Benarkah Manusia Punya Feromon? Ini Penjelasan Ilmuwan

Manusia memiliki bau tubuh—itu fakta yang tak terbantahkan. Namun, pertanyaannya lebih jauh dari sekadar aroma: mungkinkah sebagian bau tubuh kita sebenarnya adalah sinyal kimia yang bekerja diam-diam, tanpa disadari? Apakah manusia, seperti semut atau ngengat, juga menghasilkan feromon?

Dr. Tristram Wyatt, Senior Research Fellow di Departemen Biologi Universitas Oxford, telah lama meneliti komunikasi kimia pada hewan, termasuk misteri feromon pada manusia. Dalam sebuah forum wewangian ilmiah di Inggris, dia membagikan penjelasan mengapa bukti feromon pada manusia masih sulit ditemukan.

**Definisi dan Sejarah Penemuan Feromon**

Menurut Wyatt, feromon pada dasarnya adalah bau—tetapi bukan sekadar bau biasa. “Feromon adalah sinyal kimia antarindividu dalam satu spesies yang memengaruhi fisiologi dan perilaku. Ini adalah pesan yang dikirim dari satu individu ke individu lain,” jelasnya.

Istilah pheromone pertama kali diperkenalkan pada 1959, setelah ilmuwan berhasil mengidentifikasi feromon secara kimia untuk pertama kalinya. Secara harfiah, kata tersebut berarti “membawa rangsangan”.

Artinya, feromon bukan hanya aroma yang tercium, melainkan pesan biologis yang dapat memicu respons tertentu—sering kali tanpa disadari penerimanya.

**Penelitian Pionir dengan Jutaan Ngengat**

Feromon pertama yang berhasil diidentifikasi berasal dari ngengat sutra betina. Zat kimia yang dikeluarkannya membuat ngengat jantan mengepakkan sayap dengan penuh gairah dan berusaha menemukan sumber sinyal tersebut.

Ilmuwan Jerman Adolf Butenandt membutuhkan sekitar setengah juta ngengat betina untuk mengumpulkan cukup zat kimia demi mengidentifikasi molekul feromon itu. Prosesnya memakan waktu hampir satu dekade.

Yang membuat penemuan ini istimewa adalah metode verifikasinya. Setelah molekul berhasil diidentifikasi dan disintesis, Butenandt kembali mengujinya pada ngengat jantan.

“Gerakan mengepakkan sayap yang bersemangat menunjukkan bahwa ia telah mengidentifikasi molekul yang benar. Itu adalah standar emas dalam penelitian feromon,” kata Wyatt.

Kini, dengan teknologi seperti kromatografi gas dan spektrometri massa, proses serupa bisa dilakukan hanya dengan satu ekor ngengat—tentu jika ilmuwan sudah tahu jenis molekul yang dicari.

Namun, Wyatt mengakui bahwa Butenandt juga sangat beruntung. Pada ngengat sutra, feromon hanya terdiri dari satu molekul. Pada banyak spesies lain, feromon justru merupakan campuran beberapa molekul dalam rasio tertentu—jauh lebih rumit untuk diidentifikasi.

**Feromon di Dunia Hewan**

Setelah penemuan pada ngengat, para ilmuwan segera menyadari bahwa serangga sosial seperti semut dan lebah adalah “pengguna utama” feromon. Semut, misalnya, meninggalkan jejak kimia untuk memandu koloni. Lebah memiliki feromon alarm untuk memperingatkan bahaya.

Awalnya, ada anggapan bahwa mamalia terlalu kompleks untuk bergantung pada pesan kimia sederhana seperti feromon. Namun, pandangan ini perlahan berubah.

Salah satu contoh paling jelas ditemukan pada kelinci. Induk kelinci menghasilkan feromon yang membantu anak-anaknya menemukan puting susu untuk menyusu.

“Itu adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan mereka,” ujar Wyatt. Feromon pada mamalia ternyata bukan sekadar teori—ia terbukti nyata dan vital.

**Kemungkinan Feromon pada Manusia**

Secara biologis, manusia adalah mamalia. Dan seperti mamalia lainnya, manusia juga memiliki bau tubuh. “Sangat mungkin manusia memiliki feromon,” kata Wyatt. “Kami tahu kelinci dan tikus memilikinya. Kucing dan anjing hampir pasti juga punya.”

Dia menambahkan petunjuk menarik: bau tubuh manusia berubah drastis saat pubertas. Anak-anak hampir tidak memiliki bau tubuh yang kuat. Namun, ketika memasuki masa remaja, kelenjar di ketiak dan area selangkangan berkembang, disertai pertumbuhan rambut di area tersebut.

Jika fenomena ini diamati pada mamalia lain, ilmuwan kemungkinan besar akan mengaitkannya dengan reproduksi dan fungsi seksual.

“Walaupun sejauh ini belum ada feromon manusia yang berhasil diidentifikasi, saya akan sangat terkejut jika ternyata manusia tidak memilikinya, seperti mamalia lainnya,” tegas Wyatt.

**Tantangan Penelitian pada Manusia**

Jika kemungkinan besar manusia punya feromon, mengapa hingga kini belum ada bukti pasti? Menurut Wyatt, untuk membuktikan keberadaan feromon, ilmuwan harus mengikuti prosedur ketat seperti yang dilakukan pada ngengat sutra.

Prosesnya mencakup:
1. Mengidentifikasi perilaku spesifik yang dipicu bau tertentu
2. Mengumpulkan molekul penyebabnya
3. Mengidentifikasi dan mensintesis molekul tersebut
4. Mengujinya kembali untuk memastikan respons yang sama muncul

“Itulah standar emas untuk mengidentifikasi feromon. Dibutuhkan jumlah subjek besar dan ketelitian tinggi—dan itu belum pernah dilakukan pada manusia,” jelasnya.

Penelitian pada manusia jauh lebih rumit karena melibatkan etika, variabel sosial, serta kompleksitas perilaku yang tidak sesederhana respons mengepakkan sayap pada ngengat.

**Fungsi yang Lebih Luas dari Sekadar Seks**

Selama ini, feromon sering dikaitkan dengan ketertarikan seksual. Padahal, pada hewan, fungsi feromon jauh lebih luas. Bau memiliki peran krusial bagi bayi yang baru lahir. Pada masa awal kehidupan, penglihatan belum berkembang optimal, sehingga penciuman menjadi indra utama.

Sebuah studi awal di Prancis menemukan bahwa bayi akan menoleh ke arah sekresi dari kelenjar kecil di sekitar puting ibu menyusui. Bahkan, bayi juga merespons sekresi tersebut yang ditempelkan pada batang kaca—tak peduli siapa perempuan yang menghasilkannya.

“Bayi bukan hanya merespons bau ibunya, tetapi sesuatu yang tampaknya diproduksi oleh setiap perempuan yang menyusui. Ini sangat menarik, karena feromon bukan tentang mengenali individu tertentu, melainkan sinyal universal dalam satu spesies,” kata Wyatt.

Temuan ini membuka kemungkinan bahwa jika manusia memiliki feromon, fungsinya mungkin tidak


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Kartun Kimia

Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa)