Belakangan, fenomena Bulan yang disebut-sebut semakin menjauh dari Bumi ramai diperbincangkan. Tak sedikit yang mengaitkannya dengan perubahan iklim ekstrem hingga ancaman bagi kehidupan manusia. Namun, benarkah jarak Bulan yang berubah ini membawa dampak besar bagi cuaca dan iklim Bumi?
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menegaskan bahwa fenomena tersebut sejatinya merupakan proses alamiah yang sudah lama terjadi dan dapat dijelaskan secara ilmiah melalui mekanisme orbit Bulan.
**Lintasan Elips, Bukan Lingkaran**
Sonni menjelaskan bahwa Bulan tidak mengelilingi Bumi dalam lintasan berbentuk lingkaran sempurna, melainkan elips. Akibatnya, jarak Bulan ke Bumi tidak selalu sama sepanjang waktu.
“Efek Bulan menjauh dari Bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi Bulan yang berbentuk elips. Dalam setiap periode revolusi, ada saat Bulan berada pada jarak terdekat yang disebut perigee, dan jarak terjauh yang dikenal sebagai apogee,” jelasnya.
Fenomena serupa juga terjadi pada Bumi ketika mengelilingi Matahari. Setiap tahun, Bumi mengalami perihelion (jarak terdekat dengan Matahari) sekitar Januari, dan aphelion (jarak terjauh) sekitar Juli. Artinya, perubahan jarak ini bukanlah kejadian luar biasa, melainkan bagian dari dinamika tata surya.
**Dampak Tidak Langsung pada Kehidupan**
Sonni menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Menurutnya, menjauhnya Bulan dari Bumi tidak menimbulkan dampak langsung terhadap manusia.
“Fenomena Bulan menjauh dari Bumi tidak berdampak langsung terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya baru terasa melalui mekanisme lain,” tuturnya.
Salah satu mekanisme tersebut adalah pasang surut air laut, yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi Bulan. Perubahan pasang surut dapat berdampak pada aktivitas nelayan, pelabuhan, dan wilayah pesisir, terutama terkait kenaikan muka air laut saat pasang maksimum. Namun, efek ini bersifat tidak langsung dan masih berada dalam batas alami yang dapat diprediksi.
**Pengaruh Terhadap Sistem Iklim Tidak Signifikan**
Dalam konteks sistem iklim, Sonni menilai pengaruh Bulan yang menjauh juga tidak signifikan secara langsung. Pasalnya, iklim bekerja dalam skala waktu yang panjang, mulai dari tahunan hingga puluhan bahkan ribuan tahun.
“Kalau terhadap sistem iklim tidak secara langsung, karena durasi iklim itu tahunan hingga puluhan tahun,” jelasnya.
Ia menyebut bahwa faktor eksternal yang jauh lebih berperan dalam perubahan iklim jangka panjang adalah perubahan orientasi Bumi terhadap Matahari, yang dikenal sebagai Siklus Milankovitch.
**Siklus Milankovitch: Faktor Utama Perubahan Iklim**
Siklus Milankovitch terdiri dari tiga komponen utama, yaitu:
Pertama, perubahan eksentrisitas orbit Bumi, dengan periode sekitar 100.000 hingga 400.000 tahun. Kedua, perubahan oblikuitas, atau kemiringan sumbu rotasi Bumi, yang terjadi setiap sekitar 41.000 tahun. Ketiga, presesi sumbu rotasi Bumi, yang berlangsung dalam siklus sekitar 26.000 tahun.
“Perubahan orientasi Bumi ini menyebabkan perubahan jumlah radiasi Matahari yang diterima Bumi sebagai sumber energi utama iklim. Dampaknya memengaruhi iklim dalam skala ribuan hingga ratusan ribu tahun,” urainya.
Dengan kata lain, fluktuasi iklim besar dalam sejarah Bumi—termasuk zaman es—lebih erat kaitannya dengan perubahan orbit dan posisi Bumi terhadap Matahari, bukan dengan jarak Bulan semata.
**Pengaruh Konstelasi Planet**
Selain orientasi Bumi, Sonni juga menyinggung peran konstelasi planet dalam tata surya. Dalam kondisi tertentu, ketika beberapa planet berada pada posisi konjungsi, gaya gravitasi gabungannya dapat memengaruhi atmosfer Bumi.
“Konstelasi planet dalam keadaan konjungsi bisa menyebabkan uap air terangkat, sehingga potensi pembentukan awan meningkat,” paparnya.
Karena peristiwa konjungsi planet terjadi dalam skala ratusan tahun dan berdampak global, fenomena ini berpotensi memicu perubahan dalam sistem iklim. Meski demikian, efeknya tetap berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang dan bukan sesuatu yang langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
**Dinamika Alam yang Normal**
Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi merupakan bagian dari dinamika alam semesta yang normal. Dampaknya terhadap manusia maupun iklim tidak bersifat langsung dan jauh lebih kecil dibandingkan faktor-faktor lain seperti orientasi Bumi terhadap Matahari.
Pemahaman ilmiah yang tepat menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh spekulasi atau informasi yang berlebihan. Alih-alih menimbulkan kekhawatiran, fenomena ini justru mengingatkan kita betapa kompleks dan teraturnya sistem alam yang menopang kehidupan di Bumi.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: