Bayangkan terbang menempuh jarak 3.000 kilometer di atas lautan tanpa pernah mendarat, hanya tidur 42 menit sehari, namun tetap tiba dalam kondisi prima. Itulah kemampuan luar biasa burung frigatebird atau burung cikalang, dan kini sains telah mengungkap bagaimana mereka melakukannya.
Sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada 2016 membuktikan untuk pertama kalinya bahwa burung memang dapat tidur saat sedang terbang—meskipun hanya sebentar dan dengan cara yang sangat unik.
**Merekam Gelombang Otak di Atas Samudra Pasifik**
Tim peneliti yang dipimpin Niels C. Rattenborg dari Max Planck Institute memasang alat perekam gelombang otak (electroencephalogram/EEG) mini di kepala 14 ekor burung cikalang (Fregata minor) di Kepulauan Galapagos, Ekuador.
Burung-burung ini kemudian dilepas dan terbang bebas di atas Samudra Pasifik selama hingga 10 hari, menempuh jarak hingga 3.000 kilometer tanpa pernah hinggap di air.
Rekaman EEG mengungkap sesuatu yang mengejutkan: otak burung cikalang tetap bisa memasuki fase tidur gelombang lambat (slow wave sleep/SWS) bahkan di tengah penerbangan. Lebih mengagumkan lagi, mereka bisa tidur dengan dua cara—hanya satu belahan otak yang tidur (unihemispheric sleep) sementara belahan lainnya tetap terjaga, atau keduanya tidur bersamaan (bihemispheric sleep).
“Burung-burung ini terbukti dapat tidur dengan satu belahan otak dalam satu waktu, atau keduanya sekaligus, bahkan ketika sedang terbang di atas laut,” tulis para peneliti dalam makalah tersebut.
**Tidur Sambil Memutar Lingkaran di Langit**
Menariknya, tidur hampir selalu terjadi saat burung sedang soaring—melayang dalam gerakan melingkar memanfaatkan arus udara panas naik (thermal), bukan saat mengepakkan sayap.
Ketika tidur unihemispheric, mata yang terhubung ke belahan otak yang terjaga tetap terbuka dan mengarah ke arah terbang, memungkinkan burung tetap “melihat” ke mana ia melaju.
Temuan ini juga menjelaskan strategi aerodinamis yang cerdas: saat tidur, burung cenderung melayang lebih tinggi dan memanfaatkan termal, sehingga tidak perlu aktif mengepakkan sayap.
**Tidur Sangat Sedikit—Hanya 42 Menit Sehari**
Meski kemampuan tidur sambil terbang itu ada, jumlahnya sangat mengejutkan: frigatebird hanya tidur rata-rata sekitar 0,69 jam atau 42 menit per hari saat terbang—hanya sekitar 7,4 persen dari total tidur mereka ketika beristirahat di darat.
Di darat, burung yang sama bisa tidur hingga lebih dari separuh waktunya. Ini menantang anggapan lama bahwa burung memenuhi kebutuhan tidur penuhnya saat terbang. Kenyataannya, mereka memilih terjaga lebih lama karena tuntutan ekologis—mencari makan, memantau arus laut, dan menghindari tabrakan—jauh lebih mendesak daripada kebutuhan tidur.
Para peneliti menyebut bahwa studi ini menantang pandangan dominan bahwa tidur dalam jumlah besar setiap hari mutlak diperlukan untuk menjaga fungsi kognitif. Frigatebird membuktikan sebaliknya: dengan “power nap” singkat di udara, mereka tetap bisa berfungsi normal selama berhari-hari.
Pemahaman tentang mekanisme ini, demikian para peneliti, berpotensi membuka perspektif baru dalam penelitian gangguan tidur dan privasi tidur pada manusia.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: