Tren konsumsi matcha semakin populer, terutama di kalangan anak muda dan pegiat gaya hidup sehat. Bubuk teh hijau asal Jepang ini kerap diklaim mampu membuat kulit bersinar, mencegah jerawat, hingga memberikan efek anti-aging.
Tak sedikit konten di media sosial yang menyebut matcha sebagai “rahasia cantik alami”. Namun, benarkah matcha memang bisa membuat kulit lebih cerah dan sehat?
**Proses Produksi Matcha yang Unik**
Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof. Nuri Andarwulan, menjelaskan bahwa matcha bukan sekadar teh hijau biasa.
“Matcha merupakan tepung teh hijau yang diproduksi melalui proses khusus. Ada perlakuan penaungan sekitar tiga sampai empat minggu sebelum dipanen supaya klorofilnya tinggi. Setelah dikeringkan, daun digiling sangat halus seperti tepung,” kata Prof Nuri.
**Kandungan Antioksidan Lebih Tinggi**
Proses penaungan ini meningkatkan kadar klorofil dan sejumlah senyawa bioaktif di dalam daun teh. Karena matcha dikonsumsi dalam bentuk bubuk utuh—bukan hanya air seduhannya—kandungan gizinya pun ikut tertelan seluruhnya.
“Kandungan katekin matcha lebih tinggi. EGCG pada matcha bisa mencapai lebih dari 120 mg per gram, lebih tinggi dibanding green tea biasa,” jelasnya.
Katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), merupakan senyawa antioksidan kuat yang banyak diteliti karena potensinya bagi kesehatan.
**Bagaimana Antioksidan Bekerja untuk Kulit**
Salah satu alasan matcha dikaitkan dengan kulit bersinar adalah kandungan polifenol dan antioksidannya. Dalam tubuh, antioksidan berfungsi menangkal radikal bebas.
Radikal bebas dapat muncul akibat paparan sinar ultraviolet, polusi udara, stres, hingga pola hidup tidak seimbang. Jika berlebihan, radikal bebas bisa merusak kolagen dan elastin di lapisan dermis—lapisan tengah kulit yang berperan menjaga kekenyalan dan elastisitas.
**Peran Kolagen dalam Kesehatan Kulit**
Kerusakan kolagen inilah yang memicu penuaan dini, kulit kusam, dan munculnya keriput. “Senyawa polifenol membantu menangkal radikal bebas sehingga mengurangi inflamasi dan menjaga integritas kolagen,” ujar Prof Nuri.
Secara teori, dengan berkurangnya stres oksidatif dan inflamasi, kondisi kulit bisa lebih terjaga. Namun, manfaat tersebut tidak terjadi secara instan.
**Masalah Penyerapan EGCG dalam Tubuh**
Meski kaya antioksidan, Prof. Nuri menekankan bahwa efektivitas matcha dalam tubuh manusia tidak sesederhana yang dibayangkan. Senyawa fenolik seperti EGCG memiliki bioavailabilitas atau daya serap yang relatif rendah.
“Kalau diserap, sangat kecil, di bawah lima persen. Sebagian besar masuk ke usus besar dan dimetabolisme oleh mikrobiota menjadi senyawa turunan,” terang Prof Nuri.
**Peran Mikrobiota Usus**
Artinya, hanya sebagian kecil EGCG yang benar-benar diserap langsung oleh tubuh. Sisanya akan diolah oleh bakteri baik di usus menjadi metabolit, yang kemudian dapat masuk ke aliran darah.
Metabolit inilah yang diduga memberikan efek biologis, seperti antioksidan, antiinflamasi, hingga imunomodulator—termasuk pada sel-sel kulit. Dengan kata lain, efeknya bersifat tidak langsung dan bergantung pada banyak faktor.
**Diminum vs Dioleskan: Mana Lebih Efektif?**
Banyak produk perawatan kulit kini menggunakan ekstrak matcha sebagai bahan topikal. Lalu, mana yang lebih efektif untuk membuat kulit bersinar: diminum atau dioleskan?
Menurut Prof. Nuri, keduanya memiliki peran berbeda dan bisa saling melengkapi. “Kombinasi ideal adalah asupan dari dalam untuk proteksi sistemik dan topikal untuk perlindungan lokal di permukaan kulit,” katanya.
**Perbedaan Cara Kerja**
Asupan dari dalam bekerja secara bertahap dan jangka panjang karena memengaruhi sel-sel di lapisan dermis dan epidermis. Proses ini membutuhkan waktu, tetapi efeknya bisa lebih menyeluruh.
Sebaliknya, produk topikal bekerja lebih cepat di permukaan kulit. Namun, efeknya cenderung sementara dan perlu penggunaan rutin untuk mempertahankan fungsi pelindung kulit.
**Risiko Konsumsi Berlebihan**
Di balik manfaatnya, matcha tetap perlu dikonsumsi secara wajar. Karena berupa bubuk daun utuh, matcha mengandung serat tidak larut dalam jumlah cukup tinggi.
“Jika dikonsumsi berlebihan dan tanpa cukup cairan, dapat menimbulkan gangguan pencernaan seperti sembelit. Dalam kasus ekstrem, pada individu tertentu, bisa memicu masalah pada saluran cerna,” ungkapnya.
**Kesimpulan: Bukan Solusi Ajaib**
Secara ilmiah, matcha memang mengandung antioksidan tinggi yang berpotensi membantu melindungi kulit dari stres oksidatif dan inflamasi. Namun, efeknya tidak instan dan sangat dipengaruhi oleh proses penyerapan dalam tubuh.
Matcha bukanlah “obat ajaib” yang langsung membuat kulit cerah dalam hitungan hari. Ia lebih tepat dipandang sebagai bagian dari pola makan seimbang dan gaya hidup sehat.
**Pendekatan Holistik untuk Kulit Sehat**
Sebagaimana ditegaskan Prof. Nuri: “Matcha bisa menjadi bagian pola makan seimbang, tetapi bukan solusi instan untuk kulit glowing.”
Pada akhirnya, kulit sehat dan bercahaya tetap bergantung pada banyak faktor—mulai dari asupan gizi seimbang, hidrasi yang cukup, perlindungan dari sinar matahari, hingga manajemen stres. Matcha bisa menjadi salah satu pendukungnya, tetapi bukan satu-satunya kunci.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: