Peta Gempa Jawa Belum Lengkap, Ilmuwan BRIN Ungkap Sesar Aktif yang Masih Jadi Misteri

Selama ini, banyak orang menganggap bagian utara Jawa—termasuk Jakarta dan sekitarnya—relatif lebih aman dari ancaman gempa besar dibandingkan wilayah selatan yang berhadapan langsung dengan zona subduksi. Anggapan itu, menurut para ilmuwan, perlu dikoreksi. Di bawah permukaan tanah yang kita pijak setiap hari, tersembunyi jaringan sesar aktif yang karakternya belum sepenuhnya kita pahami.

**Peta Gempa Jawa Belum Lengkap**

Prof. Danny Hilman Natawidjaja, Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, menegaskan bahwa pemahaman ilmu pengetahuan tentang sumber-sumber gempa di Pulau Jawa masih menyimpan banyak celah.

“Pengetahuan kita mengenai sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian. Ada sejumlah sesar yang sudah diketahui, namun karakteristik pentingnya seperti laju pergeseran, segmentasi, hingga magnitudo maksimum masih belum sepenuhnya dipahami,” ujarnya dalam workshop yang diselenggarakan oleh Geoscience Australia bersama sejumlah lembaga pemerintah Indonesia di Gedung B.J. Habibie, Jakarta.

Jawa, jelasnya, memiliki sistem sumber gempa yang jauh lebih kompleks dari yang selama ini dipahami masyarakat umum. Selain zona subduksi atau megathrust di selatan Jawa yang sudah banyak dikenal, terdapat pula berbagai sesar aktif di daratan yang sama-sama berpotensi memicu gempa merusak.

**Ancaman yang Membentang dari Jakarta hingga Surabaya**

Salah satu struktur geologi yang paling mengkhawatirkan adalah Java Back-Arc Thrust—sebuah sesar naik besar yang membentang dari wilayah Jakarta hingga Surabaya, tepat di bawah kawasan padat penduduk di pantura Jawa. Keberadaan sesar ini, menurut Danny, berkontribusi terhadap tingkat bahaya gempa di bagian utara Jawa yang selama ini kerap dianggap relatif lebih aman.

Artinya, ancaman gempa bukan hanya datang dari selatan—ia juga mengintai dari bawah kota-kota besar di utara.

Peta bahaya gempa yang digunakan saat ini pun tidak bersifat final. Peta tersebut terus diperbarui seiring munculnya temuan-temuan baru. Sebagai contoh, tim BRIN baru-baru ini melakukan pemetaan rinci di kawasan sekitar Gunung Ciremai dan menghasilkan informasi baru tentang keberadaan sesar aktif serta perubahan segmentasi pada beberapa struktur patahan yang sebelumnya sudah diketahui.

“Setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman kita mengenai sumber gempa. Dampaknya mungkin tidak terlalu besar pada skala regional, tetapi dapat signifikan bagi penilaian bahaya di tingkat lokal,” jelas Danny.

**Bukan Hanya Guncangan: Bahaya yang Sering Terlupakan**

Ketika berbicara soal gempa bumi, kebanyakan orang langsung membayangkan guncangan tanah yang merobohkan bangunan. Padahal, sesar aktif menyimpan sejumlah bahaya turunan yang tak kalah berbahaya: rekahan permukaan tanah, longsor, likuefaksi, hingga tsunami lokal.

Danny secara khusus menyoroti bahaya rekahan permukaan—kondisi di mana tanah di atas jalur sesar benar-benar terbelah dan bergeser saat gempa terjadi. Ancaman ini kerap luput dari perhatian dalam perencanaan pembangunan infrastruktur.

“Bangunan dapat dirancang agar lebih tahan terhadap guncangan gempa, namun sangat sulit merancang struktur yang mampu bertahan terhadap pergeseran permukaan tanah hingga beberapa meter akibat pergerakan sesar,” katanya.

Ini bukan masalah kecil. Jalan tol, jalur kereta api, bendungan, pipa energi, dan berbagai fasilitas publik lainnya bisa mengalami kerusakan serius—bahkan lumpuh total—jika dibangun tepat di atas jalur sesar aktif.

**Indonesia Tertinggal dalam Kebijakan Zona Sesar**

Sejumlah negara yang rawan gempa seperti Jepang, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Taiwan telah lama menerapkan kebijakan pembatasan pembangunan di zona sesar aktif. Kawasan di atas jalur sesar dilarang atau dibatasi untuk dibangun infrastruktur kritis.

Di Indonesia, kebijakan serupa belum berjalan optimal. Hambatan utamanya adalah keterbatasan data: kita belum memiliki peta sesar aktif yang cukup detail dan komprehensif untuk bisa dijadikan dasar regulasi pembangunan di seluruh wilayah Jawa.

Inilah yang mendorong BRIN terus memperluas dan memperbarui basis data kebumian Indonesia. Karena tanpa data yang baik, kebijakan mitigasi bencana yang efektif sulit untuk disusun.

**Risiko adalah Persamaan dengan Tiga Variabel**

Danny menekankan bahwa risiko bencana bukanlah soal gempa saja. Ia adalah hasil perkalian tiga faktor sekaligus: Bahaya (seberapa besar potensi gempanya), Paparan (berapa banyak orang dan infrastruktur yang berada di zona berbahaya), Kerentanan (seberapa siap dan tangguh mereka menghadapi bencana).

Meningkatkan kualitas data paparan dan kerentanan tidak akan cukup jika informasi tentang sumber bahayanya sendiri masih penuh ketidakpastian.

“Risiko merupakan fungsi dari bahaya, paparan, dan kerentanan. Karena itu, peningkatan kualitas data bahaya, termasuk pemetaan sesar aktif dan pemahaman siklus gempa serta tsunami, menjadi fondasi penting untuk menghasilkan penilaian risiko yang lebih akurat,” ungkap Danny.

Dengan kata lain, memahami sesar aktif di bawah Jawa bukan semata urusan ilmuwan. Ini adalah fondasi dari setiap keputusan pembangunan, tata ruang, dan kesiapsiagaan bencana yang menyangkut keselamatan jutaan orang.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri YARN: Above the Stars