Menghitung jumlah lubang di tubuh sendiri tampak seperti tugas mudah. Kita mungkin akan mulai menghitung mulut, lubang hidung, hingga telinga. Namun, menurut para ahli matematika dan topologi, banyak bagian yang dianggap “lubang” ternyata hanyalah jalan buntu yang tidak masuk hitungan resmi.
Menentukan apa yang disebut “lubang” tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Para ilmuwan menggunakan bidang ilmu topologi untuk menjawab teka-teki ini. Hasilnya, tubuh manusia jauh lebih sederhana daripada keju Swiss, namun lebih kompleks dibanding sebuah donat.
**Kriteria Lubang dalam Matematika**
Bagi ahli topologi, lubang bukanlah sekadar cekungan seperti mulut gua. Katie Steckles, dosen matematika dari Manchester Metropolitan University, menjelaskan bahwa matematikawan menggunakan istil lubang untuk merujuk pada sesuatu yang menyerupai lubang pada donat: yaitu lubang yang menembus seluruh bagian suatu bentuk hingga tembus ke sisi lainnya.
Komunikator matematika asal Inggris, James Arthur, menjelaskan bahwa dalam topologi, sebuah ‘lubang’ adalah lubang tembus, yang berarti seseorang bisa memasukkan jari menembus objek tersebut.
Berdasarkan definisi ini, pori-pori kulit, lubang telinga (yang buntu karena gendang telinga), hingga saluran kemih tidak dianggap sebagai lubang. Bagian tubuh tersebut hanyalah “sumur buntu” karena tidak tembus ke bagian tubuh lainnya.
**Jalur yang Saling Terhubung**
Lalu, mana saja bukaan yang saling terhubung di tubuh manusia? Jalur utama yang dimiliki adalah saluran pencernaan, mulai dari mulut hingga anus. Selain itu, ada lubang hidung yang juga terhubung ke tenggorokan.
Tak hanya itu, manusia memiliki empat lubang kecil di sudut kelopak mata yang disebut lacrimal puncta. Lubang ini berfungsi mengalirkan air mata ke rongga hidung.
Jadi, manusia memiliki total delapan bukaan yang saling terhubung di dalam tubuh.
**Penghitungan Topologi yang Kompleks**
Namun, dalam topologi, jumlah lubang tidak sama dengan jumlah bukaan.
“Ketika lubang-lubang yang menembus suatu bentuk terhubung bersama di dalam, hal itu membuat penghitungan jumlahnya menjadi lebih sulit,” tambah Steckles.
Analogi sederhananya adalah celana dalam. Celana dalam memiliki tiga bukaan (pinggang dan dua kaki), namun secara topologi hanya memiliki dua lubang.
Mengikuti logika ini, delapan bukaan yang saling terhubung di tubuh manusia (mulut, anus, dua lubang hidung, dan empat saluran air mata) menghasilkan tujuh lubang di tubuh manusia.
**Perbedaan Berdasarkan Jenis Kelamin**
Menariknya, jumlah ini bertambah bagi perempuan. Secara anatomi, saluran reproduksi perempuan (vagina) terhubung ke rahim, lalu ke saluran tuba yang terbuka ke arah rongga perut.
Secara teoretis, jika seutas benang mikroskopis dimasukkan, ia bisa menembus hingga ke ujung lainnya.
Oleh karena itu, jawaban matematis untuk pertanyaan ini adalah manusia memiliki tujuh atau delapan lubang di tubuh, tergantung jenis kelaminnya.
Secara topologi, tubuh manusia tidaklah serumit yang terlihat; lebih mirip seperti “pakaian terusan” (onesie) yang dirancang sangat teliti untuk seekor gurita.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: