Bulan ternyata belum benar-benar “tenang”. Penelitian terbaru mengungkap bahwa satelit alami Bumi ini masih terus menyusut secara perlahan. Penyusutan tersebut memicu aktivitas tektonik yang membentuk ribuan punggungan kecil di permukaannya—dan berpotensi menjadi sumber baru gempa bulan (moonquake).
Temuan ini dipublikasikan dalam The Planetary Science Journal oleh tim ilmuwan dari National Air and Space Museum’s Center for Earth and Planetary Studies bersama sejumlah kolaborator.
Untuk pertama kalinya, mereka menyusun peta global dan kajian rinci tentang struktur yang disebut small mare ridges (SMRs), atau punggungan kecil di dataran gelap Bulan. Hasilnya menunjukkan bahwa Bulan masih aktif secara geologis—dan aktivitas itu lebih luas dari yang sebelumnya diperkirakan.
**Punggungan Kecil di Dataran Bulan**
Selama era misi Apollo, para ilmuwan telah lama mengenal keberadaan lobate scarps—tebing melengkung akibat tekanan kompresi—yang banyak ditemukan di wilayah dataran tinggi Bulan. Struktur ini terbentuk ketika kerak Bulan terdorong dan satu blok batuan naik di atas blok lainnya melalui patahan.
Namun penelitian terbaru menemukan bahwa fitur serupa juga tersebar luas di wilayah maria, yaitu dataran gelap luas yang terlihat jelas dari Bumi.
“Sejak era Apollo, kita telah mengetahui banyaknya lobate scarps di dataran tinggi Bulan. Namun ini adalah pertama kalinya para ilmuwan mendokumentasikan secara luas keberadaan fitur serupa di dataran maria Bulan,” ujar Cole Nypaver, penulis utama studi sekaligus ahli geologi pascadoktoral di Center for Earth and Planetary Studies.
**Kontraksi Global Berbeda dari Tektonik Bumi**
Baik Bumi maupun Bulan sama-sama mengalami aktivitas tektonik. Namun mekanismenya sangat berbeda.
Di Bumi, kerak terbagi menjadi lempeng-lempeng tektonik yang bergerak, bertabrakan, dan saling menjauh. Interaksi ini membentuk pegunungan, palung laut dalam, serta deretan gunung api seperti di Cincin Api Pasifik.
Sebaliknya, Bulan tidak memiliki sistem lempeng tektonik. Seluruh keraknya merupakan satu lapisan utuh. Aktivitas tektonik di Bulan terjadi karena tekanan internal yang menumpuk, bukan akibat pergerakan lempeng.
**Penyusutan Akibat Pendinginan Interior**
Tekanan ini muncul karena bagian dalam Bulan terus mendingin. Saat interiornya mendingin, volumenya menyusut. Akibatnya, permukaan Bulan ikut mengerut dan mengalami gaya kompresi.
Pada 2010, ilmuwan Tom Watters melaporkan bahwa Bulan memang perlahan menyusut akibat proses pendinginan ini. Penyusutan tersebut memicu pembentukan lobate scarps di dataran tinggi. Namun struktur itu ternyata bukan satu-satunya bukti kontraksi Bulan.
**2.634 Struktur Baru Teridentifikasi**
Dalam studi terbaru, tim peneliti menyusun katalog komprehensif pertama untuk SMRs. Mereka mengidentifikasi 1.114 segmen SMR yang sebelumnya belum dikenali di sisi dekat (near side) Bulan.
Dengan penemuan ini, jumlah total SMR yang diketahui di Bulan meningkat menjadi 2.634 struktur.
**Fitur Geologi Relatif Muda**
Analisis usia menunjukkan bahwa rata-rata SMR berumur sekitar 124 juta tahun. Angka ini sangat dekat dengan usia rata-rata lobate scarps yang sekitar 105 juta tahun.
Artinya, baik SMRs maupun lobate scarps termasuk fitur geologi yang relatif muda dalam sejarah Bulan—sekitar 20 persen terakhir dari sejarah geologinya yang panjang.
**Asal-Usul yang Sama**
Penelitian juga menemukan bahwa SMRs terbentuk pada jenis patahan yang sama dengan lobate scarps. Di beberapa lokasi, tebing di dataran tinggi bahkan terlihat bertransisi menjadi SMR saat memasuki wilayah maria.
Hal ini menguatkan dugaan bahwa keduanya memiliki asal-usul yang sama: kontraksi global akibat penyusutan Bulan.
“Kami mendeteksi punggungan kecil muda di wilayah maria dan menemukan penyebabnya, sehingga melengkapi gambaran global tentang Bulan yang dinamis dan sedang menyusut,” kata Watters.
**Zona Gempa Bulan Meluas**
Temuan ini bukan sekadar soal bentuk permukaan. Penelitian sebelumnya telah mengaitkan pembentukan lobate scarps dengan kejadian gempa bulan yang pernah terekam.
Karena SMRs terbentuk melalui mekanisme patahan yang sama, para ilmuwan menyimpulkan bahwa gempa bulan kemungkinan juga terjadi di wilayah maria—di mana pun punggungan kecil ini ditemukan.
Dengan kata lain, zona potensi gempa bulan kini diketahui jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya.
**Implikasi untuk Misi Artemis**
Pengetahuan ini penting dalam dua aspek: secara ilmiah, karena membantu peneliti memahami struktur interior, sejarah termal, dan evolusi tektonik Bulan; dan untuk keselamatan misi, karena aktivitas seismik berpotensi memengaruhi lokasi pendaratan dan pembangunan habitat masa depan.
Saat ini, eksplorasi Bulan memasuki babak baru. Program Artemis yang dipimpin NASA berencana mengirim kembali astronaut ke Bulan dan bahkan membangun kehadiran jangka panjang di sana.
**Mendukung Keselamatan Eksplorasi Masa Depan**
Dalam konteks ini, memahami risiko gempa bulan menjadi sangat krusial.
“Kita berada dalam masa yang sangat menarik bagi ilmu dan eksplorasi Bulan,” ujar Nypaver. “Program eksplorasi Bulan mendatang seperti Artemis akan memberikan banyak informasi baru tentang Bulan kita. Pemahaman yang lebih baik tentang tektonik dan aktivitas seismik Bulan akan langsung mendukung keselamatan dan keberhasilan ilmiah misi-misi tersebut.”
Temuan ini mengubah pandangan lama bahwa Bulan adalah benda langit yang sudah tidak aktif secara geologis. Sebaliknya, satelit alami Bumi ini masih terus berevolusi, meski dengan kecepatan yang sangat lambat dibandingkan planet induknya.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: