Hilang 20 Tahun, Rubah Kerdil Langka Ini Akhirnya Berhasil Difoto untuk Pertama Kalinya

Selama lebih dari dua dekade, tidak ada satu pun ilmuwan yang pernah melihat Rubah kerdil Cozumel (Urocyon sp.) secara langsung. Satu-satunya bukti keberadaannya adalah tulang-tulang kecil yang ditemukan di reruntuhan kuil Maya—dan kekhawatiran bahwa makhluk itu mungkin sudah lenyap selamanya.

Ternyata, rubah mungil itu masih ada. Dan kini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada foto yang membuktikannya.

**Lebih dari 20 Tahun Menghilang**

Rubah kerdil Cozumel adalah salah satu anggota keluarga canid—kelompok hewan yang mencakup anjing, serigala, coyote, dan rubah—yang paling langka di dunia. Ia hanya bisa ditemukan di satu tempat di seluruh muka bumi: Pulau Cozumel, sebuah pulau di Laut Karibia di lepas pantai Semenanjung Yucatán, Meksiko.

Penampakan terakhir yang tercatat terjadi pada tahun 2001—itupun hanya laporan tak langsung. Sebelum penemuan terbaru ini, bukti fisik utama keberadaan rubah ini hanyalah sisa-sisa tubuhnya yang setengah memfosil, ditemukan di situs arkeologi Maya. Banyak yang mulai beranggapan hewan ini telah punah.

**Pagi Hari yang Mengubah Segalanya**

Pada dini hari 14 September 2023, laporan mulai beredar di media sosial dan sambungan telepon: seekor rubah tampak kebingungan berkeliaran di sekitar Cozumel. Rafael Chacón, direktur Fundación de Parques y Museos de Cozumel, segera mengambil kameranya dan berangkat mencari.

Sekitar pukul enam pagi, seekor rubah jantan dewasa ditemukan di dekat jalan raya pesisir di sisi timur pulau. Tim berhasil memotret—bahkan menangkap—rubah mungil itu. Setelah beberapa hari dalam pengamatan, ia dilepaskan dengan aman di lokasi yang dipilih dengan cermat, jauh dari jalan raya, di habitat yang sesuai dengan preferensi hidupnya.

Foto-foto itulah yang kini menjadi bukti ilmiah pertama keberadaan rubah kerdil Cozumel yang pernah ada.

**Mengapa Berukuran Kecil?**

Rubah kerdil Cozumel adalah kerabat dekat rubah abu-abu (Urocyon cinereoargenteus) yang umum ditemukan di daratan Amerika Utara dan Tengah. Namun versi Cozumel-nya hanya berukuran 60 hingga 80 persen dari ukuran sepupunya di daratan.

Ini adalah contoh sempurna dari fenomena yang dikenal sebagai kerdilisme pulau (island dwarfism)—proses evolusi di mana hewan yang terisolasi di pulau cenderung mengecil ukuran tubuhnya dari generasi ke generasi, sebagai respons terhadap keterbatasan sumber daya dan tekanan seleksi alam yang berbeda.

Penyusutan ukuran yang signifikan ini mengindikasikan bahwa rubah Cozumel telah berevolusi secara terpisah selama setidaknya 5.000 hingga 13.000 tahun—mungkin cukup lama untuk layak diklasifikasikan sebagai spesies tersendiri. Meski begitu, ia belum pernah secara resmi dideskripsikan dalam literatur ilmiah.

**Pulau Aneh dengan Tiga Karnivora Kerdil**

Yang membuat Cozumel semakin misterius: pulau ini adalah rumah bagi beberapa hewan yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Dan yang lebih janggal lagi, tiga di antaranya adalah mamalia karnivora yang semuanya mengalami kerdilisme: rakun kerdil (Procyon pygmaeus), coati kerdil (Nasua nelsoni), dan kini rubah kerdil (Urocyon sp.).

Mengapa satu pulau bisa menghasilkan tiga karnivora kerdil yang unik sekaligus, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab oleh para ilmuwan.

Meski penemuan ini terasa seperti keajaiban, para ilmuwan mengingatkan bahwa ini belum bisa disebut keberhasilan konservasi. Rubah kerdil Cozumel dianggap sangat terancam punah dan kemungkinan berada di ambang kepunahan. Ia belum pernah secara resmi dideskripsikan sebagai spesies, belum ada program perlindungan yang khusus ditujukan untuknya, dan kita masih sangat sedikit tahu tentang perilaku, populasi, maupun perannya dalam ekosistem pulau.

“Penemuan kembali rubah ini belum menjadi kisah sukses konservasi, tetapi ini merupakan kesempatan kedua,” kata Travis Bayer, pendiri Pathos Wildlife dan penulis studi terbaru ini. “Kami berharap penelitian ini membantu mengangkat rubah Cozumel dari keberadaan yang kurang dikenal dan tidak pasti menjadi bagian kunci ekosistem Cozumel yang lebih dipahami.”

Bayer menambahkan, “Kami juga berharap ini menunjukkan bahwa konservasi seringkali paling mendesak justru ketika kepastian paling rendah—dan bahwa ketidakpastian itu sendiri bisa menjadi panggilan untuk bertindak.”

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Neotropical Biology and Conservation.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Potret Pendoedoek di Djawa Tempo Doeloe