Apakah Menyilangkan Mata Bisa Bikin Juling?

Sejak masa kanak-kanak, banyak dari kita mendengar peringatan klasik dari orang tua: jangan menyilangkan mata, nanti tidak kembali normal! Namun menurut para pakar, hal tersebut hanyalah mitos belaka. Menyilangkan mata—bahkan berulang kali—tidak akan menyebabkan mata berubah permanen atau menjadi juling.

**Fakta Medis di Balik Gerakan Mata**

“Tidak akan terjadi apa-apa pada dirimu,” kata Dr. Meenal Agarwal, seorang optometris di Toronto, menegaskan bahwa mata tidak akan “terkunci” karena disilangkan.

Mata manusia dilengkapi enam otot yang memungkinkannya bergerak ke berbagai arah: ke atas, bawah, samping, hingga menyilang. Ketika kita sengaja menyilangkan mata, otot yang paling berperan adalah medial rectus, otot yang terletak di sisi dalam mata dekat hidung.

Menurut Agarwal, otot ini digunakan setiap hari untuk membantu mata bergerak ke dalam saat melihat ke samping. Menyilangkan mata hanyalah cara “mengontraksikan kedua otot medial rectus secara bersamaan”—dan hal ini tidak akan mengubah posisi mata secara permanen.

“Itu tidak mungkin secara fisik mengubah bentuk mata mereka secara permanen,” ujarnya sambil mengibaratkan fenomena ini dengan kebiasaan anak yang berjalan dengan kaki mengarah ke dalam.

**Kapan Mata Juling Menandakan Masalah Kesehatan?**

Perbedaannya jelas: menyilangkan mata secara sadar untuk bercanda adalah hal yang aman, tetapi mata yang masuk ke dalam tanpa disengaja bisa mengindikasikan masalah medis.

**1. Pada Bayi dan Balita**

Jika mata bayi tampak terus-menerus masuk ke dalam dan tidak membaik dalam beberapa bulan pertama, ini bisa menjadi sinyal adanya masalah perkembangan.

“Kalau sangat jelas terlihat, biasanya kondisi itu tidak hilang dengan sendirinya,” kata Agarwal.

Dalam beberapa kasus, operasi dini diperlukan agar perkembangan penglihatan berjalan normal. Orang tua disarankan membawa bayi ke dokter jika kondisi ini terlihat terus-menerus.

**2. Pada Anak Usia 3-5 Tahun**

Mata juling pada anak usia ini sering disebabkan oleh rabun jauh (farsightedness) yang tidak dikoreksi. Tanpa kacamata, otot mata bekerja terlalu keras untuk fokus, sehingga mata bisa masuk ke dalam.

“Otak membuat mata bekerja seperti itu agar bisa melihat jelas. Tetapi setelah memakai kacamata, beban itu berkurang, dan mata pun kembali normal,” jelas Agarwal.

**3. Pada Orang Dewasa**

Jika orang dewasa tiba-tiba mengalami mata masuk ke dalam, situasinya bisa jauh lebih serius—misalnya gejala stroke.

“Jika seorang pria berusia 50 tahun tiba-tiba mata sebelahnya masuk ke dalam, itu tanda bahaya. Harus segera ke IGD karena kemungkinan baru saja mengalami stroke,” kata Agarwal.

Dengan rehabilitasi, posisi mata bisa kembali normal, tergantung tingkat keparahan stroke.

“Itu bergantung seberapa berat strokenya. Saya pernah melihat kasus yang sampai menyebabkan hilangnya penglihatan,” tambahnya.

**4. Pada Semua Usia**

Gangguan pada otak—seperti tumor, lesi, atau peradangan pada saraf penggerak mata—juga bisa menyebabkan mata tiba-tiba juling.

“Mata adalah jendela tubuh,” ujar Agarwal, mengingatkan bahwa perubahan pada mata sering menjadi petunjuk adanya masalah internal.

**Kesimpulan: Aman untuk Bermain, Waspada Jika Spontan**

Jika Anda menyilangkan mata hanya untuk bersenda gurau, tidak perlu khawatir—mata Anda tidak akan tetap seperti itu. Namun, jika mata Anda atau anak Anda tiba-tiba masuk ke dalam tanpa kendali, segera konsultasikan ke dokter.

**Pentingnya Deteksi Dini**

Kondisi mata juling yang muncul tanpa disengaja bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan cepat, mulai dari masalah refraksi sederhana hingga kondisi neurologis serius.

**Peran Orang Tua dalam Pengawasan**

Orang tua perlu memahami perbedaan antara gerakan mata normal pada anak dan tanda-tanda yang memerlukan perhatian medis, terutama pada masa perkembangan awal anak.

**Teknologi Diagnostik Modern**

Kemajuan teknologi medis saat ini memungkinkan diagnosa yang lebih akurat untuk berbagai kondisi mata juling, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih efektif sesuai dengan penyebab yang mendasarinya.

**Edukasi Masyarakat**

Penting untuk mengedukasi masyarakat agar dapat membedakan antara mitos dan fakta medis, sehingga tidak menimbulkan kecemasan berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya normal, namun tetap waspada terhadap gejala yang memerlukan perhatian medis.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Bisa atau Tidak, Ya?

‘Milenial’ & Turnover: Seni Beradaptasi dengan New Normal

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran