Asteroid 2026 JH2 Lewati Bumi Selasa Subuh, Jauh Lebih Redup dari Pluto

Berdasarkan hasil pencarian, artikel ini membahas peristiwa nyata tentang asteroid 2026 JH2 yang baru-baru ini melintas dekat Bumi. Berikut penulisan ulang artikel:

**Asteroid Sebesar Meteor Chelyabinsk Melintas Aman Dekat Bumi, Terlalu Redup Diamati**

Sebuah batuan antariksa berukuran masif yang baru saja terdeteksi dilaporkan melintas dekat dengan Bumi pada Selasa (19/5/2026) pagi pukul 05.00 WIB. Asteroid yang diberi kode 2026 JH2 ini memiliki dimensi yang mirip dengan meteor yang memicu ledakan dahsyat di Rusia beberapa tahun silam. Namun, asteroid yang mendekati Bumi subuh tadi tidak dapat dilihat manusia, karena 16 kali lebih redup dibanding Pluto.

Asteroid ini pertama kali ditemukan pada 10 Mei 2026 melalui sistem pelacakan Catalina Sky Survey di Observatorium Mount Lemmon dekat Tucson, Arizona. Ini merupakan tim pengamat yang sama saat mendeteksi Komet Lemmon yang sangat terang tahun lalu.

Hingga hari ini, para astronom dunia telah mengumpulkan 124 data pengamatan terpisah untuk mengunci jalur edarnya.

**Karakteristik Orbit dan Ukuran Selevel Chelyabinsk**

Berdasarkan data pelacakan, asteroid 2026 JH2 merupakan bagian dari kelompok asteroid dekat-Bumi kelas Apollo. Artinya, jalur orbit batuan ini merentang memotong orbit Bumi hingga mencapai Sabuk Asteroid utama.

Astronom amatir dari Lembaga Ekuivalensi Ekliptika, Marufin Sudibyo mengatakan, asteroid ini mengitari Matahari dengan periode orbital 3,7 tahun. Meskipun sudut kemiringan orbitnya tergolong kecil yakni hanya 6 derajat, orbitnya memiliki tingkat kelonjongan yang cukup besar mencapai 0,5.

Karakteristik inilah yang membuat orbit 2026 JH2 secara alamiah tidak stabil.

“Asteroid 2026 JH2 beredar mengelilingi Matahari dalam periode 3,7 tahun dengan kemiringan orbit hanya 6 derajat tapi dengan kelonjongan orbit cukup besar (yakni 0,5) sehingga orbitnya secara alamiah tak stabil,” kata Marufin kepada Kompas.com, Selasa (19/5/2026).

Dari segi dimensi, data awal sempat memperkirakan ukurannya mencapai panjang paus biru (35 meter). Namun, pembaruan data pelacakan menunjukkan diameternya berada di kisaran 20 meter. Ukuran ini setara dengan asteroid tanpa nama yang menerobos atmosfer Bumi di atas Siberia pada 13 Februari 2013 dalam peristiwa legendaris yang dikenal sebagai Peristiwa Chelyabinsk.

**Melintas Aman di Atas Afrika Bagian Selatan**

Saat melintas dekat Bumi pada Selasa subuh, asteroid ini berada di atas wilayah langit Afrika bagian selatan. Jarak perlintasan terdekatnya tercatat berada pada angka 906.000 kilometer dari permukaan Bumi.

Marufin menegaskan bahwa lintasan ini berada pada jarak yang aman dan tidak mengancam keselamatan Bumi.

“Jarak melintasnya itu sekitar 2,4 kali lebih jauh dibanding jarak Bumi ke Bulan. Jadi, asteroid 2026 JH2 ini murni hanya lewat dan sama sekali tidak menembus atmosfer Bumi kita,” ujar Marufin.

**Mengapa Tidak Bisa Dilihat dengan Mata Telanjang?**

Meskipun melintas saat wilayah Indonesia sedang berada dalam waktu dini hari menjelang subuh, masyarakat awam dipastikan tidak dapat menyaksikan fenomena ini secara langsung tanpa alat bantu khusus.

Marufin menjelaskan bahwa faktor ukuran fisik asteroid yang kecil berbanding lurus dengan tingkat kecerahan visualnya yang sangat rendah saat memantulkan cahaya matahari.

“Tingkat terangnya sangat kecil, berada pada magnitudo visual +17. Sebagai perbandingan, kecerahan objek ini 16 kali lebih redup daripada planet kerdil Pluto,” kata Marufin.

Dengan tingkat seredup itu, masyarakat tidak bisa melihatnya dengan mata telanjang ataupun teleskop portabel biasa.

“Hanya fasilitas observatorium besar sekelas Observatorium Bosscha saja,” pungkas Marufin.

Peristiwa ini kembali menjadi catatan penting bagi komunitas astronomi internasional dalam memetakan batuan-batuan lintas-orbit Bumi yang kerap melintas dekat tanpa terdeteksi sejak jauh-jauh hari.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Melintas Perbedaan: Suara Perempuan, Agensi, Politik Solidaritas

Mari Pergi Lebih Jauh