Benarkah Minum Air Hangat di Pagi Hari Baik untuk Usus?

Akhir-akhir ini, tren mengonsumsi air hangat saat bangun tidur atau sebelum beranjak tidur kian populer di media sosial. Banyak influencer menghubungkannya dengan prinsip Pengobatan Tradisional Tiongkok (Traditional Chinese Medicine/TCM) dan menyebutkan berbagai manfaat seperti melancarkan pencernaan, mempercepat metabolisme, hingga meredakan nyeri haid.

Namun, apakah khasiat tersebut benar-benar didukung oleh sains? Jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan.

“Mengonsumsi air panas atau hangat memang terasa nyaman—dan itu penting—tetapi manfaatnya sering kali dilebih-lebihkan,” ujar Diane Lindsay-Adler, ahli gizi terdaftar dan asisten profesor pediatri di New York Medical College.

**Manfaat yang Terbukti Secara Ilmiah**

Mari mulai dari khasiat yang memang didukung bukti. Ketika Anda sedang pilek atau mengalami sakit tenggorokan, secangkir minuman hangat dapat membantu meredakan iritasi untuk sementara. Sensasi hangat memberikan efek menenangkan pada jaringan tenggorokan yang mengalami peradangan.

Untuk efek lebih optimal, dokter keluarga Natasha Bhuyan menyarankan menambahkan bawang putih, madu, dan lemon ke dalam air hangat. Kombinasi ini dikenal memiliki sifat antibakteri ringan dan membantu melegakan tenggorokan.

Selain itu, mengonsumsi air hangat atau sup panas juga dapat membantu mengencerkan lendir di hidung. Sebuah studi klasik tahun 1978 menunjukkan bahwa menyeruput sup hangat atau air panas dapat membantu membersihkan lendir hidung lebih cepat dibanding minuman dingin.

**Peringatan Penting**

Namun perlu digarisbawahi: meredakan bukan berarti menyembuhkan. Minuman hangat tidak membunuh virus atau bakteri penyebab flu. Jika demam di atas 38,5°C berlangsung lebih dari tiga hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

**Pengaruh terhadap Sistem Pencernaan**

Salah satu klaim paling populer adalah bahwa mengonsumsi air hangat di pagi hari bisa melancarkan pencernaan. Secara fisiologis, ketika sesuatu masuk ke lambung, saraf akan memberi sinyal ke sistem pencernaan bahwa proses makan atau minum sedang berlangsung.

Pada sebagian orang, cairan hangat dapat merangsang gerakan saluran cerna dan memicu refleks buang air besar.

“Itulah mengapa minuman hangat sering direkomendasikan oleh dokter gastroenterologi sebagai minuman pertama di pagi hari, terutama saat sedang sakit atau sembelit,” jelas Lindsay-Adler.

Efeknya berkaitan dengan sistem saraf dan otot. Suhu hangat membantu relaksasi dan meningkatkan rasa nyaman, yang secara tidak langsung dapat mendukung proses pencernaan.

**Efek Individual yang Beragam**

Namun, efek ini tidak berlaku untuk semua orang. Jika gangguan pencernaan berlangsung lama atau berat, mencari penyebab medis tetap jauh lebih penting daripada hanya mengandalkan minuman hangat.

**Mitos Metabolisme dan Detoksifikasi**

Banyak konten kesehatan mengklaim bahwa mengonsumsi air hangat bisa meningkatkan metabolisme dan membantu menurunkan berat badan. Sayangnya, klaim ini tidak didukung bukti kuat.

Ketika cairan panas atau dingin masuk ke tubuh, suhu tubuh akan segera menyesuaikannya dalam hitungan milidetik. Memang ada sedikit “biaya metabolik” untuk menyesuaikan suhu tersebut, tetapi efeknya sangat kecil dan tidak berdampak signifikan pada berat badan.

**Detoks: Kerja Organ, Bukan Suhu Air**

Begitu juga dengan klaim detoksifikasi. Proses detoks dalam tubuh sepenuhnya dilakukan oleh hati dan ginjal, bukan oleh suhu air yang dikonsumsi. Tidak ada bukti ilmiah bahwa air panas lebih efektif dibanding air suhu ruang atau air dingin dalam membersihkan racun.

Yang paling penting adalah memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik.

**Risiko Minuman Terlalu Panas**

Meski jarang dibahas, minuman yang terlalu panas justru bisa menimbulkan masalah. Mengonsumsi minuman dengan suhu di atas sekitar 65°C secara rutin dapat mengiritasi kerongkongan dan bahkan meningkatkan risiko kanker esofagus dalam jangka panjang.

Artinya, kita tidak perlu berhenti minum minuman hangat, tetapi sebaiknya hindari suhu yang terlalu panas dan tunggu hingga agak suam-suam kuku sebelum dikonsumsi.

**Prioritas Utama: Kecukupan Cairan**

Pada akhirnya, faktor terpenting bagi kesehatan adalah kecukupan cairan, bukan suhu minumannya.

“Jika berbicara tentang hidrasi, suhu minuman berada jauh di urutan prioritas. Total asupan cairan jauh lebih penting dibanding apakah air yang diminum panas atau dingin,” kata Lindsay-Adler.

Banyak orang dewasa—terutama lansia—mengalami dehidrasi kronis karena tidak minum cukup air. Kebutuhan cairan setiap orang berbeda, tetapi sering disebutkan kisaran empat hingga enam gelas per hari sebagai angka umum.

**Sumber Hidrasi Beragam**

Selain air minum, hidrasi juga bisa diperoleh dari makanan seperti tomat, mentimun, semangka, jeruk, hingga sup. Jika Anda sering mengalami sakit kepala, pusing, atau sembelit, bisa jadi itu tanda dehidrasi.

Pola makan tinggi natrium atau protein juga dapat meningkatkan kebutuhan cairan karena tubuh membutuhkan lebih banyak air untuk membuang zat sisa melalui urine. Kekurangan karbohidrat pun bisa membuat tubuh kesulitan mempertahankan cairan.

**Kesimpulan Sederhana**

Jika mengonsumsi air hangat membuat Anda lebih rajin minum air, silakan lanjutkan kebiasaan tersebut. Namun jika Anda lebih nyaman minum air suhu ruang atau dingin, manfaat kesehatannya tetap sama selama kebutuhan cairan terpenuhi.

Air hangat memang terasa menenangkan dan bisa membantu meredakan beberapa gejala ringan. Tetapi untuk urusan metabolisme, detoks, atau penurunan berat badan, jangan berharap keajaiban dari sekadar segelas air hangat.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Selir Musim Panas

Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI) Edisi Pagi

Filsafat Maut: Empat Renungan untuk Hidup Baik