Baterai Mobil Listrik Bisa Bertahan Lebih dari 10 Tahun, Ini Faktanya

Salah satu kekhawatiran paling sering terdengar dari calon pemilik mobil listrik adalah soal baterai. Banyak orang masih percaya bahwa baterai kendaraan listrik (EV) akan “mati” jauh lebih cepat dibanding usia mobilnya sendiri.

Kekhawatiran ini wajar, terutama bagi mereka yang membeli mobil secara kredit jangka panjang atau berencana memakai kendaraan hingga jauh melewati masa garansi. Namun, data terbaru dari penggunaan nyata di lapangan menunjukkan gambaran yang jauh lebih menenangkan.

**Riset 22.700 Unit Tunjukkan Degradasi Sangat Lambat**

Dalam studi terbarunya, perusahaan analitik kendaraan Geotab menganalisis kesehatan baterai dari 22.700 mobil listrik yang mencakup 21 model berbeda. Mayoritas kendaraan tersebut digunakan sebagai armada, sehingga datanya merepresentasikan pemakaian intensif sehari-hari.

Dipimpin oleh Charlotte Argue, Senior Manager Sustainable Mobility di Geotab, penelitian ini menemukan bahwa kapasitas baterai EV rata-rata hanya turun sekitar 2,3 persen per tahun.

Dengan laju degradasi tersebut, baterai baru akan mencapai 75 persen kapasitas setelah sekitar 13 tahun pemakaian. Pada level ini, sebagian besar mobil listrik masih bisa digunakan dengan nyaman untuk aktivitas harian.

**Proses Alami Penuaan Baterai**

Degradasi baterai adalah proses alami berupa berkurangnya energi yang bisa disimpan seiring waktu. Dampaknya biasanya terasa sebagai jarak tempuh yang semakin pendek dalam sekali pengisian daya.

Di dalam sel baterai, proses isi-ulang dan pelepasan daya berulang mengubah struktur material kimia. Sebagian lithium menjadi “terkunci” dan tidak lagi ikut menyimpan energi. Akibatnya, jarak tempuh menurun dan nilai jual kembali kendaraan bisa ikut terdampak, meski mobil tetap berfungsi normal.

Pemilik mobil listrik umumnya paling menyadari penurunan ini saat perjalanan jauh, ketika jarak antar titik pengisian terasa semakin sempit.

**Fast Charging Percepat Penurunan Kapasitas**

Salah satu temuan penting dalam studi ini adalah pengaruh metode pengisian daya. Kendaraan yang sering menggunakan pengisian cepat berdaya tinggi (fast charging) mengalami degradasi hingga 3 persen per tahun—hampir dua kali lipat dibanding kendaraan yang lebih sering menggunakan pengisian lambat, yang hanya sekitar 1,5 persen per tahun.

Pengisian cepat memicu suhu dan tekanan tinggi di dalam sel baterai, yang mempercepat reaksi kimia samping dan mengurangi lithium aktif. Karena itu, para peneliti menyarankan fast charging digunakan seperlunya, misalnya saat perjalanan jauh, sementara pengisian rutin sebaiknya dilakukan di rumah dengan daya lebih rendah.

**Iklim Panas Lebih Berisiko**

Faktor lingkungan juga berperan. Mobil listrik yang beroperasi di wilayah panas mengalami degradasi sekitar 0,4 persen lebih cepat per tahun dibanding kendaraan di iklim sedang. Suhu tinggi mempercepat reaksi kimia di dalam baterai dan membuat sistem pendingin bekerja lebih keras.

Meski begitu, Geotab menekankan bahwa daya pengisian lebih berpengaruh dibanding iklim, sehingga kebiasaan charging yang baik dapat mengurangi risiko akibat cuaca panas.

Sementara itu, cuaca dingin memang bisa mengurangi jarak tempuh sementara, tetapi efek ini berbeda dari penurunan kapasitas jangka panjang.

**Operator Armada Terbantu Data Ini**

Bagi operator armada, umur baterai sangat krusial karena berkaitan langsung dengan anggaran dan perencanaan rute. Kabar baiknya, data Geotab menunjukkan baterai EV bertahan jauh lebih lama dari perkiraan banyak pengelola armada.

“Kami melihat baterai masih bertahan jauh melampaui siklus penggantian yang biasanya direncanakan armada,” ujar Charlotte Argue.

Kendaraan dengan tingkat penggunaan tinggi memang mengalami degradasi sekitar 0,8 persen lebih cepat per tahun dibanding kendaraan berpenggunaan rendah. Namun, peningkatan biaya akibat degradasi ini sering kali tertutupi oleh efisiensi operasional dan penghematan bahan bakar.

**Hindari Level Daya Ekstrem**

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya menghindari kondisi baterai yang terlalu sering penuh atau terlalu kosong. Degradasi meningkat signifikan hanya ketika kendaraan menghabiskan lebih dari 80 persen waktunya pada level daya ekstrem tersebut.

Pada kondisi baterai penuh, tegangan tinggi yang terus-menerus dapat memicu reaksi kimia yang menggerogoti material aktif, bahkan saat mobil tidak digunakan. Karena itu, kebiasaan seperti tidak mengisi baterai hingga 100 persen setiap malam bisa membantu memperpanjang usia baterai.

**Indikator State of Health (SoH)**

Untuk memantau kondisi baterai, produsen dan pengelola armada menggunakan indikator State of Health (SoH), yaitu ukuran kapasitas baterai yang masih dapat digunakan dibandingkan kondisi awal. Mobil menghitungnya lewat sensor internal yang menganalisis arus listrik dan suhu selama berkendara.

Baterai dengan SoH 80 persen berarti masih menyimpan sekitar empat perlima energi awalnya. Karena metode perhitungan tiap pabrikan berbeda, angka ini lebih berguna untuk melihat tren dari waktu ke waktu, bukan sebagai penilaian tunggal.

**Setelah Garansi Berakhir Tetap Andal**

Sebagian besar baterai mobil listrik memiliki garansi sekitar 8 tahun atau 160.000 km. Namun, batas ini lebih bersifat pengaman, bukan prediksi umur baterai. Umumnya, garansi baru berlaku jika kapasitas turun drastis.

Bagi pembeli mobil listrik bekas, meminta data kesehatan baterai terbaru bisa menjadi langkah cerdas. Baterai yang dirawat dengan baik berpotensi tetap andal selama bertahun-tahun setelah masa garansi berakhir.

**Dampak Lingkungan Jangka Panjang**

Peneliti juga mencatat bahwa produksi baterai memang meningkatkan emisi pada satu hingga dua tahun awal usia EV. Namun setelah itu, pengurangan emisi dari tidak adanya knalpot langsung menutupi “utang karbon” tersebut.

Dalam jangka panjang, kerusakan lingkungan akibat mobil berbahan bakar bensin masih


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Jejak Listrik di Tanah Raja