Akumulasi Dosa Ekologis, Ahli UGM: Rusaknya Ekosistem Hutan Penyebab Banjir Sumatera

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 merupakan tragedi yang menelan lebih dari 400 korban jiwa, tercatat oleh BNPB sebagai bagian dari 2.726 kejadian bencana hidrometeorologi sepanjang tahun.

Hujan deras yang dipicu dinamika atmosfer ekstrem, termasuk Siklon Tropis Senyar, memang menjadi pemicu awal. Namun, para ahli sepakat bahwa daya rusak yang terjadi sesungguhnya diperparah oleh hilangnya fungsi benteng alam di kawasan hulu.

**Pola Berulang yang Kian Mengancam**

Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, mengatakan bencana banjir bandang akhir November 2025 bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola berulang yang kian meningkat.

“Curah hujan memang sangat tinggi kala itu, BMKG mencatat beberapa wilayah di Sumut diguyur lebih dari 300 mm hujan per hari pada puncak kejadian. Namun, cuaca ekstrem hanyalah pemicu awal. Dampak merusak banjir bandang tersebut sesungguhnya diperparah oleh rapuhnya benteng alam di kawasan hulu,” ujar Hatma dikutip dari laman UGM, Senin (1/12/2025).

**Hutan Sebagai Spons Alami Telah Hilang**

Kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) telah menghilangkan daya dukung dan daya tampung alam untuk meredam curah hujan tinggi. Hutan, yang berfungsi vital sebagai penyangga hidrologis, ibarat spons raksasa.

Hasil penelitian di hutan tropis alami menunjukkan kemampuan hutan untuk menahan dan menampung air hujan di tajuk (intersepsi) mencapai 15–35 persen dari hujan. Dengan permukaan tanah yang tidak terganggu, hutan mampu memasukkan air ke dalam tanah (infiltrasi) hingga 55 persen.

**Air Hujan Tak Lagi Terserap**

Sebaliknya, saat hutan hulu rusak atau gundul, peran hutan untuk intersepsi, infiltrasi, dan evapotranspirasi akan hilang.

“Air hujan yang deras tak lagi banyak terserap karena lapisan tanah kehilangan porositas akibat hilangnya jaringan akar. Akibatnya, mayoritas hujan menjadi limpasan permukaan yang langsung mengalir deras ke hilir,” ucap Hatma.

Limpasan permukaan yang deras inilah yang menciptakan erosi masif dan longsor, cikal bakal munculnya banjir bandang.

**Deforestasi Masif di Tiga Provinsi**

Hatma menyayangkan terjadinya deforestasi masif yang telah berlangsung di banyak kawasan hulu Sumatera, yang turut diperburuk oleh penataan dan pengendalian kawasan yang lemah.

Perambahan hutan, penebangan liar, dan alih fungsi lahan hutan menjadi kebun sawit di kawasan hulu menjadi penyebab bencana hidrometeorologi.

**Kondisi Hutan di Tiga Wilayah Bencana**

**Aceh**: Provinsi ini kehilangan lebih dari 700.000 hektare hutan alam dalam kurun 1990–2020. Kerentanan terhadap banjir meningkat signifikan.

**Sumatera Utara**: Tutupan hutan tersisa hanya sekitar 29 persen luas daratan. Salah satu benteng terakhir, ekosistem Batang Toru, kini terdesak oleh aktivitas perusahaan, mulai dari penebangan liar, pembukaan kebun, hingga pertambangan emas.

**Sumatera Barat**: Meski persentase hutannya masih 54 persen, Walhi Sumbar mencatat provinsi ini kehilangan sekitar 320.000 ha hutan primer dalam periode 2001–2024. Sisa hutan yang berada di lereng curam Bukit Barisan membuat risiko longsor dan banjir bandang meningkat drastis.

**Pendangkalan Sungai Memperburuk Dampak**

Dosen Fakultas Kehutanan UGM tersebut menambahkan, pendangkalan dan penyempitan sungai akibat sedimen yang terbawa dari tanah yang tererosi pun memperbesar risiko luapan banjir.

“Dengan kata lain, hutan hulu yang hilang berarti hilangnya sabuk pengaman alami bagi kawasan di bawahnya,” jelas dia.

**Akumulasi Dosa Ekologis**

Tragedi November 2025 sejatinya adalah akumulasi “dosa ekologis” di hulu DAS. Tanpa pembenahan serius, setiap puncak musim hujan bisa mendatangkan petaka serupa.

Langkah mitigasi ke depan harus menyeimbangkan antara pendekatan struktural (infrastruktur teknis) dan pendekatan ekologis.

**Solusi Perlindungan Hutan**

Hatma menekankan, perlindungan hutan dan konservasi DAS harus menjadi prioritas utama. Pemerintah perlu menghentikan laju deforestasi secara tegas, mempertahankan sisa hutan di hulu kritis seperti Ekosistem Leuser dan Batang Toru sebagai “harga mati”, serta mendesak rehabilitasi lahan kritis.

**Kunci Ketangguhan Menghadapi Bencana**

Pada akhirnya, kunci ketangguhan menghadapi bencana terletak pada keseimbangan hubungan manusia dan alam.

“Dengan melindungi hutan, menata ruang berbasis mitigasi, dan meningkatkan kesadaran ekologis, masyarakat di Sumatera dan Indonesia secara umum dapat menjadikan Indonesia lebih tangguh menghadapi ancaman banjir bandang dan longsor yang mungkin meningkat seiring perubahan iklim.”

**Urgensi Tindakan Komprehensif**

Penelitian ini menegaskan bahwa bencana alam yang terjadi tidak semata-mata karena faktor cuaca ekstrem, melainkan hasil dari kerusakan sistematis terhadap ekosistem hutan selama puluhan tahun.

Pemulihan dan perlindungan hutan hulu menjadi kunci utama dalam mencegah berulangnya tragedi serupa di masa mendatang. Tanpa tindakan komprehensif, Indonesia akan terus menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang semakin intens.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa)

Aku Senang Ada: Awan dan Hujan

Benantara: Bentang Alam dalam Gelombang Sejarah Nusantara