Kucing peliharaan selama ini terkenal sebagai pemburu burung dan tikus. Namun riset terkini menunjukkan bahwa mereka juga aktif memangsa berbagai jenis serangga dan laba-laba di lingkungan perkotaan—jauh lebih sering daripada yang disadari banyak orang.
Sebuah studi dari Brasil mengungkapkan bagaimana unggahan di media sosial, terutama video TikTok dan foto di iStock, dapat menjadi “jejak digital” yang membantu ilmuwan memahami perilaku kucing yang selama ini luput dari pengamatan lapangan.
**Data dari 17.000 Unggahan Media Sosial**
Riset tersebut dilakukan oleh tim dari University of Campinas (UC), Brasil, yang meninjau lebih dari 17.000 video dan foto yang diunggah pemilik kucing. Dari jumlah itu, ditemukan 550 kasus jelas kucing memburu serangga dan artropoda lain—hewan berkaki ruas dengan cangkang keras.
Temuan ini memberi gambaran bahwa kucing rumahan secara diam-diam menambah tekanan pada populasi serangga perkotaan yang sudah menurun akibat polusi dan perubahan lingkungan.
Leticia Alexandre, peneliti utama yang juga seorang mahasiswa ekologi, mengatakan: “Aspek paling menarik dari riset ini adalah bagaimana kami bisa menggunakan data media sosial untuk mengungkap dampak kucing peliharaan pada biodiversitas yang selama ini diabaikan literatur ilmiah.”
**Predator Serbaguna yang Tidak Pilih-Pilih**
Kucing domestik dikenal sebagai generalist predators—predator serbaguna yang memburu apa pun yang dianggap mudah. Analisa global sebelumnya menunjukkan bahwa kucing liar dan kucing peliharaan yang bebas berkeliaran bisa memangsa lebih dari 2.000 spesies di seluruh dunia.
Bahkan di Australia, studi besar memperkirakan bahwa kucing liar memakan sekitar 1,1 miliar invertebrata (hewan tanpa tulang belakang) setiap tahun. Artinya, serangga sudah lama berada dalam daftar mangsa kucing, meski jarang diperhatikan.
**14 Ordo Artropoda Menjadi Target**
Dalam studi baru ini, tim menemukan bahwa kucing memburu 14 ordo artropoda berbeda. Serangga dari ordo Orthoptera—seperti jangkrik, belalang, dan tonggeret—adalah yang paling sering terlihat, mencapai sekitar 20 persen dari total serangan.
Raul Costa-Pereira, Ph.D., peneliti senior proyek, menambahkan: “Hasil kami mencatat kelompok artropoda yang sebelumnya tidak pernah dilaporkan sebagai mangsa kucing dalam literatur ilmiah.”
Menariknya, banyak kucing dalam video tidak benar-benar memakan mangsanya. Mereka hanya memainkan, memukul-mukul, atau mematahkan serangga, lalu pergi begitu saja. Dengan kata lain, banyak kerusakan yang terjadi berupa “pembunuhan sia-sia”.
**Ancaman Serius bagi Ekosistem**
Serangga dan artropoda lain sudah lama berada dalam tekanan: hilangnya habitat, pestisida, polusi, dan perubahan iklim. Ketika kucing ikut memangsa kelompok serangga yang ukurannya besar dan mudah terlihat, kondisi ini dapat mempercepat penurunan populasi lokal—terutama di ruang hijau perkotaan yang kecil.
Serangga memiliki peran penting dalam ekosistem, termasuk penyerbukan, penguraian bahan organik, hingga pengendalian hama alami. Berkurangnya populasi mereka dapat menimbulkan efek domino pada rantai makanan.
Beberapa tinjauan ilmiah global bahkan memperkirakan bahwa populasi serangga darat berkurang sekitar 1 persen setiap tahun. Jika tren ini terus berlangsung, penurunan drastis dapat terjadi dalam beberapa dekade mendatang.
**Keterbatasan Penelitian Tradisional**
Tim Brasil kemudian membandingkan temuan mereka dari media sosial dengan database global diet kucing yang disusun oleh Lepczyk dan koleganya. Hasilnya menunjukkan bahwa studi tradisional yang mengandalkan analisa kotoran atau isi perut kucing mungkin gagal mendeteksi mangsa berukuran kecil dan bertubuh lunak, seperti sebagian besar serangga.
**Pendekatan iEcology**
Inilah yang kemudian disebut sebagai iEcology, pendekatan baru yang memanfaatkan rekaman digital—foto, video, unggahan media sosial—untuk memahami interaksi spesies. Metode ini kini digunakan untuk memetakan migrasi burung, memantau persebaran kupu-kupu, hingga mendeteksi satwa invasif.
Pendekatan digital sangat berguna di kota, di mana riset lapangan sering sulit dilakukan di halaman rumah pribadi atau balkon tinggi gedung.
**Bias Media Sosial**
Tentu saja, media sosial bukan alat pengamatan yang netral. Orang cenderung mengunggah kejadian yang unik, dramatis, atau mengejutkan. Artinya, data condong pada peristiwa yang menarik perhatian, bukan gambaran lengkap perilaku kucing.
Namun, meski bias, analisa ini tetap mengisi celah pengetahuan tentang bagaimana kucing berinteraksi dengan satwa kecil di kota—sesuatu yang jarang tertangkap oleh survei tradisional.
**Langkah-Langkah Pencegahan**
Bagi pemilik kucing, temuan ini memberi perspektif baru. Seekor kucing yang bebas berkeliaran bisa membunuh banyak serangga selain burung atau mamalia kecil, dan sebagian besar aktivitas itu tidak terlihat manusia.
Beberapa langkah sederhana dapat mengurangi dampaknya:
**Menjaga Kucing di Dalam Rumah**
Lebih sering menjaga kucing di dalam rumah. Kucing indoor memiliki umur lebih panjang dan lebih aman dari penyakit serta kecelakaan.
**Menggunakan Kandang Luar (Catio)**
Catio memungkinkan kucing menikmati udara segar tanpa memangsa satwa liar.
**Menambah Stimulasi dalam Rumah**
Mainan berburu, puzzle feeder, atau cat tower dapat mengurangi dorongan berburu di luar.
**Implikasi Penelitian**
Riset ini sekaligus menambah daftar panjang spesies—bukan hanya burung dan reptil—yang terdampak oleh kucing domestik. Penelitian yang dipublikasikan dalam Insect Conservation and Diversity ini menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana seperti mengunggah video kucing bermain serangga ternyata dapat menjadi bukti ilmiah penting tentang bagaimana pilihan manusia memengaruhi ekosistem lokal.
**Dampak pada Konservasi Serangga**
Temuan ini menjadi perhatian khusus bagi upaya konservasi serangga di wilayah perkotaan. Serangga yang menjadi target utama kucing umumnya berukuran besar dan men
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: