Penelitian terbaru mengungkapkan temuan mengejutkan dari kawasan terluar Tata Surya: Objek Trans-Neptunus Quaoar kini diketahui memiliki dua bulan. Penemuan ini tidak hanya menambah anggota keluarga kecil Quaoar, namun juga memberikan petunjuk baru mengenai pembentukan objek-objek es di Sabuk Kuiper.
Tim astronom berhasil menemukan sebuah benda dengan tingkat kecerahan sangat rendah yang diduga merupakan satelit kedua Quaoar. Bulan mungil ini diperkirakan berdiameter sekitar 38 km dengan magnitudo V sekitar 28, menjadikannya salah satu satelit paling redup yang pernah berhasil dideteksi mengelilingi objek trans-Neptunus.
**Metode Penemuan Melalui Okultasi**
Menurut studi tersebut, “pengamatan simultan dari dua teleskop mengungkapkan keberadaan satelit atau cincin padat yang sebelumnya belum ditemukan di sekitar Quaoar.” Observasi ini mengindikasikan dimensi objek minimal sekitar 30 km.
Penemuan bulan baru ini terjadi melalui fenomena okultasi bintang, ketika Quaoar melintasi bagian depan sebuah bintang sehingga cahaya bintang terhalang sesaat. Dua teleskop mendeteksi “penghilangan cahaya” yang identik, mengindikasikan keberadaan objek baru tersebut.
**Profil Quaoar yang Unik**
Quaoar sendiri ditemukan pada 4 Juni 2002. Objek berdiameter sekitar 1.100 km ini terletak pada jarak 45,1-45,6 AU dari Matahari dan membutuhkan waktu 284,5 tahun untuk menyelesaikan satu orbit. Posisinya berada di Sabuk Kuiper, wilayah berisi serpihan es mirip komet yang juga menjadi rumah bagi planet katai Pluto.
Pada 2006, astronom menemukan bulan pertamanya, Weywot, dengan diameter sekitar 80 km dan mengorbit pada jarak 24 radius Quaoar.
**Sistem Cincin yang Misterius**
Yang menjadikan Quaoar semakin istimewa adalah keberadaan dua cincin, yaitu Q1R dan Q2R, yang ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini mencengangkan karena keduanya berlokasi di luar batas Roche, wilayah di mana cincin biasanya tidak stabil.
Benjamin Proudfoot dari Florida Space Institute menyatakan, “Di antara sistem cincin pada benda-benda kecil, cincin-cincin di sekitar Quaoar mungkin yang paling misterius.”
“Cincin terluarnya—Q1R—tampaknya dikunci oleh resonansi gerak-rata dengan Weywot, serta resonansi spin-orbit dengan bentuk triaxial Quaoar. Cincin dalam—Q2R—tampaknya kurang padat dan mekanisme penahannya lebih tidak pasti,” tambahnya.
**Karakteristik Orbit Bulan Baru**
Dalam studi terbaru, astronom berupaya mengukur orbit objek tersebut. Mereka menemukan bahwa satelit mungil itu kemungkinan berada pada orbit 3,6 hari, dekat dengan resonansi 5:3 terhadap cincin terluar Q1R.
Namun, deteksi langsung bukanlah hal mudah. Satelit ini 9-10 magnitudo lebih redup dibandingkan Quaoar, dan berada sangat dekat secara visual.
**Tantangan Deteksi**
Tim peneliti menulis: “Teleskop saat ini, baik di darat maupun luar angkasa, akan kesulitan mendeteksi satelit baru ini karena redupnya dan pemisahan sudut yang sangat kecil.”
Pemeriksaan pada citra Webb/NIRCam pun tidak berhasil memberikan deteksi yang meyakinkan. Meski demikian, mereka optimis teleskop generasi mendatang kemungkinan akan dapat mengamatinya dengan mudah.
**Implikasi untuk Pemahaman Formasi**
Menurut tim peneliti, keberadaan bulan baru ini memperkuat dugaan bahwa cincin-cincin Quaoar mungkin berasal dari cakram tumbukan yang luas, yang telah berevolusi sejak awal pembentukan objek tersebut.
“Mengkaji pembentukan dan sejarah sistem bulan-cincin ini akan memberikan gambaran detail tentang bagaimana objek trans-Neptunus terbentuk,” tulis mereka.
**Penelitian Lanjutan**
Karena itu, mereka mendorong penelitian lanjutan menggunakan pemodelan pasang surut, hidrodinamika, dan tumbukan. Makalah terkait penemuan ini telah diajukan ke Astrophysical Journal Letters.
**Signifikansi Ilmiah**
Temuan ini memberikan wawasan baru tentang dinamika kompleks sistem objek trans-Neptunus. Keberadaan dua bulan dan sistem cincin yang tidak biasa menjadikan Quaoar sebagai objek studi yang sangat menarik untuk memahami evolusi awal Tata Surya.
**Masa Depan Observasi**
Para astronom berharap teknologi teleskop yang semakin canggih akan memungkinkan observasi lebih detail terhadap sistem Quaoar. Hal ini akan membantu memahami lebih baik interaksi kompleks antara bulan-bulan, cincin, dan objek utama dalam sistem yang jauh dari Matahari ini.
Penemuan bulan kedua Quaoar menunjukkan bahwa masih banyak misteri di wilayah terluar Tata Surya yang menunggu untuk diungkap, dan teknologi observasi yang terus berkembang akan memungkinkan penemuan-penemuan serupa di masa depan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: