Anjing Liar Kawin dengan Serigala, Lahirkan Hibrida Unik di Yunani

Seekor hewan misterius berkeliaran di dekat Thessaloniki, Yunani utara. Sekilas tampak seperti serigala, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Setelah diuji DNA-nya, hasilnya mencengangkan: hewan itu ternyata 55% anjing dan 45% serigala.

Penemuan ini bukan sekadar sensasi. Hal tersebut membuka kembali diskusi panjang tentang hubungan genetik antara anjing dan serigala, sekaligus menyoroti persoalan populasi anjing liar yang tak terkendali di Yunani.

**Kedekatan Genetik yang Luar Biasa**

Serigala (Canis lupus) dan anjing domestik (Canis lupus familiaris) diyakini berpisah jalur evolusinya sekitar 27.000 hingga 40.000 tahun lalu. Nenek moyang anjing modern kemungkinan adalah keturunan serigala abu-abu yang kini telah punah.

Secara genetika, keduanya hampir tidak bisa dibedakan. Mereka 99,9% identik secara genetik. Berbeda dengan kuda dan keledai yang menghasilkan bagal mandul, anjing dan serigala bisa menghasilkan keturunan yang subur.

Hal ini terjadi karena kromosom mereka dapat “dibagi rata” menjadi pasangan yang seimbang. Artinya, jika terjadi perkawinan silang, anak yang lahir tetap memiliki peluang bereproduksi.

Meski demikian, hibrida serigala-anjing di alam liar tergolong langka.

**Kendala Perkawinan Silang di Alam**

Serigala hanya berkembang biak sekali dalam setahun. Selain itu, mereka sangat teritorial. Jika seekor anjing liar atau tersesat memasuki wilayah mereka, kemungkinan besar anjing tersebut akan diusir—bahkan dibunuh—bukan diajak kawin.

Namun bukti genetika menunjukkan bahwa perkawinan silang memang pernah terjadi. Fragmen DNA anjing ditemukan pada lebih dari setengah genom serigala Eurasia. Penemuan di Yunani ini menjadi bukti nyata terbaru.

**Konfirmasi Ilmiah yang Jarang Terjadi**

Hibrida ini ditemukan secara tidak sengaja oleh kelompok konservasi satwa liar Yunani, Callisto. Saat itu mereka sedang berupaya menangkap seekor serigala liar bermasalah di wilayah Halkidiki.

Selama ini, klaim kemunculan hibrida serigala-anjing di Eropa—juga di Amerika Serikat dan Asia Tengah—sering kali hanya berdasarkan penampilan fisik. Padahal, banyak anjing liar yang memiliki ciri menyerupai serigala.

Untuk memastikan, Callisto melakukan tes DNA terhadap 50 sampel serigala dari daratan Yunani. Hasilnya menunjukkan satu individu dengan komposisi genetik yang unik: 55% anjing dan 45% serigala. Ini menjadi konfirmasi ilmiah yang jarang terjadi.

**Populasi Serigala yang Terus Bertambah**

Menariknya, temuan ini terjadi saat populasi serigala Yunani justru meningkat. Sejak Konvensi Bern tahun 1983 melarang perburuan serigala—sebagai bagian dari upaya perlindungan karnivora besar yang terancam punah seperti serigala dan beruang—jumlah mereka terus bertambah.

Callisto, yang telah memantau populasi serigala selama enam tahun terakhir, memperkirakan kini terdapat sekitar 2.075 ekor serigala di Yunani. Setidaknya tiga kawanan, masing-masing berisi sekitar 31 ekor, hidup di Pegunungan Parnitha, tak jauh dari Athena.

Peningkatan populasi ini bisa jadi memperbesar peluang interaksi dengan anjing liar.

**Fenomena Alami, Bukan Rekayasa**

Penemuan ini berbeda sama sekali dari proyek bioteknologi yang mencoba “menghidupkan kembali” serigala purba (dire wolf) yang telah punah 10.000 tahun lalu. Dalam proyek tersebut, perusahaan bioteknologi mengekstraksi DNA dari fosil serigala purba, lalu menggabungkannya dengan sel induk serigala abu-abu modern.

Kasus di Yunani bukan rekayasa genetika—melainkan hasil interaksi alami antara satwa liar dan anjing domestik.

Beberapa ahli menduga kemunculan hibrida ini berkaitan dengan tingginya jumlah anjing liar di Yunani. Diperkirakan lebih dari 3 juta anjing dan kucing liar berkeliaran di jalanan negara tersebut. Banyak dari mereka bertahan hidup dengan sisa makanan restoran.

Dalam kondisi seperti ini, bukan tidak mungkin seekor anjing liar tersesat memasuki wilayah serigala, terjadi perkawinan, dan berhasil keluar hidup-hidup. Dari pertemuan semacam itulah hibrida seperti ini bisa lahir.

**Dilema Konservasi Modern**

Keberadaan hibrida serigala-anjing memunculkan dilema konservasi. Di satu sisi, ini adalah fenomena biologis alami yang mungkin telah terjadi sepanjang sejarah. Di sisi lain, pencampuran genetik berlebihan dapat mengancam kemurnian gen serigala liar.

Pertanyaannya kini: apakah ini kejadian langka, atau tanda perubahan ekosistem akibat tekanan manusia?

**Refleksi Hubungan Manusia dan Alam**

Penemuan hibrida 55% anjing dan 45% serigala di Yunani menjadi pengingat bahwa batas antara dunia liar dan dunia domestik semakin kabur. Dan ketika populasi satwa liar pulih, tantangan baru pun muncul—termasuk interaksi yang tak terduga dengan hewan hasil domestikasi manusia.

Fenomena ini bukan sekadar kisah unik tentang seekor hewan aneh. Hal tersebut adalah cerminan kompleksitas hubungan manusia, hewan peliharaan, dan alam liar di era modern.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab dan Cerita-Cerita Lain