Seekor buaya raksasa kembali memperlihatkan ironi perilaku makan predator puncak. Di Riau, buaya seberat 585 kilogram dengan panjang 5,7 meter ditemukan mati dengan perut berisi sampah plastik hingga pecahan tabung televisi. Kontras dengan perilaku ini, kerabat buaya di Amerika Selatan, kaiman, justru kerap menghindari mangsa alami yang mudah seperti kapibara.
Kaiman merupakan jenis crocodilian yang umum ditemukan di habitat hutan basah Amerika Selatan. Mengapa predator ini justru ogah menyantap kapibara?
**Temuan Mengejutkan di Perut Buaya Riau**
Buaya raksasa tersebut ditangkap warga di Desa Sungai Undan, Indragiri Hilir, Riau, pada 31 Oktober 2025 dan kemudian mati pada 20 November 2025. Sebelum bangkai dikirim untuk diawetkan di lembaga konservasi dibawah Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan di Jakarta, bangkai tersebut dibedah untuk mengeluarkan isi perutnya.
Hasilnya sangat mengejutkan. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Inhil, Junaidi, merinci temuan non-alami yang terdapat di dalam perut buaya tersebut.
“Kantong plastik ada 20 buah kami temukan dalam perut buaya. Ada juga pisau kecil dengan gagangnya dan ada pecahan tabung televisi. Semuanya masih utuh, karena tidak bisa dicerna oleh buaya,” ungkap Junaidi.
Junaidi juga menyebutkan adanya karung goni, tutup botol plastik, dan mata tombak di dalam perut hewan dilindungi itu. Benda-benda yang tak tercerna tersebut diduga kuat menjadi penyebab buaya sempat tidak mau makan sebelum akhirnya mati.
**Kapibara Justru Aman dari Predator**
Kasus buaya di Riau yang menelan sampah plastik hingga tabung televisi ini kontras tajam dengan perilaku crocodilian di Amerika Selatan terhadap mangsa alami mereka.
Kapibara (Hydrochoerus hydrochaeris), pengerat terbesar di dunia, hidup berdampingan di habitat yang sama dengan kaiman, keluarga dekat buaya. Meskipun tempat berkumpul kapibara di tepi sungai dan rawa merupakan wilayah kekuasaan kaiman dan buaya, kapibara tidak menjadi santapan sang predator.
Menurut Dr. Elizabeth Congdon, pakar kapibara dari Bethune-Cookman University, sangat jarang buaya berburu dan memakan kapibara di alam liar. Menurutnya, meski kapibara tidak pernah sepenuhnya aman, terutama saat sumber makanan lain sulit ditemukan, insiden pemangsaan tetap merupakan kejadian yang jarang terjadi.
“Ini jarang terjadi, apalagi jika ada banyak ikan dan mangsa yang lebih mudah ditangkap daripada kapibara. Saya pernah melihat mereka tidur berdekatan di alam liar,” tutur Dr Congdon dikutip IFL Science.
**Alasan Kaiman Menghindari Kapibara**
Dr Congdon menjelaskan kaiman cenderung memilih mangsa yang lebih mudah. Kapibara memiliki gigi depan yang besar dan tajam yang bisa melukai predator.
“Kapibara punya gigi yang besar dan tajam. Ditambah dengan ukuran tubuh mereka. Menurut saya, risikonya tidak sebanding dengan manfaat dan masalahnya jika buaya makan kapibara,” jelas Dr Congdon.
**Si Paling Santai yang Disukai Banyak Hewan**
Selain kaiman dan buaya, banyak spesies lain ternyata memiliki hubungan bersahabat dengan kapibara. Dr Congdon menyebutkan banyak contoh persahabatan unik kapibara, bahkan di penangkaran dan alam liar.
“Saya punya foto-foto kapibara dengan burung-burung yang menunggangi punggung mereka, kura-kura berjemur di punggung mereka saat mereka tidur, dan ada banyak contoh di kebun binatang dan di penangkaran,” lanjut Dr. Congdon.
Sikap santai kapibara ini juga didukung oleh kebutuhan hidupnya yang sederhana. “Jika mereka punya sepetak rumput untuk dimakan atau kolam yang bagus untuk mendinginkan diri, mereka akan baik-baik saja,” tutup Dr. Congdon.
**Ironi Perilaku Predator Modern**
Ironisnya, predator raksasa tersebut lebih memilih mengambil risiko menelan sampah plastik, pisau, hingga pecahan tabung televisi—benda yang tidak bernutrisi dan mematikan—daripada mengambil risiko kecil terluka saat berburu mangsa alami seperti kapibara.
**Ancaman Pencemaran Plastik pada Predator Puncak**
Kasus ini menegaskan bahwa ancaman sampah plastik kini menjadi penyebab kematian yang lebih nyata bagi predator puncak di ekosistem perairan. Pencemaran plastik telah mengubah perilaku alami hewan dan mengancam kelangsungan hidup spesies yang seharusnya berada di puncak rantai makanan.
**Dampak Lingkungan dan Konservasi**
Temuan ini menunjukkan betapa serius dampak pencemaran plastik terhadap satwa liar. Predator yang seharusnya memiliki naluri berburu yang tajam kini lebih sering mengonsumsi sampah daripada mangsa alami mereka.
**Pelajaran dari Alam**
Kontras perilaku antara buaya di Riau dan kaiman di Amerika Selatan memberikan gambaran bahwa lingkungan yang tercemar telah mengubah pola perilaku alami satwa. Sementara kaiman masih memiliki pilihan mangsa alami yang beragam, buaya di perairan yang tercemar terpaksa mengonsumsi apa saja yang ditemuinya, termasuk sampah berbahaya.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa pencemaran plastik tidak hanya mengancam ekosistem laut, tetapi juga predator air tawar yang berperan penting dalam keseimbangan ekosistem.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: