Pertanggungjawaban Juri Hadiah Sastra Anak Dwianto Setyawan

Pada awalnya adalah sebuah petualangan besar.

Petualangan kami, tiga orang yang tergabung dalam tim juri, dimulai pada bulan Juli 2026. Tanpa mengetahui siapa para penulis di balik 128 naskah yang masuk dalam tahap penjurian awal, kami dibawa menjelajahi berbagai tempat, masa, dan peristiwa. Dari fantasi, misteri, lintas waktu, sampai distopia, cerita-cerita dalam naskah penjurian awal membawa kami bertualang tanpa henti.

Tema yang paling banyak kami temui adalah banjir, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Kami juga melanglang buana ke berbagai pelosok Indonesia, dengan latar nyata maupun fiktif. Kami bertemu benda-benda sakti yang menyimpan kekuatan dan misteri: sebuah flashdisk tua, jam tangan ajaib, dan batu kuning milik penyihir. Kami berkenalan dengan tokoh-tokoh anak yang mengambil beragam peran: detektif, penjelajah waktu, penyelamat lingkungan, penjaga budaya, pemecah teka-teki. 

Dalam cerita-cerita ini, anak menjadi tumpuan harapan untuk mengatasi berbagai persoalan — yang sebagian besar diakibatkan orang dewasa — yang mengancam keluarga, kampung, kota, pulau, bahkan bangsa ini. Ada kerusakan lingkungan, hilangnya warisan budaya, hingga ancaman terhadap kemanusiaan. Syukurlah, mereka tidak sendiri. Selalu ada teman-teman yang membantu. Persahabatan, keberanian, rasa ingin tahu, dan kepedulian menjadi benang merah yang menghubungkan begitu banyak naskah yang kami baca. 

Dari 128 naskah ini, tim juri kemudian harus memilih 10 yang terbaik. Bagaimana kami melakukannya? Kami menetapkan enam aspek penilaian, yaitu keunggulan sastra, perspektif anak dalam cerita, orisinalitas dan kreativitas, gaya bercerita dan daya tarik bagi pembaca anak, konteks Indonesia, serta kedalaman makna. 

Berbekal enam kriteria tersebut, petualangan kami pun berlanjut. Dari ratusan tokoh dan beragam kemungkinan cerita, mengerucutlah sepuluh naskah yang menunjukkan bahwa arah sastra anak Indonesia sedang berkembang ke arah yang menggembirakan. Semakin jauh kami membaca, semakin kami menemukan keberanian para penulis untuk bereksperimen dengan genre, mengangkat sejarah dan budaya Indonesia, membangun misteri yang memancing rasa ingin tahu, hingga menghadirkan tema-tema besar seperti lingkungan, kehilangan, identitas, dan masa depan melalui sudut pandang anak. 

10 Naskah Pilihan Juri Hadiah Sastra Anak Dwianto Setyawan yang kami urutkan sesuai abjad adalah sebagai berikut:
1. Bari dan Petualangan yang Menyenangkan, sebuah kisah tentang seorang anak dan penyu raksasa.

2. Kisah Penjelajahan Waktu: Kembali ke Ambarawa membawa kami ke Ambarawa yang porak poranda pada 1945 paska serangan Sekutu.

3. Petualangan di Rimba Dua mengikuti petualangan Abinawa yang tak sengaja merusak pelindung desanya dan harus mencari cara memperbaikinya. 

4. Perburuan Pala Kuno kembali membawa kami ke masa lalu, tepatnya perairan Somba Opu, Makassar, 1619, untuk, sesuai judulnya, mencari pala kuno untuk menyelamatkan dunia paska pandemi global.

5. Piko Si Kepo adalah anak kelas 5 SD yang merasa dirinya detektif. Ia sibuk melacak jejak Mas Dandi, tetangganya, yang mendadak hilang setelah petir menyambar pohon di halaman rumahnya.

6. Purnama di Atas Laut Banda, seperti judulnya berlatar tempat di Banda, tepatnya Pulau Ai, tahun 1615. Sebuah kisah heroik dua remaja yang ingin mempertahankan tanah air mereka.

7. Rahasia Pulau Jakarta. Dari masa lalu, kami dibawa ke masa 50 tahun setelah Jakarta tenggelam menyisakan sekumpulan gedung pencakar langit yang mencuat di tengah lautan.

8. Rahasia Toko di Balik Genangan, lewat suatu genangan, kami dibawa ke sebuah toko barang bekas tempat waktu tidak berjalan.

9. Si Bujang Juru Seberang membawa kami ke Sungai Musi Rawas Utara tempat sebuah banjir badang menelan seorang korban.

10. Teka-teki di Rumah Pelukis mengajak kami mengenal sudut lain seorang pelukis terkenal.

Namun, seperti halnya proses kreatif pada umumnya, setiap naskah juga masih menyimpan ruang untuk bertumbuh. Beberapa naskah masih memiliki lubang dalam plot, pengulangan informasi, dan deus ex machina, alias keberuntungan mendadak sebagai solusi suatu masalah, namun tanpa landasan yang cukup. Ada cerita yang memiliki plot rapi, tetapi  voice karakternya belum sepenuhnya hidup dalam dialog maupun narasi. Ada pula cerita dengan riset dan unsur budaya yang kuat, tetapi belum sepenuhnya berhasil membangun keterlibatan emosional pembaca anak sejak awal cerita. 

Di sisi lain, kami juga menemukan beberapa naskah yang menunjukkan kematangan kepengarangan yang sangat menjanjikan. Naskah-naskah inilah yang kemudian mengerucut menjadi tiga karya terbaik. 

Sebelum kami membahas tiga pemenang, kami ingin memberikan apresiasi khusus kepada satu naskah yang mencuri perhatian tim juri, atau tepatnya, membuat kami sangat terhibur dan tertawa lepas. 

Cerita ini menghadirkan plot yang mengalir ringan, humor yang segar, serta tokoh utama yang hidup dan mudah disukai pembaca anak. Karena itu, kami memutuskan naskah ini layak mendapatkan honorary mention

Piko Si Kepo

oleh Ade Agustian dengan nama  pena Tsugaeda.

Sekarang mari membahas keunggulan tiga naskah pemenang, sebelum kami ungkap judul dan penulisnya.

Cerita pertama membawa kita ke Jakarta tahun 2070, ketika kota ini telah tenggelam selama lima puluh tahun. Dengan latar distopia yang kuat dan karakterisasi yang meyakinkan, cerita ini memperkenalkan unsur fiksi ilmiah kepada pembaca muda melalui konflik yang dekat dengan persoalan kemanusiaan. Dilema moral yang dihadirkan terasa relevan, sementara rangkaian adegan aksi dibangun dengan ritme yang baik sehingga pembaca dapat membayangkan dunia yang sedang runtuh, namun tetap berharap akan masa depan yang lebih baik. 

Cerita berikutnya “mengandung bawang”. Mengapa? Karena kami di tim juri berhasil dibuat menitikkan air mata. Di permukaan, kisah ini tampak seperti cerita horor yang berlatar perkebunan sawit. Namun, semakin jauh kami membaca, semakin terasa bahwa cerita ini sesungguhnya bicara tentang kehilangan, duka yang tak terucap antara seorang anak dan ibunya, serta kompleksitas kehidupan masyarakat di sekitar perkebunan. Inilah salah satu contoh bagaimana sastra anak mampu menghadirkan kedalaman makna dengan cara yang tetap dapat dijangkau oleh pembaca muda. 

Cerita ketiga membawa kami ke tempat ini: Cikini, namun pada abad ke-19, ketika kawasan ini menjadi rumah bagi Raden Saleh. Melalui sudut pandang dua anak berbeda bangsa, pembaca diajak mengikuti sebuah misteri pencurian lukisan yang perlahan membuka persoalan yang lebih besar: prasangka, sejarah, dan identitas. Melalui plot kisah detektif, naskah ini berpotensi membangkitkan rasa ingin tahu terhadap sejarah Indonesia. 

Selamat dan apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada tiga pemenang Hadiah Sastra Anak Dwianto Setyawan.

Juara III

Rahasia Pulau Jakarta

Oleh Ade Ferdiansyah dengan nama pena A. F. Ferdians.

Juara II

Teka-Teki di Rumah Pelukis

Oleh Imelda Naomi.

Juara I

Si Bujang Juru Seberang 

Oleh Rizal Iwan

Akhir kata, petualangan kami sebagai juri telah berakhir. Namun, kami berharap petualangan sastra anak Indonesia justru baru dimulai. Setiap naskah yang kami baca menjadi bukti bahwa imajinasi, keberanian, dan harapan untuk menghadirkan bacaan bermutu bagi pembaca anak terus bertumbuh. 

Kami juga sangat bergembira melihat banyak penulis yang mempercayai anak sebagai pembaca yang mampu berpikir, bertanya, dan menafsirkan dunia. Harapan kami, semakin banyak novel anak Indonesia yang tidak hanya menawarkan petualangan seru, tetapi juga menghadirkan pengalaman membaca yang membekas. 

Semoga perjalanan ini tidak berhenti pada kompetisi ini, melainkan menjadi langkah awal lahirnya semakin banyak novel anak Indonesia yang akan menemani generasi pembaca muda kita.

Terima kasih,

Tim Juri HSADS