Jika Anda pernah melihat ilustrasi atau model tata surya, mungkin Anda menyadari sesuatu yang menarik: hampir semua planet mengorbit Matahari pada bidang yang sama dan bergerak ke arah yang sama. Tata surya tampak seperti piringan datar, bukan kumpulan planet yang bergerak pada jalur acak ke segala arah.
Namun pertanyaan yang sering muncul adalah: apa yang sebenarnya ada di atas atau di bawah bidang orbit tersebut? Apakah ada sesuatu “di bawah” Bumi di luar angkasa?
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat tata surya bukan hanya dari sudut pandang Bumi, tetapi juga dari skala galaksi hingga struktur kosmik yang jauh lebih besar.
**Bidang Orbit Planet yang Sejajar**
Menurut Jeff Moersch, profesor Ilmu Bumi, Lingkungan, dan Planet di University of Tennessee, memahami struktur tiga dimensi tata surya sangat penting, terutama bagi ilmuwan yang mengoperasikan wahana antariksa seperti rover dan satelit pengorbit.
Planet-planet di tata surya bergerak dalam bidang yang disebut bidang ekliptika (ecliptic plane). Bidang ini adalah bidang imajiner yang mengikuti jalur orbit Bumi mengelilingi Matahari. Planet lain juga hampir semuanya berada di bidang yang sama.
Secara konvensi, para astronom mendefinisikan arah atas dan bawah berdasarkan bidang ini. “Secara konvensi, kita mengatakan bahwa dari atas bidang ekliptika planet-planet terlihat mengorbit Matahari berlawanan arah jarum jam, sedangkan dari bawah terlihat searah jarum jam.”
Namun sebenarnya konsep “atas” dan “bawah” di ruang angkasa tidak mutlak.
**Relativitas Arah di Bumi**
Di Bumi, arah atas dan bawah sangat dipengaruhi oleh gravitasi. Segala sesuatu jatuh menuju pusat Bumi, sehingga manusia menganggap arah menuju tanah sebagai “bawah”. Namun arah tersebut sebenarnya berbeda-beda tergantung lokasi di Bumi.
Bayangkan seseorang berdiri di Amerika Utara dan menunjuk ke bawah. Jika garis dari jarinya menembus Bumi hingga ke sisi lain planet, garis tersebut justru akan menunjuk ke arah yang dianggap “atas” oleh seseorang yang berada di Samudra Hindia bagian selatan.
Dengan kata lain, arah bawah di Bumi bersifat lokal, bukan universal.
**Perspektif dari Skala Tata Surya**
Dalam konteks tata surya, arah “bawah” sering dianggap sebagai arah di bawah bidang ekliptika. Namun tidak ada objek istimewa yang berada di sana. Jika Anda bergerak cukup jauh ke arah tersebut, Anda hanya akan menemukan ruang antarplanet, komet, asteroid, dan pada akhirnya bintang lain dengan sistem planetnya sendiri.
Menariknya, konsep bidang datar tidak hanya berlaku pada tata surya. Jika kita memperbesar skala pengamatan, kita akan menemukan:
**1. Bidang Tata Surya (Ekliptika)**
Planet-planet mengorbit Matahari pada bidang yang hampir sama.
**2. Bidang Galaksi (Galactic Plane)**
Bintang-bintang di galaksi Bima Sakti juga mengorbit pusat galaksi dalam bidang yang disebut galactic plane. Namun bidang ini tidak sejajar dengan bidang tata surya. Sudut antara keduanya sekitar 60 derajat.
**3. Bidang Supergalaksi (Supergalactic Plane)**
Galaksi Bima Sakti sendiri merupakan bagian dari kumpulan galaksi yang disebut Local Group. Sebagian besar galaksi dalam kelompok ini juga berada dalam bidang lain yang disebut supergalactic plane. Bidang ini hampir tegak lurus terhadap bidang galaksi, dengan sudut sekitar 84,5 derajat.
**Mengapa Struktur Alam Semesta Cenderung Datar?**
Jawabannya berkaitan dengan bagaimana bintang dan planet terbentuk. Pada awalnya, tata surya berasal dari awan gas dan debu raksasa yang disebut nebula surya (solar nebula). Awan ini sangat luas dan setiap partikel kecil di dalamnya memiliki massa sehingga saling tarik-menarik melalui gravitasi.
Seiring waktu, awan mulai mengalami keruntuhan gravitasi dan menyusut. Awan tersebut juga memiliki rotasi kecil. Ketika menyusut, rotasinya semakin cepat—mirip seperti penari es yang berputar lebih cepat saat menarik tangannya ke dalam.
Akibatnya, partikel-partikel dalam awan semakin sering bertabrakan dan saling memengaruhi geraknya. “Interaksi antarpartikel menyebabkan orbit yang awalnya miring perlahan berubah hingga mengikuti arah rotasi utama awan.”
Gerakan vertikal yang saling bertabrakan akhirnya saling meniadakan, sehingga materi terkonsentrasi pada satu bidang. Pada akhirnya, awan gas yang semula acak berubah menjadi piringan datar. Dari piringan inilah Matahari dan planet-planet terbentuk.
Proses serupa juga terjadi pada skala lebih besar, seperti pembentukan galaksi.
**Kesimpulan: Tidak Ada yang Istimewa**
Jawaban singkatnya: tidak ada yang istimewa. Tidak ada arah universal yang benar-benar “bawah” di ruang angkasa. Jika kita bergerak cukup jauh ke arah yang dianggap bawah dari tata surya, kita akan menemukan bintang lain dengan sistem planet yang memiliki orientasi berbeda, bahkan galaksi lain dengan bidang rotasi mereka sendiri.
Seperti yang dijelaskan oleh Moersch, astronomi sering memberi perspektif baru tentang posisi kita di alam semesta. “Jika Anda bertanya kepada seratus orang di satu jalan, ‘ke arah mana bawah?’, mereka semua akan menunjuk ke arah yang sama. Namun jika pertanyaan itu diajukan kepada orang-orang di seluruh Bumi, atau kepada makhluk cerdas di planet lain, jawabannya akan berbeda-beda.”
Pertanyaan tentang apa yang ada di bawah Bumi ternyata membawa kita memahami struktur kosmos dari skala kecil hingga sangat besar. Dari bidang orbit planet, bidang galaksi, hingga bidang supergalaksi, alam semesta sering membentuk struktur datar karena cara materi berkumpul dan berputar sejak awal pembentukannya.
Namun satu hal yang pasti: di ruang angkasa, konsep atas dan bawah sebenarnya hanyalah perspektif.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: