Selat Hormuz, Urat Nadi Minyak Dunia yang Terbentuk 35 Juta Tahun Lalu

Dampak penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kenaikan harga minyak dunia lebih dari US$ 2 per barel pada perdagangan Kamis (11/6/2026). Sekitar seperempat perdagangan minyak laut dunia melewati Selat Hormuz, jalur perairan selebar sekitar 50 kilometer antara Teluk Persia dan Teluk Oman.

Jalur sempit ini adalah salah satu “chokepoint” maritim paling strategis di dunia—rute pelayaran bervolume tinggi yang jika terganggu, dapat menghancurkan perekonomian global—sebagaimana yang terjadi sejak akhir Februari akibat konflik di Timur Tengah.

Selat ini merupakan keajaiban geologis sebagai salah satu tempat di Bumi. Pasalnya, selat dengan panjang sekitar 167 kilometer dan lebar antara 39 kilometer hingga 97 kilometer ini merupakan bukti tumbukan dua benua.

Bukti itu terlihat jelas dalam geologi kawasan ini—mulai dari Pegunungan Zagros di Iran selatan hingga titik tersempit Selat Hormuz, tempat Semenanjung Musandam di Oman mencuat ke utara seperti belati yang mengarah ke Iran.

Terkenal dengan tebing batu hitam yang curam dan garis pantai bergerigi dari lembah-lembah yang tenggelam—sejenis muara yang terbentuk ketika naiknya permukaan laut menggenangi lembah sungai—Semenanjung Musandam juga merupakan salah satu dari sedikit tempat di Bumi di mana ofiolit, batuan yang biasanya terkubur jauh di bawah kerak samudra.

“Selat Hormuz sejauh ini merupakan kompleks ofiolit terbesar dan terbaik di mana pun di dunia,” kata Mike Searle, profesor Ilmu Bumi di Worcester College, Universitas Oxford.

Namun proses geologis yang sama yang menjadikan Selat Hormuz begitu unik, juga menjadikannya sangat rentan.

**Bagaimana Selat Hormuz Terbentuk**

Banyak chokepoint pelayaran dunia berupa selat—perairan sempit yang menghubungkan dua perairan yang lebih besar. Selat-selat ini terbentuk secara alami selama jutaan tahun melalui pergeseran lempeng tektonik dan naiknya permukaan laut akibat mencairnya lapisan es glasial.

Bagi Selat Hormuz, proses ini dimulai sekitar 35 juta tahun lalu dengan tumbukan dua lempeng benua: lempeng Arabia di selatan dan lempeng Eurasia di utara. Pada saat itu, kedua benua dipisahkan oleh Samudra Tethys purba—dinamai dari Titan laut dalam mitologi Yunani.

“Lempeng Arabia mulai menyusup ke bawah lempeng Eurasia dalam proses yang disebut subduksi, yang pada akhirnya menelan Tethys saat kedua lempeng benua dan daratan di atasnya menyatu,” kata Mark Allen, kepala Departemen Ilmu Bumi di Durham University, Inggris.

Allen mengatakan, hal menarik tentang tumbukan benua adalah peristiwa itu tidak selesai dalam sekejap. “Gaya-gaya dalam yang menggerakkan lempeng dapat terus bekerja bahkan setelah kedua benua bertemu, selama puluhan juta tahun.”

Saat lempeng Arabia terus menghantam Eurasia, kedua lempeng akhirnya mulai memendek dan menebal. “Seperti dua mobil yang bertabrakan,” kata Allen. Benturan inilah yang menciptakan Pegunungan Zagros di Iran yang ada sekarang.

Gerakan tektonik ini juga menciptakan kondisi bagi terbentuknya Selat Hormuz. “Bayangkan lempeng Arabia seperti penggaris lentur,” kata Allen. Saat sesuatu yang berat diletakkan di salah satu ujungnya—seperti rangkaian pegunungan—penggaris itu mulai melengkung ke bawah dan membentuk cekungan.

Dalam kasus lempeng Arabia, cekungan inilah yang membentuk Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Di sinilah kenaikan permukaan laut berperan. “Sekitar 20.000 tahun lalu pada puncak Zaman Es Terakhir, air di Teluk Persia sangat dangkal sehingga di beberapa titik orang bisa berjalan melintasinya,” kata Allen.

Namun saat lapisan es mulai mencair, permukaan laut global naik secara signifikan—sekitar seratus meter dalam 15.000 tahun. Seiring waktu, air pun menggenangi Teluk Persia dan mengisi Selat Hormuz.

**Bentang Alam yang Berharga tetapi Rentan**

Tumbukan benua ini juga memberi kawasan tersebut cadangan minyak yang luar biasa besarnya. Selama ratusan juta tahun sebelum lempeng Arabia bertumbukan dengan Eurasia, lempeng itu berada tepat di bawah permukaan laut, mengakumulasi semua jenis batuan yang diperlukan untuk membentuk cadangan minyak dan gas.

Seiring waktu, tumbukan lempeng menjebak kantong-kantong minyak dan gas di bawah bebatuan di ujung utara lempeng Arabia—yang kini berada di bawah Iran, Irak, dan sebagian Suriah.

“Yang khas dari Timur Tengah adalah skalanya yang luar biasa,” kata Allen. “Semua ini terjadi di area yang sangat luas, dalam jangka waktu yang panjang, dengan perangkap yang begitu besar sehingga secara ekonomis kamu tidak akan menghabiskan semua uangmu mengebor reservoir yang akan mengering dalam beberapa tahun—mereka punya ladang yang bertahan selama puluhan dekade.”

Namun untuk mengangkut minyak dan gas tersebut ke seluruh dunia, semuanya harus melewati Selat Hormuz—dan titik penyempitannya yang dibentuk oleh Semenanjung Musandam.

Semenanjung Musandam sendiri masih terus bergerak, meski dalam kecepatan geologis. Searle menunjuk sebuah makalah yang ia dan rekan-rekannya terbitkan pada 2014, yang menunjukkan bahwa semenanjung itu masih terus terdorong ke utara menuju Pegunungan Zagros.

“Dan Selat Hormuz perlahan-lahan akan menutup,” kata Searle—meski hal itu kemungkinan besar tidak akan terjadi setidaknya dalam 10 juta tahun ke depan.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

14 Cerita Bermain di Bawah Laut

Laut Bercerita

Ensiklopedia Aku Ingin Tahu: Alam Sekitar