Benarkah Makan Pedas Bisa Menurunkan Berat Badan? Ini Penjelasannya

Bagi masyarakat Indonesia, reaksi dramatis saat menyantap makanan pedas—mulai dari keringat mengucur, wajah memerah, hingga kesulitan bicara—merupakan pemandangan yang sangat familiar. Sensasi tersebut berasal dari capsaicin, senyawa kimia yang terkonsentrasi pada biji dan bagian dalam cabai yang memberikan karakteristik rasa pedas.

Meskipun cabai tidak membahayakan jiwa, tingkat kepedasan ekstrem dapat berdampak serius bagi sebagian orang. Pada 2024, tiga varian mi instan dari perusahaan Korea Selatan, Samyang, bahkan dianggap terlalu pedas oleh otoritas pangan Denmark karena berpotensi membahayakan kesehatan.

Namun di balik sensasi terbakar yang membuat mata berlinang, cabai ternyata menyimpan manfaat kesehatan yang mengejutkan. Salah satunya adalah potensi membantu menjaga berat badan ideal. Meski begitu, para ilmuwan menegaskan bahwa mengonsumsi cabai saja tidak secara otomatis membuat seseorang langsing.

**Cabai Mampu Mempercepat Metabolisme**

Selama ini beredar mitos tentang makanan “kalori negatif”, yakni makanan yang konon membakar lebih banyak energi daripada kalori yang dikandungnya. Para ahli menyatakan konsep tersebut tidak benar secara ilmiah. Namun demikian, cabai memang dapat meningkatkan metabolisme tubuh secara temporer.

Dr. William Li, penulis buku Eat to Beat Your Diet, menjelaskan bahwa efek tersebut berasal dari cara kerja capsaicin dalam tubuh. “Capsaicin mengaktifkan reseptor sel di lidah yang disebut TRPV1. Aktivasi ini tidak hanya menimbulkan sensasi panas, tetapi juga memicu otak melepaskan neurotransmitter bernama norepinefrin,” ujar Dr. Li.

Norepinefrin kemudian memicu serangkaian reaksi biologis yang mengaktifkan lemak cokelat (brown fat) dalam tubuh.

**Peran Lemak Cokelat dalam Pembakaran Energi**

Tubuh manusia memiliki dua jenis lemak utama: lemak putih dan lemak cokelat. Lemak putih merupakan jenis lemak yang paling banyak tersimpan di tubuh, terutama di sekitar organ dalam. Lemak ini berfungsi sebagai cadangan energi, tetapi jika berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Sebaliknya, lemak cokelat memiliki fungsi metabolik yang unik. Lemak ini biasanya terdapat di area sekitar leher, di belakang tulang dada, di antara tulang belikat, serta di bagian perut. Berbeda dengan lemak putih, lemak cokelat berperan membantu mengatur suhu tubuh.

Saat suhu tubuh menurun, lemak cokelat akan aktif menghasilkan panas melalui proses yang disebut termogenesis.

Dr. Li menjelaskan: “Ketika norepinefrin yang dipicu capsaicin mengaktifkan lemak cokelat, sel-sel lemak tersebut menyalakan ‘mesin’ mereka—mitokondria—untuk menghasilkan panas.”

Untuk menghasilkan panas, lemak cokelat mengambil energi dari cadangan lemak lain di tubuh, terutama lemak putih. Dengan kata lain, aktivasi lemak cokelat membantu tubuh membakar lemak yang tersimpan.

Beberapa penelitian memperkirakan bahwa konsumsi makanan pedas dapat membantu tubuh membakar sekitar 116 kalori tambahan per hari, kira-kira setara dengan satu potong roti. Memang bukan jumlah yang signifikan, tetapi dalam jangka panjang efek ini tetap dapat berkontribusi.

**Menekan Nafsu Makan Secara Alami**

Selain mempercepat metabolisme, cabai juga dapat membantu mengurangi nafsu makan. Dr. Li menjelaskan bahwa ada dua mekanisme utama di balik efek ini.

Pertama, rasa pedas yang kuat dapat menimbulkan sensasi nyeri bagi sebagian orang. “Rasa pedas dapat menimbulkan sensasi sakit pada orang yang sensitif terhadap makanan pedas. Sensasi ini membuat orang cenderung makan lebih lambat,” kata Dr. Li.

Makan lebih lambat memiliki dampak penting. Tubuh manusia membutuhkan sekitar 20 menit untuk menyadari bahwa perut sudah kenyang. Jika seseorang makan terlalu cepat, ia cenderung makan lebih banyak dari yang dibutuhkan.

Kedua, capsaicin juga dapat mengaktifkan pusat rasa kenyang di otak. Penelitian menunjukkan bahwa senyawa ini dapat menurunkan kadar hormon ghrelin, yaitu hormon yang memicu rasa lapar. Hasilnya, seseorang cenderung makan lebih sedikit secara keseluruhan.

**Manfaat Kesehatan Tambahan**

Efek cabai tidak terbatas pada metabolisme dan pengendalian nafsu makan. Sebuah studi pada 2020 menemukan bahwa orang yang rutin mengonsumsi cabai memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung lebih rendah hingga 26% dan risiko kematian akibat kanker lebih rendah sekitar 23%.

Selain itu, kelompok yang gemar makan cabai juga cenderung memiliki usia harapan hidup lebih panjang. Salah satu penjelasan ilmiahnya adalah kemampuan capsaicin dalam mengurangi peradangan dan menurunkan tekanan darah.

Dr. Li mengatakan: “Mengonsumsi cabai juga bermanfaat bagi kesehatan jantung karena capsaicin membantu pembuluh darah menjadi lebih rileks, sehingga tekanan darah dapat menurun.”

**Sensasi Bahagia Setelah Makan Pedas**

Pernah merasakan euforia setelah makan makanan sangat pedas? Ternyata ada penjelasan ilmiahnya. Sensasi pedas dianggap tubuh sebagai bentuk rasa sakit ringan. Untuk mengimbanginya, tubuh melepaskan hormon endorfin dan dopamin, yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan.

Akibatnya, setelah sensasi panas mereda, seseorang dapat merasakan perasaan senang atau “high” ringan.

Selain efek metabolik, cabai juga mengandung berbagai nutrisi penting, seperti vitamin A, vitamin C, antioksidan, dan serat makanan. Semua zat tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh.

**Kesimpulan: Bukan Solusi Utama, tetapi Dapat Membantu**

Apakah makan pedas dapat membantu diet? Jawabannya: bisa membantu, tetapi bukan solusi utama. Cabai memang dapat meningkatkan metabolisme, membantu mengontrol nafsu makan, serta memberikan manfaat kesehatan lain. Namun efeknya relatif kecil jika tidak disertai dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik yang cukup.

Dengan kata lain, makanan pedas dapat menjadi bagian dari strategi gaya hidup sehat, tetapi bukan “jalan pintas” untuk menurunkan berat badan. Yang jelas,


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Dapur Cokelat Bercerita

Resep Makanan Baduta dan Ibu Hamil

Ensiklopedia Saintis Junior: Tubuh Manusia