Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita

Puluhan ribu tahun sebelum ada peta, kompas, atau nama “Indonesia”, sekelompok manusia berhasil menyeberangi lautan dan tiba di Sulawesi. Mereka tidak meninggalkan tulisan, namun meninggalkan sesuatu yang lebih tahan lama: cap tangan di dinding gua berusia 67.800 tahun, yang kini menjadi bukti perjalanan epik dalam sejarah manusia.

Guinness World Records baru-baru ini menobatkan cap tangan dari Gua Liang Metanduno sebagai lukisan cadas non-figuratif tertua di dunia. Temuan ini tidak hanya membanggakan Indonesia di panggung ilmu pengetahuan global, tetapi juga membuka jendela baru untuk memahami perjalanan panjang nenek moyang manusia modern melintasi kepulauan Nusantara.

**Bukan Manusia Purba, Melainkan Manusia Modern Awal**

Salah satu fakta yang sering mengejutkan publik: pembuat lukisan ini bukanlah Homo erectus atau kerabat purba lainnya.

“Kalau di sekitaran 60.000–70.000 tahun itu bukan manusia purba—manusia modern awal yang kemungkinan besar membuat ini. Seperti leluhur orang Papua atau Aborigin Australia,” demikian penjelasan Dr. Adhi Agus Oktaviana, peneliti dan pakar arkeometri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).

Artinya, pembuat cap tangan tersebut secara biologis hampir identik dengan manusia yang hidup saat ini—Homo sapiens dengan otak penuh, kemampuan berpikir abstrak, dan kapasitas menciptakan simbol.

**Sulawesi: Titik Krusial Jalur Migrasi Utara**

Penemuan ini semakin bermakna ketika ditempatkan dalam konteks peta pergerakan manusia purba lintas benua. Para peneliti kini meyakini bahwa kelompok manusia modern awal yang meninggalkan Afrika antara 70.000–80.000 tahun lalu bergerak ke timur melalui dua jalur utama. Sulawesi berada tepat di jalur utara yang dominan.

“Jalur yang dominan memang jalur utara—dan di sanalah kita menemukan jejak-jejak gambar cadas ini,” ujar Adhi.

Data arkeologi mendukung narasi ini secara konsisten. Di Kalimantan Timur, lukisan cadas ditemukan berumur minimum 40.000 tahun. Di Sulawesi, rentang waktunya jauh lebih panjang: dari 67.000 hingga 17.000 tahun lalu. Sementara di Australia, bukti kehadiran manusia modern telah teruji hingga 65.000 tahun silam.

Pola ini membentuk garis waktu migrasi yang koheren: manusia modern bergerak dari Sundaland—paparan Sunda atau daratan luas yang kini menjadi sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan—ke timur, menembus kawasan Wallacea. Zona biogeografi ini mencakup Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara sebelum akhirnya mencapai Australia.

**Wallacea: Penyeberangan yang Mengubah Sejarah**

Yang membuat pencapaian ini luar biasa adalah fakta bahwa kawasan Wallacea tidak pernah tersambung ke daratan Asia, bahkan saat permukaan laut di zaman es turun drastis. Untuk sampai ke Sulawesi, manusia purba harus menyeberangi lautan.

“Sebelum bermigrasi ke paparan Sunda, pasti mereka melewati Wallacea. Dan itu artinya mereka sudah punya kemampuan untuk menyeberang menggunakan teknologi transportasi air, walaupun mungkin sederhana—misalnya kayu-kayu gelondongan yang diikat berbarengan,” jelas Adhi.

Ini bukan perjalanan sembarangan. Menyeberangi lautan terbuka—bahkan dengan rakit primitif—membutuhkan koordinasi kelompok, pemahaman angin dan arus, serta keberanian luar biasa. Fakta bahwa mereka berhasil, dan kemudian meninggalkan lukisan di dinding gua Sulawesi, berbicara tentang kompleksitas kognitif yang jauh lebih tinggi dari yang sering dibayangkan.

**Seni sebagai Penanda Pikiran Modern**

Mengapa manusia itu membuat cap tangan? Tidak ada yang tahu pasti. Namun keberadaannya memiliki implikasi besar.

“Kemampuan kognisi untuk kesenian, untuk spiritualitas—itu sudah mereka miliki. Sejak mereka ada di paparan Sunda, menyeberang ke Wallacea dan ke Australia,” kata Adhi.

Para arkeolog memandang seni cadas sebagai salah satu penanda tertua perilaku manusia modern: kemampuan berpikir simbolis, mengekspresikan identitas, berkomunikasi lintas waktu, atau melakukan ritual.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Si Bolang: 7 Cerita dari Negeri Naga Purba

Rahasia di Balik Lukisan

Seri Misteri Favorit: Misteri Gua Jepang