Pandemi Covid-19 Ungkap Cara Satwa Liar Respons Kehadiran Manusia

Penelitian terbaru mengungkap bahwa satwa liar bereaksi berbeda terhadap kehadiran manusia dibandingkan dengan perubahan habitat—temuan yang membawa implikasi besar bagi strategi konservasi di seluruh dunia.

Selama ini kita mengira pembukaan hutan dan alih fungsi lahan adalah ancaman terbesar bagi satwa liar. Studi baru membuktikan sesuatu yang lebih mengejutkan: kehadiran manusia itu sendiri, bahkan tanpa mengubah satu pohon pun, sudah cukup untuk mengubah perilaku hewan.

**Ketika Lockdown Menjadi Eksperimen Alam**

Pandemi Covid-19 membawa bencana bagi manusia, tetapi secara tidak sengaja menciptakan kesempatan ilmiah yang belum pernah ada sebelumnya. Ketika lockdown mengubah cara manusia bergerak di lingkungannya, para peneliti mendapat kesempatan langka untuk memisahkan dua hal yang selama ini sulit dibedakan: dampak kehadiran fisik manusia versus dampak perubahan lanskap jangka panjang terhadap satwa liar.

Para peneliti dari UC Santa Barbara, Smithsonian’s National Zoo and Conservation Biology Institute, dan Yale University menggabungkan data pelacakan GPS dari 37 spesies hewan dengan informasi lokasi ponsel yang dikumpulkan di seluruh Amerika Serikat. Studi yang dipublikasikan di jurnal Science ini menemukan bahwa hewan merespons aktivitas manusia dengan cara yang sangat berbeda-beda, tergantung spesiesnya dan kondisi habitat di sekitarnya.

Tim menganalisis catatan GPS mingguan dari 4.581 mamalia dan burung di seluruh daratan Amerika Serikat selama periode yang sama pada 2019 dan 2020. Untuk mengukur aktivitas manusia secara langsung—bukan hanya melalui indikator tidak langsung seperti pembangunan perkotaan atau pertanian—mereka menggunakan data geolokasi ponsel anonim di tingkat lingkungan.

Menurut para penulis, ini adalah studi pertama yang menggunakan jenis informasi ini untuk meneliti bagaimana kehadiran manusia memengaruhi pergerakan hewan.

“Data ponsel yang kami gunakan disediakan untuk para peneliti selama pandemi guna membantu mengungkap dampak penutupan akibat Covid-19,” kata Scott Yanco, ekolog penelitian di Smithsonian’s National Zoo dan salah satu penulis utama studi.

“Biasanya, data ini dipegang oleh perusahaan swasta, yang menjadikan ini kesempatan langka bagi kami untuk mengukur bagaimana kehadiran manusia berdampak pada satwa liar, dan untuk menunjukkan bahwa ada lebih banyak hal yang perlu dipertimbangkan selain modifikasi lahan untuk menciptakan rencana konservasi yang kuat,” imbuhnya.

**Dua Ancaman yang Selama Ini Dianggap Satu**

Salah satu kontribusi terbesar penelitian ini adalah kemampuannya memisahkan dua jenis tekanan dari manusia yang selama ini sering dicampuradukkan: perubahan fisik lanskap (seperti deforestasi dan urbanisasi) dan kehadiran langsung manusia di alam.

“Manusia memiliki efek yang kompleks terhadap satwa liar—dari kehadiran fisik kita hingga bagaimana kita membentuk ulang habitat—tetapi kita tidak dapat memahami dampak penuh kita tanpa informasi tentang keduanya,” kata Ruth Oliver, asisten profesor di Bren School of Environmental Science & Management UCSB dan salah satu penulis utama studi.

Hasilnya mengungkap gambaran yang jauh lebih rumit dari perkiraan sebelumnya. Secara keseluruhan, 57 persen spesies yang diteliti dipengaruhi oleh kombinasi kehadiran manusia dan perubahan lanskap. Aktivitas manusia dikaitkan dengan perubahan wilayah jelajah atau relung ekologis pada 67% spesies mamalia dan 68 persen spesies burung.

Temuan yang paling mengejutkan adalah bahwa hewan di kawasan yang kurang berkembang—seperti taman nasional—justru tampak lebih sensitif terhadap kehadiran manusia dibanding hewan di lingkungan yang sangat urban. Hewan yang hidup jauh dari manusia ternyata lebih terguncang ketika manusia tiba-tiba muncul.

Ini memiliki implikasi langsung bagi pengelolaan kawasan konservasi: keberadaan pengunjung di taman nasional, meski tidak merusak habitat secara fisik, tetap bisa memengaruhi perilaku satwa yang dilindungi.

**Setiap Spesies Bereaksi Berbeda**

Respons hewan terhadap manusia ternyata jauh dari seragam. Serigala, misalnya, justru memperluas jangkauan wilayahnya sebagai respons terhadap kehadiran manusia—kemungkinan mencerminkan kecenderungan mereka untuk menyebar lebih jauh dan menghindari orang.

Rusa ekor putih dan crane sandhill menunjukkan pola yang berlawanan. Rusa memperluas relung ekologisnya ketika lanskap semakin dimodifikasi, tetapi menyempitkannya saat kehadiran manusia meningkat. Crane sandhill menunjukkan pola sebaliknya.

“Temuan-temuan ini menyoroti pentingnya konservasi berbasis spesies,” kata Oliver. “Setiap spesies memiliki kebutuhan habitat yang berbeda, memiliki kecenderungan perilaku tersendiri, dan menghadapi ancaman yang unik. Konservasi yang efektif mengharuskan kita memahami tantangan khusus yang dihadapi setiap spesies.”

**Pelajaran dari “Anthropause” untuk Konservasi Masa Depan**

Studi ini merupakan bagian dari Covid-19 Bio-Logging Initiative, kolaborasi global yang dibentuk untuk menyelidiki respons satwa liar terhadap lockdown pandemi—periode yang oleh para peneliti disebut sebagai “anthropause” atau jeda manusia.

Inisiatif ini melibatkan 600 mitra dan mengumpulkan sekitar 1 miliar catatan lokasi dari sekitar 13.000 hewan. Studi-studi sebelumnya dari inisiatif ini telah mendokumentasikan perubahan perilaku luas di antara mamalia, pergeseran besar dalam lalu lintas laut, dan nilai pelacakan pergerakan manusia ketika mempelajari respons satwa liar di era Antroposen—periode ketika aktivitas manusia telah memberikan dampak lingkungan yang signifikan terhadap bumi.

Kini, tim Oliver sedang menyelidiki lebih jauh apakah perubahan perilaku hewan akibat tekanan manusia pada akhirnya meningkatkan atau menurunkan risiko kematian mereka.

“Studi kami saat ini menunjukkan bahwa hewan mengubah cara mereka menggunakan ruang dan sumber daya, tetapi kami tidak tahu apakah perubahan ini membantu mereka beradaptasi atau merupakan tanda stres,” kata Oliver.

“Kelompok kami kini sedang menggali pertanyaan itu dengan bertanya apakah hewan yang mengubah perilakunya sebagai respons terhadap tekanan manusia berisiko lebih besar atau lebih kecil untuk mati,” tambahnya.

Di balik kompleksitas temuan ini, Oliver melihat secercah harapan. Jika kita memahami dengan lebih baik kapan dan di


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Mediatisasi Politik pada Masa Pandemi di Indonesia

Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab

Taman Nasional Indonesia: Permata Warisan Bangsa