Kanker merupakan bagian integral dari kehidupan hampir seluruh mamalia. Namun, spesies tertentu tampak memiliki “kekebalan”—seolah-olah mampu mengabaikan penyakit mematikan tersebut. Riset terbaru mengungkapkan bahwa cara hewan berbagi, berkompetisi, dan merawat satu sama lain turut menentukan besarnya risiko kanker pada spesies tertentu.
Studi ini mengintegrasikan ribuan data nekropsi dari kebun binatang dengan berbagai karakteristik biologis hewan, mulai dari ukuran tubuh, jumlah keturunan, hingga pola kehidupan sosial. Para peneliti kemudian membangun model matematika untuk mengamati kapan peningkatan kanker pada hewan lanjut usia justru dapat meningkatkan ukuran populasi.
**Kanker dalam Konteks Riwayat Hidup Hewan**
Kanker terjadi ketika sel yang seharusnya berhenti membelah terus melakukan pembelahan dan mulai menyerang jaringan sekitarnya. Dalam biologi, risiko kanker termasuk dalam konsep life history—jadwal pertumbuhan, reproduksi, hingga penuaan suatu spesies.
Beberapa hewan berukuran besar seperti paus dan gajah justru tidak menunjukkan beban kanker yang signifikan, meski tubuh mereka memiliki jumlah sel yang jauh lebih banyak. Fenomena ini dikenal sebagai Paradoks Peto, yaitu tidak adanya peningkatan tumor pada hewan berukuran sangat besar.
**Evolusi Risiko Kanker**
Penelitian ini dipimpin oleh Catalina Sierra, peneliti biologi dari Universidad de Buenos Aires. Ia menyelidiki bagaimana risiko kanker berevolusi pada mamalia yang hidup dalam kondisi ekologis dan sosial berbeda di seluruh dunia.
Data nekropsi sebelumnya dari 37 spesies mamalia telah menunjukkan adanya variasi besar dalam prevalensi tumor. Temuan awal mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan, jumlah keturunan, dan umur panjang menjadi faktor yang sangat terkait dengan risiko kanker.
**Analisis Lintas Spesies**
Dalam studi terbaru, Sierra dan tim mengombinasikan data kanker dari hampir 200 spesies mamalia non-domestik yang memiliki minimal 20 laporan nekropsi berkualitas tinggi. Mereka terlebih dahulu menguji faktor-faktor dasar seperti massa tubuh dan laju metabolisme—namun hasilnya mengejutkan.
Tidak ada korelasi kuat antara ukuran tubuh atau metabolisme dengan tingkat kanker, sejalan dengan studi skala besar sebelumnya pada mamalia kebun binatang.
**Peran Jumlah Keturunan**
Ketika tim menganalisis tingkat neoplasia—pertumbuhan jaringan abnormal, baik jinak maupun ganas—hasilnya semakin jelas: Jumlah anak dalam satu kelahiran jauh lebih berpengaruh dibandingkan ukuran tubuh. Spesies dengan jumlah anak lebih banyak cenderung memiliki tingkat kanker lebih tinggi.
Temuan ini sejalan dengan studi vertebrata lain yang menemukan bahwa prevalensi kanker meningkat pada hewan bertubuh besar namun menurun pada spesies dengan masa kehamilan lebih lama.
Kesimpulan sementara: perilaku sosial dan investasi orang tua tampaknya menjadi faktor penting dalam menjelaskan risiko kanker antarspesies.
**Model Dinamika Populasi**
Untuk menguji dinamika ini, para peneliti menciptakan model populasi tiga tahap: juvenil, dewasa reproduktif, dan individu tua. Model ini memperlakukan sumber daya sebagai satu kumpulan yang digunakan bersama.
Jika hewan tua tidak memberikan kontribusi terhadap perawatan, tetapi tetap mengonsumsi sumber daya, maka kematian lebih awal pada kelompok tua dapat membebaskan makanan dan ruang bagi individu muda untuk bertahan dan berkembang biak.
**Efek Hydra**
Fenomena tak terduga ini dikenal sebagai hydra effect, yaitu pertambahan populasi akibat meningkatnya mortalitas. Dalam kondisi yang sangat kompetitif, kematian akibat kanker pada hewan tua justru dapat meningkatkan ukuran populasi, bukan menekannya.
Sierra menulis: “Menggunakan basis data publik, kami menunjukkan bahwa spesies dengan kebiasaan kooperatif memiliki prevalensi dan risiko mortalitas kanker yang lebih rendah.”
**Mekanisme Kerja Sama dan Perlindungan Kanker**
Dalam spesies yang hidup kompetitif, hewan bersaing secara ketat untuk sumber daya. Maka, kematian hewan tua akibat kanker hanya menghilangkan pesaing yang lemah.
Namun, dalam spesies yang kooperatif, hewan tua memiliki peran penting: mereka membantu menjaga anak, berbagi makanan, hingga melindungi kelompok. Kehadiran mereka meningkatkan keberhasilan reproduksi kerabat dekatnya.
**Seleksi Alam dan Inclusive Fitness**
Secara evolusioner, kondisi ini menyebabkan seleksi alam mendorong mekanisme penekan kanker yang lebih kuat, agar hewan tua dapat hidup lebih lama. Konsep ini dikenal sebagai inclusive fitness, yakni keberhasilan genetik melalui keberhasilan reproduksi kerabat.
Pada mamalia sosial, kanker yang menyerang lebih awal akan mengurangi nilai evolusioner kelompok, sehingga menjadi sangat merugikan.
**Phenoptosis pada Spesies Soliter**
Di sisi lain, pada spesies yang hidup soliter atau sangat kompetitif, kanker pada usia tua dapat berperan layaknya phenoptosis, yaitu kematian terprogram yang justru membantu populasi dengan mengurangi kepadatan dan kompetisi.
**Contoh Ekstrem: Tikus Mondok Telanjang**
Beberapa contoh ekstrem datang dari hewan seperti naked mole rat. Hewan pengerat ini hidup dalam koloni besar dengan sistem kasta, di mana sebagian besar anggota membantu, sementara hanya sedikit yang berkembang biak.
Tikus mondok telanjang hampir tidak pernah menunjukkan tumor di penangkaran, sebuah fakta yang sudah lama menarik perhatian ahli biologi. Sebaliknya, banyak karnivora yang hidup dan berburu sendirian menunjukkan angka tumor jauh lebih tinggi.
**Keterbatasan Penelitian**
Meski hasilnya menarik, penelitian ini memiliki batasan. Sebagian besar data berasal dari hewan kebun binatang, yang kondisinya mungkin berbeda dibandingkan hewan liar.
Model matematika yang digunakan juga menyederhanakan kanker sebagai tingkat mortalitas tinggi pada hewan tua, tanpa membedakan jenis tumor, respons imun, atau pengobatan.
**Signifikansi Ilmiah**
Meski begitu, studi ini mampu menjembatani onkologi komparatif, teori riwayat hidup, dan ekologi populasi dalam satu kerangka evolusioner yang utuh.
**Implikasi bagi Manusia**
Untuk manusia,
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Kanker: Biografi Suatu Penyakit (The Emperor of All Maladies)