-
Nenek Moyang Buaya 240 Juta Tahun Lalu Berzirah dan Mirip Dinosaurus
SANTA MARIA – Ekspedisi paleontologi di Brasil mengungkap fosil reptil colossal berusia 240 juta tahun yang menguak misteri kehidupan pra-dinosaurus di supercontinent Pangaea. Temuan ini memberikan insights baru tentang evolutionary connections antara benua Afrika dan Amerika Selatan pada era Trias. Spesimen yang dinamakan Tainrakuasuchus bellator, yang bermakna “buaya pejuang bergigi runcing,” merupakan ancestor buaya modern…
-
Gegara Perubahan Iklim, Kopi, Cokelat, dan Anggur di Ujung Tanduk
DENVER – Tiga komoditas premium global—kopi, kakao, dan anggur—terancam parah akibat dampak climate change yang terus mengintensif. Penelitian terbaru mengungkap bahwa strategi controversial geoengineering untuk mendinginkan planet tidak cukup efektif melindungi tanaman-tanaman bernilai ekonomi tinggi ini. Studi yang dipublikasikan dalam Environmental Research Letters menunjukkan bahwa dari 18 kawasan produksi utama yang dievaluasi, hanya enam wilayah…
-
Studi Baru Sebut Neanderthal Tidak Punah, tetapi…
ROMA – Kehilangan Neanderthal dari muka bumi sekitar 40.000 tahun silam mungkin bukan kepunahan dalam pengertian absolut. Riset terbaru berbasis pemodelan matematika mengusulkan skenario berbeda: spesies hominid ini secara gradual terintegrasi ke dalam genom manusia modern melalui proses absorpsi genetik. Tim peneliti yang dipimpin Andrea Amadei, ahli kimia komputasi dari University of Rome Tor Vergata,…
-
Kenapa Bata Ringan Jauh Lebih Unggul untuk Konstruksi Tahan Gempa?
JAKARTA – Dalam upaya membangun struktur bangunan yang resilient terhadap aktivitas seismik, eksperts teknik sipil di Indonesia mengadvokasi penggunaan bata ringan (AAC) ketimbang bata merah konvensional. Rekomendasi ini didasarkan pada signifikan weight difference yang berdampak pada structural performance saat terjadi guncangan. Edy Purwanto, akademisi Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS), menekankan bahwa disparitas massa material…