Para ilmuwan baru saja menemukan spesies anggrek kecil di Pegunungan Andes, Kolombia, yang diberi nama ilmiah Lepanthes nasariana. Anggrek ini hidup di hutan dingin dan berkabut pada ketinggian sekitar 2.800-3.600 meter di atas permukaan laut.
Ironisnya, spesies anggrek yang baru ditemukan ini sudah terancam punah. Perubahan iklim membuat habitat spesies penyuka udara dingin ini perlahan menghilang.
**Efek Nasar: Diberi Nama Sebelum Punah**
Penelitian dipimpin oleh Juan Sebastián Moreno, ahli botani di Universidad del Valle, Kolombia. Moreno sering melacak bagaimana tekanan iklim membentuk kembali tumbuhan gunung Kolombia bahkan sebelum mereka sempat didokumentasikan sepenuhnya.
Untuk menggambarkan situasi tragis ini, para peneliti menciptakan istilah “Efek Nasar” (Nasar Effect)—mengacu pada kasus di mana spesies seperti Lepanthes nasariana baru dideskripsikan secara formal meskipun model sudah memprediksi kepunahannya.
Nama tersebut diambil dari tokoh Santiago Nasar dalam novel García Márquez, “Chronicle of a Death Foretold” (Kronik Kematian yang Sudah Diramalkan), seorang pria yang sudah diramalkan untuk mati jauh sebelum ia mengetahuinya.
**Ancaman terhadap Spesies Belum Teridentifikasi**
Sebuah studi terbaru menemukan bahwa sekitar tiga dari empat spesies tumbuhan yang belum dideskripsikan sudah menghadapi kepunahan di seluruh dunia. Pola ini berarti banyak penemuan di masa depan—terutama di kawasan keanekaragaman hayati yang terisolasi—sudah mendekati kepunahan.
**Prediksi Kehilangan Habitat 96 Persen**
Untuk mengukur masa depan Lepanthes nasariana, tim Moreno membangun model distribusi spesies. Model ini mengaitkan lokasi di mana anggrek diketahui tumbuh dengan data iklim untuk memetakan area yang kondisinya sesuai.
Dalam artikel yang diterbitkan di jurnal PhytoKeys, para peneliti melaporkan bahwa pada skenario tingkat emisi tinggi, anggrek tersebut dapat kehilangan 96 persen habitat yang cocok pada tahun 2090.
Bahkan ketika mereka menguji skenario emisi tingkat menengah, model masih menunjukkan penurunan tajam habitat di masa depan dibandingkan dengan saat ini.
Untuk spesies yang diketahui dari kurang dari sepuluh lokasi, penyusutan drastis seperti itu menyisakan sedikit ruang untuk kesalahan akibat badai, penyakit, atau perubahan penggunaan lahan.
**Karakteristik Anggrek Epifit yang Rentan**
Lepanthes nasariana adalah epifit—tumbuhan yang tumbuh menempel pada cabang pohon, mengambil kelembaban dari hujan dan kabut alih-alih dari tanah. Anggrek kecil ini tumbuh hanya beberapa inci tingginya, dengan bunga merah-emas yang menempel di bawah daun inangnya.
Di antara tumbuhan yang hidup di pohon, anggrek merupakan bagian dari kelompok epifit yang membentuk bagian signifikan dari keragaman gunung tropis.
**Ancaman terhadap Epifit**
Studi eksperimental terbaru menemukan bahwa dengan emisi yang lebih tinggi, 5 hingga 36 persen spesies epifit dapat menghilang.
“Memperbarui kumpulan data global untuk tumbuhan epifit telah menunjukkan bahwa banyak spesies memiliki jangkauan yang lebih kecil dari yang diperkirakan, yang meningkatkan kerentanan mereka terhadap guncangan iklim,” catat studi tersebut.
**Strategi Konservasi yang Diperlukan**
Untuk melindungi sisa-sisa hutan tempat Lepanthes nasariana tumbuh, perlu dijaga agar naungan, kelembaban, dan koneksi habitat tetap utuh sehingga kantong-kantong yang lebih dingin (climate refugia) dapat bertahan saat suhu naik.
Selain itu, program konservasi ex-situ—upaya yang menjaga spesies tetap hidup di luar jangkauan alaminya—juga diperlukan.
“Untuk anggrek kecil seperti Lepanthes nasariana, menyimpan benih, jaringan, atau seluruh tanaman di bawah kondisi terkontrol dapat membeli waktu sementara masyarakat berupaya mengurangi emisi,” saran para peneliti.
**Perlombaan Melawan Waktu**
Penemuan Lepanthes nasariana menjadi simbolis dari dilema konservasi modern: spesies-spesies baru ditemukan dalam kondisi sudah terancam punah akibat perubahan iklim.
**Pentingnya Konservasi Preventif**
Kasus ini menekankan pentingnya konservasi preventif dan mitigasi perubahan iklim untuk melindungi spesies yang bahkan belum kita ketahui keberadaannya.
**Habitat Pegunungan yang Terancam**
Ekosistem pegunungan tropis seperti di Andes Kolombia menjadi salah satu yang paling rentan terhadap perubahan iklim, karena spesies di sana tidak memiliki kemampuan bermigrasi ke tempat yang lebih tinggi ketika suhu meningkat.
**Upaya Dokumentasi yang Mendesak**
Para ilmuwan kini berpacu dengan waktu untuk mendokumentasikan spesies-spesies yang terancam sebelum mereka punah, sambil mengembangkan strategi konservasi yang efektif.
Penemuan Lepanthes nasariana menjadi pengingat akan kekayaan biodiversitas yang masih tersembunyi sekaligus kerentanannya terhadap krisis iklim global yang terus berlangsung.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: