Bukan Iklan Komersial, Mengapa China Pajang Wajah Ilmuwan di Billboard Raksasa Kota?

Pernahkah Anda membayangkan jika jalanan utama kota tidak lagi dipenuhi iklan produk komersial atau wajah selebritas, melainkan wajah para ilmuwan? Di China, pemandangan ini bukan lagi sekadar imajinasi, melainkan realitas sehari-hari yang menarik perhatian para pelancong dunia.

Saat menjelajahi kota-kota di sana, banyak wisatawan asing yang terkejut karena menemukan lokasi-lokasi seperti alun-alun kota, stasiun kereta bawah tanah, hingga papan reklame di jembatan layang justru didedikasikan untuk menampilkan wajah para ilmuwan.

China secara khusus memposisikan mereka sebagai “tulang punggung negara”.

**Idola Baru di Sudut Kota**

Di antara sekian banyak wajah yang terpampang, beberapa di antaranya adalah tokoh besar seperti Qian Xuesen yang merupakan bapak pendiri program luar angkasa China, fisikawan nuklir Deng Jiaxian, serta ahli agronomi Yuan Longping.

Sebagai contoh, pada Kamis (27/8/2026), poster raksasa yang menampilkan Qian Xuesen dan Deng Jiaxian menghiasi stasiun kereta bawah tanah Convention and Exhibition Center di Zhengzhou, Provinsi Henan.

Ruang-ruang publik termahal ini sengaja dialokasikan bukan untuk iklan komersial, melainkan untuk menunjukkan pesan bahwa ketekunan mencari ilmu dan eksplorasi ilmiah layak mendapatkan tempat tertinggi di masyarakat.

**Pertanyaan Dunia yang Mulai Bergeser**

Kehadiran billboard para ilmuwan ini memicu perbincangan hangat di media sosial internasional. Banyak warganet asing memberikan respons positif dengan komentar seperti, “Scientists are the ones who should be idols” (Ilmuwanlah yang seharusnya menjadi idola) dan “This inspires children to grow up and gives them role models to learn from” (Ini menginspirasi anak-anak dan memberi mereka panutan untuk ditiru).

Di dalam negeri pun, warganet China sepakat dan menyebut para peneliti ini sebagai “the true top stars we should be following” (bintang top sejati yang harus kita ikuti).

Fenomena ini juga mengubah cara pandang dunia terhadap kemajuan China. Di tengah masifnya ekspor teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga robot humanoid dari negara tersebut, sorotan mata dunia kini mulai bergeser.

Pertanyaan yang awalnya berbunyi “Apa yang telah dicapai China?” kini berubah menjadi “Mengapa China mampu mencapainya?”.

Jawabannya terletak pada bagaimana masyarakat mereka menghargai sains.

**Bukan Tren Instan, Tapi Tradisi**

Menghormati ilmu pengetahuan bukanlah tren modern yang instan di China. Penghormatan kolektif terhadap pengetahuan ini merupakan tradisi yang telah mengakar selama ribuan tahun.

Salah satunya bersumber dari prinsip Konfusius yang berbunyi, “A humane person helps others establish what he himself wishes to establish and achieve what he himself wishes to achieve” (Orang yang bijak membantu orang lain membangun apa yang ingin ia bangun dan mencapai apa yang ingin ia capai).

Filosofi ini mendorong China untuk membagikan hasil riset ilmiah mereka seperti teknologi padi hibrida Yuan Longping atau penemuan artemisinin oleh Tu Youyou sebagai jembatan untuk menyelesaikan tantangan kemanusiaan global.

Strategi visual ini terbukti berdampak nyata pada pola pikir generasi muda. Ketika jajak pendapat di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan anak-anak lebih banyak bercita-cita menjadi pembuat konten media sosial, anak-anak di China justru memilih ingin menjadi astronaut.

Ini terjadi karena sistem pendidikan dan ruang publik di sana secara konsisten menonjolkan nilai-nilai sains dan eksplorasi luar angkasa.

Pada akhirnya, sebuah bangsa yang memberikan panggung utama bagi sains di ruang publiknya akan memiliki fondasi pembangunan yang kokoh dan inovasi yang berkelanjutan.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Yang Jauh Tersembunyi: Fisika Kuantum dan Teori Banyak-Dunia

Seri Nat Geo: Mengapa Tidak? 1.111 Jawaban Beraneka Pertanyaan

Seri Pemikiran: Emmanuel Levinas Enigma Wajah Orang Lain