Kerontokan rambut yang dapat menyebabkan kebotakan ternyata sering dipicu oleh tingkat stres yang tinggi. Selama ini, para ilmuwan mengalami kesulitan menunjukkan hubungan sebab-akibat yang meyakinkan antara stres dan kondisi autoimun tersebut. Kini, riset terbaru yang dimuat dalam jurnal Cell berhasil mengungkap keterkaitan ini melalui serangkaian eksperimen pada tikus.
**Motivasi Penelitian**
Ya-Chieh Hsu, ahli biologi regeneratif dari Harvard University dan rekan penulis studi, menjelaskan latar belakang penelitian ini.
“Pengetahuan kita masih terbatas tentang bagaimana stres membentuk ulang jaringan tubuh dan berkontribusi terhadap penyakit,” ungkap Hsu sebagaimana dikutip Live Science.
Tim peneliti memandang sel rambut sebagai model yang mudah diakses dan informatif untuk mempelajari bagaimana stres memengaruhi tubuh manusia.
**Sistem Saraf Simpatik Merusak Sel Rambut**
Stres dapat memengaruhi sel rambut yang sedang dalam fase pertumbuhan. Rambut tumbuh melalui sel yang berkembang biak dengan cepat, yang disebut hair follicle transit-amplifying cells (HF-TACs). Hsu dan rekan menduga HF-TACs sangat rentan terhadap stres.
Untuk menguji hipotesis ini, peneliti menyuntikkan tikus dengan resiniferatoxin—senyawa kimia mirip capsaicin (zat pedas pada cabai) yang mengaktifkan respons fight-or-flight. Dalam waktu 24 jam, tikus kehilangan 30 persen folikel rambutnya.
Para peneliti mengamati bahwa wilayah kulit tikus yang mengalami kematian HF-TACs paling banyak diperkaya dengan serat saraf simpatik, yang mengontrol respons fight-or-flight.
“Memblokir sinyal melalui saraf ini menghentikan kerontokan rambut,” catat studi tersebut.
**Badai Kalsium Menghancurkan Pembangkit Tenaga Sel**
Analisis mendalam mengungkap mekanisme spesifik mengapa saraf simpatik membunuh sel rambut:
**Ketergantungan Energi**: Sel HF-TACs yang tumbuh pesat sangat bergantung pada mitokondria—pembangkit tenaga internal mereka—untuk mendukung pertumbuhan yang cepat.
**Serangan Norepinefrin**: Stres memicu lonjakan norepinefrin (senyawa kimia yang dilepaskan saraf simpatik) yang kemudian mengaktifkan reseptor pada HF-TACs.
**Kerusakan Fatal**: Aktivasi ini membanjiri mitokondria dengan ion kalsium.
“Lonjakan kalsium mendadak merusak mitokondria ini,” kata Hsu. “Setelah ini terjadi, sel kehilangan kemampuan untuk mempertahankan fungsi penting—seperti produksi energi dan keseimbangan ion—dan mereka hancur.”
Proses ini, yang disebut nekrosis (kematian sel yang tidak terkontrol), menghancurkan sel-sel rambut.
**Peradangan Kronis Memicu Kekambuhan**
Kematian sel secara nekrosis ini memicu peradangan hebat di area sekitarnya, yang menyebabkan tikus menunjukkan peningkatan sel imun yang siap menyerang jaringan tubuhnya sendiri, seperti yang terlihat pada kerontokan berpola atau alopecia areata.
Hal paling misterius adalah mengapa alopecia areata dapat kambuh bertahun-tahun setelah episode stres awal.
**Mekanisme Kekambuhan Jangka Panjang**
Tim Hsu menemukan jawabannya dengan membiarkan tikus yang stres pulih. Ketika tikus yang sudah pulih kemudian terpapar sinyal inflamasi (misalnya, dari infeksi), sel imun kembali menyerang folikel rambut. Namun, hal ini tidak terjadi pada tikus yang tidak pernah mengalami stres sebelumnya.
“Ini memberikan penjelasan yang mungkin mengapa beberapa individu mengalami alopecia yang kambuh lama setelah episode stres awal,” kata Hsu.
**Implikasi untuk Pengobatan**
Meskipun studi ini dilakukan pada tikus laboratorium, pemetaan mekanisme ini menunjukkan beberapa langkah di mana intervensi medis berpotensi mengurangi dampak kerontokan rambut terkait stres dan autoimunitas di masa depan.
**Relevansi Klinis**
Temuan ini membuka peluang pengembangan terapi yang lebih tepat sasaran untuk mengatasi kerontokan rambut akibat stres, dengan memfokuskan pada jalur saraf simpatik dan perlindungan mitokondria.
**Target Terapi Potensial**
Penelitian ini mengidentifikasi beberapa titik intervensi potensial, termasuk penghambatan sinyal saraf simpatik, perlindungan mitokondria dari kerusakan kalsium, dan modulasi respons inflamasi.
**Kontribusi Ilmiah**
Studi ini memberikan kontribusi signifikan bagi pemahaman hubungan stres-sistem imun-kesehatan rambut, yang selama ini masih menjadi pertanyaan besar dalam dunia medis.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: