Bagaimana para arkeolog mengetahui lukisan cap tangan di dalam gua gelap telah berusia puluhan ribu tahun? Menentukan usia karya seni manusia purba bukanlah perkara sederhana, sebab coretan prasejarah tersebut tidak dapat “bercerita” langsung tentang masa pembuatannya.
**Bukan Pigmen yang Diuji, Melainkan “Kulit Batu”**
Banyak orang mengira para ilmuwan langsung menguji pigmen atau cat warna dari lukisan tersebut. Kenyataannya, sebagian besar lukisan gua prasejarah terbuat dari oker atau batu kapur yang tidak memiliki material organik, sehingga tidak dapat diuji dengan metode karbon konvensional.
Kunci utamanya terletak pada batuan mineral yang tumbuh di atas lukisan, yang disebut kalsit atau coraloid speleothem. Kalsit merupakan batuan tipis yang perlahan terbentuk akibat tetesan air gua yang menimpa dinding lukisan.
Adhi Agus Oktaviana, peneliti gambar cadas dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus arkeolog di Griffith University, Australia, memberikan analogi. Ia mengibaratkan lapisan kalsit yang diambil dari gua seperti lapisan-lapisan tipis pada kulit bawang.
Dengan mengambil sampel kalsit yang tumbuh tepat di atas dan bawah pigmen warna gambar, para ilmuwan dapat mengunci “usia minimum” dari karya seni yang terperangkap di antaranya.
**Revolusi Teknologi Laser Seukuran Setengah Rambut**
Sebelumnya, dari 2014 hingga 2021, para ilmuwan menggunakan metode Uranium Series konvensional. Cara lama ini mengharuskan penggoresan atau pengeboran dinding gua sampai menjadi serbuk batuan kasar. Kelemahannya, metode ini kurang rapi dan rentang galat usia masih melebar.
Kini, sains telah melompat lebih jauh. Para ilmuwan menggunakan metode mutakhir bernama Laser-Ablation Uranium-Series (LA-U-series). Teknik ini dipuji karena memiliki tingkat presisi dan akurasi sangat tinggi.
“Dengan laser ablasi, kita mengambil serbuknya menggunakan laser,” jelas Dr. Adhi kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).
Ukuran sampel yang diambil luar biasa mikro, hanya sekitar 44 mikron kali 44 mikron. “Beda sedikit mikronnya, setengah ukuran rambut manusia,” tambah Dr. Adhi menggambarkan betapa tipisnya sampel tersebut.
Melalui tembakan laser super kecil ini, struktur lapisan kalsit tidak rusak parah dan tim peneliti dapat memetakan bagian gua yang menyimpan gambar paling tua secara akurat.
Salah satu hasil kehebatan metode ini berhasil mendeteksi lukisan cap tangan berpola “jari runcing” di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, yang mencapai angka fantastis 67.800 tahun. Lukisan gua di Liang Metanduno ini kini dinobatkan sebagai lukisan tertua di dunia oleh Guinness World Records.
**Ritual Laboratorium yang Sangat Rumit**
Sebelum ditembak sinar laser, sampel kalsit berukuran setengah sentimeter yang dibawa dari gua harus melewati ritual laboratorium yang sangat rumit.
Batuan gua dipotong menjadi setengah bagian, kemudian dihaluskan menggunakan roda putar yang diberi amplas khusus dan air. Proses pengamplasan dilakukan berulang kali hingga permukaan batu menjadi halus dan bening.
Setelah itu, sampel ditempelkan pada cetakan berbahan resin, dihaluskan kembali, baru kemudian difoto menggunakan mikroskop canggih untuk memetakan arah pertumbuhannya.
Uniknya, sebelum mesin menembakkan laser ke sampel lukisan gua, ada standar ketat yang harus dipenuhi. Mesin laser akan menguji dan menembak tiga sampel kalsit pembanding yang sudah diketahui umur pastinya terlebih dahulu.
“Jadi biasanya menembak ke sampel pembanding dulu, baru terakhir menembak ke sampel yang kita inginkan dari gambar cadas. Makanya keakuratannya di situ kita dapatkan,” papar Dr. Adhi mengenai ketatnya validasi pengujian tersebut.
Pengujian berstandar internasional ini dilakukan di Southern Cross University, Australia, di bawah pengawasan pakar geokronologi Prof. Renaud Joannes-Boyau. Laboratorium teruji ini tidak hanya mengukur gambar cadas, tetapi juga fosil manusia purba hingga gigi kuno.
Ketika sebuah angka usia lukisan gua dipublikasikan ke dunia, angka tersebut telah melewati sensor sains yang luar biasa ketat.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: