskan bahwa semakin dalam sebuah gua, semakin sedikit nutrisi yang tersedia. “Hewan-hewan harus memperlambat metabolisme mereka agar bisa bertahan lama tanpa makan,” katanya.
Sebagai gantinya, mereka justru hidup lebih lama. Ciri fisik mereka pun berubah drastis: tidak ada pigmen, tidak ada mata, namun memiliki antena panjang dan rambut-rambut halus yang membantu mereka bergerak dan mendeteksi getaran udara di kegelapan total.
Salah satu penghuni terdalam yang pernah ditemukan adalah sejenis serangga tak bersayap bernama Plutomurus ortobalaganensis—sejenis springtail atau kutu tanah yang ditemukan oleh Reboleira dan koleganya dalam ekspedisi 2010 ke Krubera, pada kedalaman sekitar 1.980 meter di bawah permukaan. Makhluk mungil ini memakan jamur dan bahan organik yang membusuk.
Hingga kini, 16 tahun setelah penemuannya, ia masih memegang rekor sebagai hewan darat yang hidup paling dalam yang pernah diketahui manusia.
Di kedalaman yang lebih ekstrem lagi, mikroba-mikroba bawah tanah bertahan dengan cara yang sama sekali berbeda dari makhluk hidup pada umumnya. Mereka menggunakan proses metabolisme bernama chemolithoautotrophy—kemampuan untuk mendapatkan energi dengan mengoksidasi batuan di sekitar mereka dan mengubahnya menjadi makanan, seperti yang dijelaskan Barton.
**Lebih dari Sekadar Lubang di Tanah**
Gua-gua ini bukan sekadar objek wisata ekstrem atau tantangan bagi para penjelajah pemberani. Mereka adalah bagian dari sistem ekologi yang menopang kehidupan di permukaan bumi.
Gua-gua memurnikan air dengan menyaringnya melalui lapisan-lapisan batuan, berperan penting dalam siklus nutrisi, dan menjaga siklus karbon dengan menyimpan karbon di dalam batu serta menampung organisme yang mengubah karbon dioksida menjadi bahan organik.
“Ekosistem bawah tanah sangat vital dan strategis untuk memastikan kehidupan di Bumi,” kata Reboleira.
Dan untuk memahami semua itu, para ilmuwan harus terus turun ke bawah—lebih dalam, lebih jauh, ke tempat yang belum pernah disentuh cahaya matahari. “Gua-gua adalah jendela menuju dimensi dunia bawah tanah yang sangat luas,” kata Reboleira.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: