Antitesis Matinya Kepakaran: Menjaga Akal Sehat di Era Semua Merasa Tahu

Beberapa pekan lalu, media sosial kembali diramaikan perdebatan yang sekilas tampak sepele, namun sesungguhnya mencerminkan persoalan yang jauh lebih mendasar. Seorang warganet dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa GERD dapat menyebabkan serangan jantung, dan menolak koreksi yang disampaikan oleh seorang dokter spesialis jantung.

Dokter tersebut menjelaskan bahwa GERD tidak menyebabkan serangan jantung, meskipun gejalanya bisa menyerupai nyeri dada. Alih-alih menjadi ruang klarifikasi, diskusi justru berakhir pada sikap ngotot, saling meremehkan, dan tuduhan bahwa “dokter juga bisa salah.”

Contoh semacam ini bukanlah kasus tunggal. Ia adalah potret kecil dari fenomena yang lebih luas, yang oleh banyak pemikir disebut sebagai “matinya kepakaran” (the death of expertise).

**Demokratisasi Informasi vs Demokratisasi Kompetensi**

Istilah “matinya kepakaran” dipopulerkan oleh Tom Nichols untuk menggambarkan situasi ketika otoritas keilmuan tidak lagi dipercaya, bahkan ditolak, bukan karena argumennya lemah, melainkan karena setiap orang merasa setara dalam pengetahuan.

Internet dan media sosial memang telah mendemokratisasi akses informasi, tetapi demokratisasi ini sering kali disalahartikan sebagai demokratisasi kompetensi. Dalam konteks ini, kepakaran tidak lagi dilihat sebagai hasil dari proses panjang—pendidikan formal, latihan bertahun-tahun, verifikasi ilmiah, dan etika profesi—melainkan sekadar “satu opini di antara opini lain.”

Seorang pakar dan seorang awam ditempatkan pada posisi yang sama, dengan bobot argumen ditentukan oleh jumlah likes, followers, atau keberanian berbicara.

**Efek Dunning-Kruger dan Ilusi Pengetahuan**

Fenomena ini berkaitan erat dengan Dunning-Kruger Effect, yaitu bias kognitif di mana individu dengan pengetahuan terbatas justru cenderung melebih-lebihkan pemahamannya. Ketidaktahuan membuat seseorang tidak menyadari sejauh apa ketidaktahuannya.

Dalam konteks kesehatan, psikologi, ekonomi, atau kebijakan publik, bias ini berbahaya. Orang yang membaca satu artikel, menonton satu video, atau mengalami satu kejadian pribadi, merasa telah memahami keseluruhan persoalan.

Sebaliknya, mereka yang benar-benar mendalami suatu bidang justru lebih berhati-hati, karena menyadari kompleksitas dan keterbatasan pengetahuan yang ada. Ironisnya, kehati-hatian inilah yang kerap disalahartikan sebagai keraguan atau kelemahan.

**Pentingnya Metode, Bukan Sekedar Pengetahuan**

Kepakaran bukan sekadar soal “lebih tahu,” melainkan soal cara mengetahui. Pakar dilatih untuk membedakan antara korelasi dan kausalitas, antara bukti anekdot dan data sistematis, antara hipotesis dan kesimpulan. Mereka juga terikat pada mekanisme koreksi: peer review, standar etik, dan akuntabilitas profesional.

Ketika seorang dokter mengatakan bahwa GERD tidak menyebabkan serangan jantung, pernyataan itu tidak lahir dari opini pribadi, melainkan dari akumulasi riset, konsensus ilmiah, dan pengalaman klinis yang teruji. Mengabaikan kepakaran berarti mengabaikan proses panjang tersebut, dan menggantinya dengan intuisi yang belum tentu akurat.

**Dialog, Bukan Dominasi**

Namun, solusi dari “matinya kepakaran” bukanlah kembalinya sikap elitis atau otoriter. Kepakaran yang sehat tidak berdiri di menara gading. Ia justru perlu hadir dalam dialog dengan publik.

Tidak semua orang adalah pakar, tetapi tidak semua suara awam harus diabaikan. Di sinilah pentingnya membedakan antara klaim keilmuan dan pengalaman personal. Pengalaman pribadi layak dipandang sebagai anekdot, bukan sebagai bukti ilmiah, tetapi tetap relevan sebagai titik awal pertanyaan.

Misalnya, seorang klien menyampaikan kepada psikolog bahwa ia menemukan diagnosis tertentu atau teknik psikoterapi baru dari internet, dan merasa pendekatan tersebut membantunya. Respons profesional yang sehat bukanlah menertawakan atau serta-merta menolaknya, melainkan mengajukan pertanyaan reflektif: apa yang klien pikirkan dan rasakan, apa yang berubah dalam dirinya, serta bagaimana proses itu bekerja.

**Kerendahan Hati Tanpa Mengorbankan Integritas**

Salah satu kritik yang kerap muncul adalah bahwa sebagian pakar kerap tampil arogan, defensif, atau meremehkan pertanyaan dari kalangan awam. Ada kecenderungan menganggap bahwa pendidikan formal bertahun-tahun—yang ditempuh dengan kerja keras dan pengorbanan—secara otomatis menjustifikasi otoritas keilmuan secara mutlak.

Kritik ini tidak sepenuhnya keliru. Kepakaran yang kehilangan empati dan sensitivitas sosial justru berpotensi mempercepat erosi kepercayaan publik.

Namun, kerendahan hati bukan berarti relativisme pengetahuan. Pakar tetap memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi, meluruskan miskonsepsi, dan menjelaskan batas antara fakta, hipotesis, dan spekulasi. Edukasi ini membutuhkan kesabaran, bahasa yang membumi, dan kesediaan berdialog—tanpa harus mengorbankan integritas ilmiah.

**Ruang Edukasi, Bukan Arena Pertarungan**

Alih-alih meratapi “matinya kepakaran,” diskusi publik seharusnya dipandang sebagai ruang pendidikan kolektif. Ketika masyarakat mempertanyakan otoritas, itu bisa dibaca sebagai tanda meningkatnya rasa ingin tahu—asal diarahkan dengan benar.

Pakar perlu menyadari bahwa informasi tentang bidangnya kini tersedia luas dan mudah diakses. Artikel jurnal, ringkasan riset, hingga kuliah daring dapat dibaca siapa saja. Namun, kedalaman pemahaman, kemampuan menilai kualitas bukti, dan integrasi pengetahuan lintas konteks tetap membutuhkan proses yang tidak instan.

**Menjaga Akal Sehat di Era Informasi Berlebihan**

Di era digital, tantangan kita bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi tanpa penapisan. Dalam situasi ini, kepakaran bukan musuh demokrasi, melainkan salah satu pilar akal sehat kolektif.

Solusi dari “matinya kepakaran” bukanlah menuntut publik untuk diam, tetapi mengajak semua pihak—pakar dan nonpakar—untuk menempatkan diri secara proporsional. Publik berhak bertanya dan berbagi pengalaman; pakar


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru