Ada ‘Rongga Radiasi’ di Dekat Bulan, Bisa Ubah Cara Manusia Menjelajah Luar Angkasa

Para ilmuwan menemukan sesuatu yang tak terduga di ruang antara Bumi dan Bulan: sebuah “rongga” atau area dengan tingkat radiasi kosmik yang lebih rendah.

Temuan ini bukan sekadar anomali ilmiah, tetapi berpotensi mengubah strategi eksplorasi manusia ke Bulan di masa depan.

Penelitian ini menggunakan data dari wahana pendarat Chang’e-4 milik China, dan dipublikasikan dalam jurnal Science Advances pada 25 Maret.

Hasilnya menunjukkan bahwa waktu tertentu—khususnya pagi hari di Bulan—memiliki tingkat radiasi yang lebih rendah dibandingkan waktu lainnya.

**Mengapa “Rongga Radiasi” Penting?**

Radiasi kosmik adalah salah satu ancaman terbesar bagi astronaut yang bepergian di luar orbit rendah Bumi. Partikel berenergi tinggi ini dapat menembus pesawat luar angkasa dan jaringan tubuh manusia, merusak DNA, serta meningkatkan risiko kanker.

Selama ini, ilmuwan menganggap bahwa radiasi kosmik relatif merata di ruang antara Bumi dan Bulan, terutama di luar perlindungan medan magnet Bumi.

Namun, temuan terbaru ini justru menggugurkan asumsi tersebut.

Para peneliti menemukan adanya wilayah dengan intensitas radiasi lebih rendah—semacam “rongga”—yang muncul secara konsisten pada waktu tertentu dalam siklus Bulan, khususnya beberapa jam setelah matahari terbit di permukaan Bulan.

**Penurunan Radiasi Hingga 20% di Waktu Pagi**

Analisis dilakukan menggunakan instrumen Lunar Lander Neutron and Dosimetry yang dipasang pada Chang’e-4. Data dikumpulkan selama 31 siklus Bulan, dari Januari 2019 hingga Januari 2022.

Hasilnya menunjukkan bahwa partikel proton berenergi rendah dari radiasi kosmik turun sekitar 20% pada pagi hari lokal di Bulan, terutama saat fase bulan cembung (waxing gibbous).

Peneliti utama, Robert Wimmer-Schweingruber dari Universitas Kiel, Jerman, mengungkapkan: “Saya tidak menyangka akan melihat ‘bayangan’ atau rongga seperti ini. Setelah dipikir-pikir masuk akal, tetapi awalnya saya sangat skeptis.”

Temuan ini mengindikasikan bahwa Bulan sedang melewati wilayah tertentu dengan radiasi lebih rendah—bukan sekadar fluktuasi acak.

**Medan Magnet Bumi Lebih Berpengaruh dari Perkiraan**

Penelitian ini juga mengungkap hal penting lainnya: pengaruh medan magnet Bumi ternyata jauh lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya.

Diduga, medan magnet Bumi mampu “menyaring” sebagian partikel berenergi tinggi, sehingga menciptakan area dengan radiasi lebih rendah di ruang antara Bumi dan Bulan.

Wimmer-Schweingruber menjelaskan: “Hasil ini pada dasarnya menunjukkan bahwa magnetosfer Bumi memengaruhi ruang bahkan di luar batas yang selama ini kita perkirakan.”

Sebelumnya, ilmuwan hanya memperkirakan efek ini terjadi di bagian ekor magnet (magnetotail), yaitu area memanjang di sisi malam Bumi. Namun, temuan baru menunjukkan efek serupa juga terjadi di sisi yang menghadap Matahari.

**Implikasi untuk Misi Artemis**

Penemuan ini datang di saat yang krusial. NASA dan berbagai badan antariksa lain tengah bersiap mengirim manusia kembali ke Bulan, termasuk melalui misi Artemis.

Dengan adanya peta radiasi yang lebih detail, perencana misi kini bisa mempertimbangkan waktu aktivitas astronaut di permukaan Bulan agar lebih aman.

Menurut Wimmer-Schweingruber: “Waktu terbaik bagi astronaut untuk beraktivitas di permukaan Bulan adalah pagi hari lokal—seperti manusia di Bumi.”

Ia juga menyebut bahwa waktu ini dapat mengurangi paparan radiasi pada kulit astronaut hingga sekitar 20% dibandingkan rata-rata kondisi di Bulan.

**Jam Biologis Kosmik untuk Eksplorasi Masa Depan**

Meski masih perlu penelitian lanjutan untuk memahami ukuran dan dinamika “rongga radiasi” ini, temuan tersebut membuka peluang besar bagi eksplorasi Bulan yang lebih aman dan efisien.

Ke depan, strategi misi luar angkasa mungkin tidak hanya mempertimbangkan teknologi dan logistik, tetapi juga “jam biologis kosmik”—memilih waktu terbaik untuk mengurangi risiko radiasi.

Data dari Chang’e-4 ini memberikan insight berharga tentang bagaimana lingkungan radiasi di ruang angkasa tidak sesederhana yang dibayangkan selama ini.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa perlindungan alami dari medan magnet Bumi mungkin lebih ekstensif dari perkiraan awal para ilmuwan.

Dengan kata lain, menjadi “morning person” mungkin bukan hanya baik di Bumi—tetapi juga di Bulan.

Penelitian ini membuka jalan bagi perencanaan misi yang lebih strategis, di mana faktor waktu menjadi kunci keselamatan astronaut dalam eksplorasi jangka panjang ke satelit alami Bumi tersebut.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Nat Geo: Teka-teki Kosmik

Aku Senang Ada: Bintang dan Bulan

Ensiklopedia Saintis Junior: Bumi