Di tengah bentangan gurun Arab Saudi yang tampak lengang, sekitar 50 kilometer selatan Oasis Tayma, berdiri sebuah formasi batu yang menakjubkan bernama Al Naslaa. Batu raksasa berdiameter sekitar 9 meter ini memiliki keunikan yang membuatnya menjadi salah satu fenomena geologi paling membingungkan di dunia.
Yang membuat Al Naslaa istimewa adalah retakan yang membelahnya dua dengan garis yang nyaris sempurna lurus, seolah dipotong dengan alat presisi tinggi. Lebih menakjubkan lagi, kedua bagian batu tersebut tetap berdiri stabil di atas dua pijakan batu yang terlihat hampir simetris.
**Situs Bersejarah dengan Ukiran Kuno**
Al Naslaa bukan sekadar formasi geologi unik. Permukaan batunya menyimpan jejak peradaban berupa petroglyph—gambar atau simbol yang dibuat dengan mengukir permukaan batu. Ukiran-ukiran tersebut menampilkan kuda Arab, ibex (kambing gunung), serta sosok manusia.
Meskipun waktu pembuatan ukiran belum diketahui pasti, batu Al Naslaa sendiri tersusun dari batu pasir (sandstone) yang diperkirakan telah berumur ribuan tahun. Hal ini menjadikan Al Naslaa sekaligus sebagai situs bersejarah yang berharga.
**Teori-teori Pembentukan Retakan**
Para peneliti mengajukan beberapa teori untuk menjelaskan bagaimana batu ini bisa terbelah dengan begitu rapi:
**1. Retakan Akibat Patahan Geologi**
Teori pertama menyebutkan bahwa Al Naslaa mungkin berdiri tepat di atas jalur patahan. Saat tanah bergerak, batu bisa terbelah di titik terlemah. Retakan yang terbuka kemudian berfungsi sebagai lorong angin yang membawa pasir, dan selama ribuan tahun, pasir halus tersebut berperan sebagai amplas alami yang mengikis sisi retakan hingga tampak rata dan halus.
**2. Joint atau Retakan Alami**
Dalam geologi, terdapat istilah “joint”—retakan yang terbentuk alami pada batuan tanpa pergeseran antar bagian. Joint bisa sangat lurus dan tampak seperti garis buatan. Yang membuat Al Naslaa unik adalah tidak semua joint menghasilkan pembelahan setegas dan semulus ini.
**3. Proses Beku-Cair**
Teori lain melibatkan pelapukan freeze-thaw, di mana air masuk ke celah kecil pada batu. Saat membeku, air mengembang dan memperlebar celah. Siklus ini berulang selama ribuan tahun hingga akhirnya batu terbelah dua.
**Fenomena Mushroom Rock**
Dua pedestal yang membuat Al Naslaa seolah bertumpu pada penyangga kecil merupakan fenomena umum di gurun yang disebut mushroom rock atau batu jamur. Bentuk ini terbentuk karena pelapukan dan erosi, terutama oleh angin yang membawa pasir.
Angin di dekat permukaan tanah yang membawa lebih banyak partikel pasir menyebabkan bagian bawah batu lebih cepat terkikis dibanding bagian atas, sehingga terbentuk “leher” batu yang menyerupai jamur.
**Kemungkinan Campur Tangan Manusia**
Beberapa pihak berspekulasi bahwa retakan tersebut dibuat manusia, mengingat Al Naslaa tersusun dari sandstone yang relatif lunak. Secara teori, alat logam sederhana bisa memotong jenis batu ini. Namun, bukti kuat yang menunjukkan pemotongan oleh manusia belum ditemukan.
Keberadaan petroglyph di permukaannya memang menunjukkan bahwa manusia pernah berinteraksi dengan batu ini, setidaknya sebagai media ekspresi dan dokumentasi.
**Misteri yang Belum Terpecahkan**
Hingga kini, belum ada konsensus tunggal mengenai penyebab terbelahnya batu Al Naslaa. Para ahli menduga formasi ini merupakan hasil kombinasi dari retakan alami (patahan atau joint), pelapukan jangka panjang, erosi oleh pasir yang terus bergerak, serta kondisi iklim yang berubah selama ribuan tahun.
Sisi misterius Al Naslaa terletak pada kesempurnaannya: retakan yang tampak terlalu rapi untuk ukuran fenomena alam, tetapi juga sulit dibuktikan sebagai karya manusia. Fenomena ini menjadi contoh bagaimana alam dan waktu dapat menghasilkan bentuk-bentuk yang terlihat hampir mustahil, sekaligus menunjukkan bagaimana jejak manusia dapat menambah lapisan cerita pada sebuah fenomena geologi.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: