Benda-benda yang kita sentuh setiap hari—gagang pintu, meja, ponsel, hingga permukaan dapur—ternyata menyimpan cerita penting tentang risiko penularan penyakit. Apa yang tertinggal di permukaan tersebut bisa diam-diam meningkatkan atau justru menurunkan peluang infeksi.
Pemahaman ini krusial, terutama saat wabah penyakit muncul. Cara kita membersihkan ruangan, memilih material bangunan, hingga menilai keamanan sebuah tempat, sangat bergantung pada seberapa lama virus bisa bertahan di luar tubuh manusia.
Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa permukaan benda dan suhu berperan besar dalam menentukan bukan hanya berapa lama virus bertahan, tetapi juga apakah virus tersebut masih mampu berkembang biak setelahnya.
**Eksperimen Terkontrol dengan Bakteriofag**
Untuk memahami apa yang terjadi ketika virus jatuh dan tertinggal di suatu permukaan, tim peneliti dari Yale University melakukan eksperimen terkontrol menggunakan dua jenis virus laboratorium yang telah lama dipelajari. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. C. Brandon Ogbunugafor, yang fokus meneliti bagaimana patogen menyebar dan berevolusi.
Alih-alih menelusuri siapa yang mungkin terpapar, studi ini menyoroti apa yang terjadi pada virus itu sendiri setelah menempel di permukaan benda. Dengan pendekatan ini, para peneliti ingin mengetahui apakah aturan pembersihan yang umum diterapkan saat ini benar-benar mencerminkan risiko sebenarnya.
Agar hasil eksperimen tetap terkontrol, para peneliti menggunakan bakteriofag, yaitu virus yang hanya menginfeksi bakteri, bukan manusia. Bakteriofag sering digunakan dalam penelitian karena perilakunya lebih mudah diprediksi dan diukur.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengisolasi efek fisik—seperti panas dan reaksi kimia permukaan—terhadap kelangsungan hidup virus.
**Kekhawatiran Lama Soal Penularan via Permukaan**
Sejak awal pandemi COVID-19, kekhawatiran terhadap fomite—benda mati yang dapat membawa virus—meningkat tajam. Penelitian pada 2020 menunjukkan virus corona bisa tetap infeksius di plastik, baja, tembaga, dan kardus selama waktu tertentu.
Laporan lain dari CDC bahkan menemukan bahwa virus cacar monyet (mpox) masih aktif di permukaan rumah tangga hingga 15 hari. Namun, temuan-temuan tersebut menimbulkan pertanyaan lanjutan: apakah virus yang “bertahan” itu masih berbahaya?
**Tembaga Plus Panas: Kombinasi Paling Mematikan**
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tembaga adalah permukaan paling tidak bersahabat bagi virus, terutama saat dikombinasikan dengan suhu hangat. Pada suhu sekitar 37 derajat Celsius, virus uji kehilangan kemampuan menginfeksi dengan sangat cepat. Salah satu virus bahkan kehilangan setengah dari partikel aktifnya hanya dalam waktu sekitar 30 menit.
Efek ini terjadi karena reaksi kimia pada tembaga dipercepat oleh panas. Studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa ion tembaga mampu merusak materi genetik dan selubung virus, termasuk virus corona.
**Suhu Dingin Perpanjang Umur Virus**
Sebaliknya, pada suhu dingin sekitar 4 derajat Celsius, virus bertahan jauh lebih lama di hampir semua permukaan. Pada suhu rendah, reaksi kimia yang merusak protein dan materi genetik virus berjalan lebih lambat. Akibatnya, lebih sedikit partikel virus yang mengalami kerusakan.
Permukaan seperti baja tahan karat dan plastik menjadi relatif “ramah” bagi virus dalam kondisi dingin. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa ruang pendingin dan rantai distribusi dingin dapat memperpanjang peluang penularan tidak langsung pada beberapa wabah.
**Bertahan vs Kemampuan Berkembang Biak**
Menariknya, penelitian ini tidak berhenti pada soal “bertahan hidup”. Para peneliti juga menguji apakah virus yang tersisa masih mampu berkembang biak ketika bertemu kembali dengan inangnya. Hasilnya mengejutkan.
Pada permukaan plastik, salah satu virus uji mampu berkembang biak lebih dari 100 kali lipat dalam satu jam, meski sebelumnya tampak tidak terlalu stabil saat diukur dari tingkat kelangsungan hidupnya.
Artinya, bertahan di permukaan dan kemampuan berkembang biak adalah dua hal yang berbeda. Kerusakan kecil yang tidak langsung “membunuh” virus bisa saja tidak cukup untuk menghentikan kemampuannya bereplikasi.
**Risiko Berbeda di Permukaan yang Sama**
Hubungan antara daya tahan dan kemampuan berkembang biak ternyata berubah-ubah tergantung kondisi. Pada tembaga bersuhu tinggi, keduanya menurun bersamaan. Namun pada plastik di suhu yang sama, virus yang bertahan justru kurang mampu berkembang biak.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa menilai risiko hanya dari seberapa lama virus bertahan di permukaan tidaklah cukup. Lingkungan menentukan apakah virus yang tersisa masih benar-benar berbahaya.
**Tembaga Mulai Digunakan di Rumah Sakit**
Tak heran jika tembaga mulai banyak digunakan pada titik-titik yang sering disentuh di rumah sakit dan klinik. Sebuah uji coba di unit perawatan intensif menemukan bahwa ruangan dengan permukaan tembaga memiliki angka infeksi lebih rendah, termasuk infeksi oleh bakteri resisten obat.
Keunggulan tembaga paling terasa pada benda yang sering disentuh banyak orang, karena material ini terus bekerja membunuh mikroba di sela-sela waktu pembersihan rutin.
Meski demikian, tembaga bukan solusi tunggal. Cuci tangan, disinfeksi, dan ventilasi udara tetap menjadi lapisan perlindungan utama.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Virus, Manusia, Tuhan: Refleksi Lintas Iman tentang Covid-19