Benarkah Kebiasaan Membunyikan Ruas Jari Bikin Radang Sendi?

Banyak dari kita memiliki kebiasaan membunyikan ruas jari hingga terdengar suara “kretek!”. Ada yang menganggap hal itu berbahaya dan bisa menyebabkan radang sendi (arthritis), ada juga yang yakin itu tidak masalah. Kabar baiknya, menurut sains, kubu “tidak masalah” berada di sisi yang lebih kuat.

Dr. John Fernandez, dokter bedah ortopedi yang menangani tangan, pergelangan, dan siku di Rush University Medical Center (Chicago), menyebut anggapan bahwa meretakkan ruas jari menyebabkan kerusakan sendi sebagai mitos yang sudah lama beredar—mirip peringatan “jangan menjulingkan mata nanti permanen”.

**Asal-usul Stigma Buruk**

Menurut Fernandez, sumber mitosnya bisa jadi bukan dari dunia medis, melainkan dari etika sosial. Sederhananya: berisik. Banyak orang tidak nyaman mendengar “suara-suara tubuh” di ruang publik—seperti sendawa atau kentut.

Ruas jari memang tidak menimbulkan bau, tetapi tetap mengingatkan kita bahwa tubuh bekerja dengan cairan dan gas. Dan bagi sebagian orang, itu cukup untuk membuat kebiasaan ini dicap “tidak sopan”, lalu berkembang menjadi “pasti tidak sehat”.

**Proses Fisik di Dalam Sendi**

Ruas jari adalah sendi yang dibentuk oleh dua tulang. Ujung tulang-tulang ini dilapisi tulang rawan (cartilage) dan dibungkus oleh membran berisi cairan pelumas bernama cairan sinovial.

Bayangkan cairan sinovial seperti pelumas licin—konsistensinya mirip minyak. Di dalamnya, ada gas-gas seperti oksigen, karbon dioksida, dan nitrogen yang terlarut (mirip juga dengan gas terlarut dalam darah).

Saat seseorang menarik, menekuk, atau meregangkan ruas jari untuk “mengkretekkan”, jarak antar tulang di sendi bertambah. Ketika ruang membesar, tekanan di dalam sendi turun.

Penurunan tekanan ini membuat gas yang semula larut di cairan sinovial keluar dan membentuk gelembung. Proses ini disebut kavitasi (cavitation).

Fenomena ini bisa dijelaskan dengan Hukum Henry: jumlah gas yang bisa tetap larut dalam cairan bergantung pada tekanan. Tekanan turun → gas lebih mudah keluar → terbentuk gelembung. Analogi paling gampang: soda yang berbuih saat kalengnya dibuka.

**Penelitian Membuktikan: Tidak Ada Hubungan dengan Arthritis**

Inilah poin yang paling sering diperdebatkan, dan jawabannya cukup tegas: tidak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa kebiasaan ini menyebabkan osteoarthritis atau arthritis. Berbagai riset sudah menguji dugaan tersebut selama puluhan tahun.

Studi awal tahun 1947 mendeskripsikan perubahan yang terjadi pada sendi saat “dikrek”. Penelitian tahun 1975 pada 28 pasien lansia yang rutin meretakkan ruas jari tidak menemukan korelasi yang meyakinkan antara kebiasaan itu dan masalah sendi.

Tinjauan literatur tahun 2018 juga sampai pada kesimpulan serupa: tidak ada dukungan sains yang kuat bahwa memecahkan ruas jari memicu arthritis.

Ada juga kisah terkenal dari Dr. Donald L. Unger, seorang dokter yang melakukan “eksperimen” pada dirinya sendiri: selama lebih dari 60 tahun, ia meretakkan ruas jari tangan kiri—namun tidak pernah pada tangan kanan. Hasilnya: tidak ada efek buruk pada tangan yang rutin “dikrek”.

Penelitian ini diterbitkan pada 1998 di jurnal Arthritis & Rheumatism, dan membawanya meraih Ig Nobel Prize (penghargaan satiris untuk riset yang membuat orang tertawa lalu berpikir) pada 2009.

**Misteri Bunyi “Krek” yang Belum Terpecahkan**

Walau mitos “bikin arthritis” sudah banyak terbantahkan, ada satu pertanyaan ilmiah yang masih jadi perdebatan menarik: bunyi “krek” itu muncul kapan tepatnya?

Ada dua kubu: bunyi muncul saat gelembung gas terbentuk (gas keluar dari cairan), atau bunyi muncul saat gelembung tersebut pecah.

Masalahnya, proses pembentukan dan perubahan gelembung ini terjadi sangat cepat, nyaris seketika, sehingga sulit ditangkap secara presisi—bahkan dengan bantuan pemindaian seperti MRI berurutan berkecepatan tinggi.

**Mengapa Ada Jeda Waktu Setelah Bunyi**

Para “penggemar knuckle cracking” pasti familiar: sekali bunyi, lalu dicoba lagi… dan tidak berbunyi. Menurut Fernandez, ini karena ada batas jumlah gas yang bisa “ditarik keluar” dari cairan sinovial dalam satu momen.

Setelah gas keluar dan membentuk gelembung, perlu waktu sekitar 15-20 menit sampai gas tersebut larut kembali ke dalam cairan sinovial. Barulah sendi punya “bahan” untuk menghasilkan bunyi lagi.

**Efek Samping yang Minimal**

Kalau bukan arthritis, apakah benar-benar “nol efek”? Fernandez menyebut pada sebagian orang yang sangat sering meretakkan ruas jari, bisa terjadi penebalan ringan jaringan di sekitar sendi.

Akibatnya, ruas jari tampak lebih besar atau “lebih bengkak”, sehingga terlihat mirip sendi yang arthritic—padahal sendinya baik-baik saja.

Yang penting dipahami: arthritis terjadi ketika tulang rawan mengalami kerusakan atau penipisan, dan kebiasaan memecahkan ruas jari tidak terbukti menyebabkan kerusakan tulang rawan tersebut.

**Kemampuan yang Bisa Dipelajari**

Kemampuan meretakkan ruas jari dipengaruhi beberapa hal: faktor fisik seperti kelenturan sendi dan struktur anatomi, serta perilaku yang dipelajari karena ada teknik tertentu—bagian mana yang ditarik, sudutnya bagaimana, tekanan seberapa kuat.

Fernandez mengibaratkannya seperti belajar bersiul: setelah tahu caranya, kebanyakan orang bisa “memecahkan” setidaknya beberapa ruas jari, meski tidak selalu semua.

**Kesimpulan: Aman secara Medis**

Dari sisi kesehatan sendi, pesan utamanya jelas: meretakkan ruas jari bukan kebiasaan yang terbukti berbahaya dan tidak terbukti menyebabkan arthritis.

Namun dari sisi etika, Fernandez memberi catatan dengan nada bercanda: silakan di ruang privat, tetapi hindari di tempat umum, karena… ya, tetap dianggap tidak sopan oleh banyak orang. Jadi, efek paling nyata sering kali bukan medis


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Mewarnai Balita Cerdas: Kebiasaan Baik Balita

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran

Seri Tempo: Jalan Pos Daendels